Selasa, 17 September 2013

Al Qamah

Kisah Si Anak Durhaka, Al Qamah, Benarkah?

Kisah ini sering kita dengar disampaikan oleh guru-guru agama di surau dan di sekolah, untuk mendidik anak-anak agar mereka tidak berdurhaka kepada kedua orang tua.
Demikian ini bunyi haditsnya:
وعن عبد الله بن أبي أوفى ، رضي الله عنه ، قال : كنا عند النبي صَلى الله عَلَيه وسَلَّم فأتاه آت ، فقال : شاب يجود بنفسه ، قيل له : قل : لا إله إلا اللّه. فلم يستطع. فقال : كان يصلي ؟ قال : نعم. فنهض رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم ونهضنا معه فدخل على الشاب ، فقال له : قل : لا إله إلا اللّه , فقال : لا أستطيع ، قال : لم ؟ قال : كان يعق والدته. فقال النبي صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : أحية والدته ؟ قالوا : نعم ، قال : ادعوها , فجاءت ، فقال : هذا ابنك ؟ فقال : نعم , فقال لها : أرأيت لو أججت نار ضخمة ، فقيل لك : إن شفعت له خلينا عنه وإلا حرقناه بهذه النار أكنت تشفعين له ؟ قال : يا رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم ، إذًا أشفع ، قال : فأشهدي الله وأشهديني أنك قد رضيت عنه ، قال : اللهم إني أشهدك وأشهد رسولك أني قد رضيت عن ابني , فقال له رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : يا غلام ، قل : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله , فقالها ، فقال رسول الله صَلى الله عَلَيه وسَلَّم : الحمد للّه الذيما أنقذه بي من النار.
Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Kami pernah berada bersama  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu datanglah seseorang, ia  berkata, “Ada seorang pemuda yang nafasnya hampir putus, lalu  dikatakan kepadanya, ucapkanlah Laa ilaaha illallah,akan tetapi ia  tidak sanggup mengucapkannya.” Beliau bertanya kepada orang itu,” Apakah anak muda itu masih menjalankan shalat?” Jawab orang itu,”Ya.” Lalu Rasulullah  Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bangkit berdiri dan kami pun berdiri  besama beliau, kemudian beliau masuk menemui anak muda itu, beliau  bersabda kepadanya,”Ucapkan Laa ilaaha illallah.” Anak muda itu  menjawab, “Saya tidak sanggup.” Beliau bertanya, “Kenapa?” Dijawab oleh orang lain, “Dia telah durhaka kepada ibunya.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah ibunya masih hidup?”  Mereka menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Panggillah ibunya kemari,” Lalu datanglah ibunya, maka belaiu bersabda, “Ini anakmu?” Jawabnya, “Ya.” Beliau bersabda lagi kepadanya, “Bagaimana  pandanganmu kalau sekiranya dibuat api unggun yang besar lalu  dikatakan kepadamu: Jika engkau memberikan syafa’atmu  (yaitu memaafkannya, pen) kepadanya niscaya akan kami lepaskan  dia, dan jika tidak pasti kami akan membakarnya dengan api, apakah engkau  mau memberikan syafa’at kepadanya?” Perempuan itu menjawab, “Kalau begitu, aku akan memberikan syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda,” Maka Jadikanlah Allah sebagai saksinya dan  jadikanlah aku sebagai saksinya sesungguhnya engkau telah meridhai anakmu.” Perempuan itu berkata, “Ya Allah sesungguhnya aku  menjadikan Engkau sebagai saksi dan aku menjadikan RasulMu sebagai saksi sesungguhnya aku telah meridhai anakku”. Kemudia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada anak muda itu, “Wahai anak muda ucapkanlah Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna muhammada ‘abduhu wa rasuluhu.” Lalu anak muda itupun dapat mengucapkannya. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dirinya  dari api neraka, lantaran diriku.”
Imam Al Bushiri Rahimahullah mengomentari hadits ini:
رواه أحمد بن منيع ، والطبراني واللفظ له ، وعبد الله بن أحمد بن حنبل ، وقال : لم يحدث أبي بهذا الحديث ، ضرب عليه من كتابه لأنه لم يرض حديث فائد بن عبد الرحمن ، وكان عنده متروك الحديث.
قلتُ : وضعفه ابن معين وأبو حاتم ، وأبو زرعة والبخاري ، وأبو داود والنسائي ، والترمذي وغيرهم ، وقال الحاكم : روى عن ابن أبي أوفى أحاديث موضوعة.
Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, Ath Thabarani –dan ini adalah lafaz miliknya-, dan Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia berkata: “Ayahku (Imam Ahmad) belum pernah membicarakan hadits ini, Beliau menghilangkannya dari kitabnya, karena beliau tidak ridha dengan hadits Faaid bin Abdurrahman. Menurutnya (Imam Ahmad), Faaid adalah matrukul hadits – haditsnya ditinggalkan.
Aku (Al Bushiri) berkata: “Dia didhaifkan oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Al Bukhari, Abu Daud, An Nasa’i, At Tirmidzi, dan selain mereka. Al Hakim berkata: diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Aufa hadits-hadits palsu.” (Imam Al Bushiri, Az Zawaid, No. 5039)
Imam Al Haitsami juga mengatakan demikian:
رواه الطبراني وأحمد بأختصار كثير وفيه فائد أبو الورقاء وهو متروك
Diriwayatkan oleh Ath Thabarani dan Ahmad dengan banyak diringkas, dan di dalam sanadnya terdapat Faaid bin Abdurrahman Abu Al Waraqa’, dan dia adalah matruk. (Majma’ Az Zawaid, 8/148)
Syaikh Al Albani mengatakan tentang hadits ini: dhaif jiddan. (Dhaif Targhib wat Tarhib, No. 1487)
Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa hadits ini tidak sah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam sanadnya terdapat Faaid. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan: matrukul hadits. Yahya mengatakan: “Bukan apa-apa.” Ibnu Hibban mengatakan: “tidak boleh berhujjah dengannya.” Al ‘Uqaili mengatakan: “Tidak ada yang menjadi mutaba’ah (penguat) hadits ini, kecuali dari orang yang seperti dia juga.”
Dalam sanadnya juga terdapat Daud bin Ibrahim. Imam Abu Hatim mengatakan: Dia berdusta. (Lihat Al Maudhu’at, 3/87)
Maka jelaslah bahwa hadits ini tidak sah disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang diterangkan para imam muhadditsin.
Catatan:
Al Qamah adalah sahabat Nabi, dan belum pernah ada riwayat shahih yang menunjukkan bahwa sahabat nabi durhaka kepada orang tuanya, apalagi terhadap ibu mereka. Hadits ini pun juga menjadi pembunuhan karakter terhadap kepribadian sahabat nabi.
Selain itu, masih banyak cara untuk mendidik manusia untuk berbakti kepada orang tua mereka, yaitu dengan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits yang shahih. Maka, cukupkanlah diri kita dengan keduanya, bukan kisah-kisah yang tidak jelas kebenarannya.
Sekian. Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain
Farid Numan Hasan

Jumat, 13 September 2013

Ajal




http://www.dudung.net/images/quran/2/2_155.png
walanabluwannakum bisyay-in mina alkhawfi waaljuu'i wanaqshin mina al-amwaali waal-anfusi waaltstsamaraati wabasysyiri alshshaabiriina
[2:155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.


http://www.dudung.net/images/quran/7/7_34.png
walikulli ummatin ajalun fa-idzaa jaa-a ajaluhum laa yasta/khiruuna saa'atan walaa yastaqdimuuna
[7:34] Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu537; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.






http://www.dudung.net/images/quran/56/56_83.png
falawlaa idzaa balaghati alhulquuma
[56:83] Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,



http://www.dudung.net/images/quran/56/56_84.png
wa-antum hiina-idzin tanzhuruunaa
[56:84] padahal kamu ketika itu melihat,



http://www.dudung.net/images/quran/56/56_85.png
wanahnu aqrabu ilayhi minkum walaakin laa tubshiruuna
[56:85] dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat


http://www.dudung.net/images/quran/67/67_2.png
alladzii khalaqa almawta waalhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalan wahuwa al'aziizu alghafuuru
[67:2] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Kamis, 05 September 2013

Amalan penyebab dihapusnya dosa-dosa.



Amalan penyebab dihapusnya dosa-dosa.
1)  إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ 
     ( Wudhu yang sempurna  dengan cara menunaikan  syarat dan rukunnya )
 
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يُسْبِغُ الْوُضُوْءَ عَبْدٌ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.
Bersabda Rosulullah saw:  “ Tidaklah seorang hamba menyempurnakan  wudlu’  melainkan Allah  akan mengampuni dosanya awal dan akhir”.

2) اَلسَّعْيُ فِيْ حَاجَةِ الْمُسْلِمِ 
       ( Berusaha memenuhui kebutuhan orang  Islam )

وَ فِي الْحَدِيْثِ،  أَنَّ مَنْ سَعَى لأَخِيْـهِ الْمُسْلِمِ فِيْ حَاجَةٍ قُـضِيَتْ لَهُ  أَوْ لَـمْ تُقْضَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَاتَأَخَّرَ وَكُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ .                         
Di dalam hadits : “ Bahwa orang yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya yang muslim, baik berhasil memenuhi atau tidak, maka ia terampuni dosanya awal dan akhir, dan di tulis baginya dua pembebasan,  1. Pembebasan dari api neraka     2. Pembebasan dari sifat munafik”.

3)  صَلاَةُ الضُّحَى  (Sholat Dhuha)   
وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ مَنْ صَلاَّهَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ إِلاَّ الْقِصَاصُ .
Sungguh telah diriwatkan  , bahwa orang yang melakukan sholat tersebut ( sholat Dhuha )  diampuni dosanya awal dan akhir kecuali qhisos.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ .                       
Dari Abu Huroiroh ra dari Nabi saw, beliau bersabda  :          
“Barang siapa menjaga dua rakaat Dhuha maka terampuni dosanya sekalipun sebanyak buih lautan”.

4)  أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ لُبْسِ الثَّوْبِ  ( Membaca doa ketika berpakaian )
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى كَسَانِيْ هَـذَا وَرَزَقَـنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَـوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ . 
Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepada saya pakaian ini, dan memberi rizki   kepada saya tanpa daya dan kekuatan dari saya”.
Di dalam hadits disebutkan bahwa barang siapa membaca doa tersebut setelah berpakaian, maka Allah akan mengampuni dosanya awal dan akhir.
  أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ اْلأَكْلِ  ( Membaca doa ketika selesai makan )
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِيْ هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَـنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kepada saya makanan ini, dan memberi rizki  kepada saya tanpa daya dan kekuatan dari saya”
Di dalam hadits disebutkan bahwa barang siapa membaca doa tersebut setelah makan , maka Allah akan mengampuni dosanya awal dan akhir

    5) اَلتَّأْمِـيْنُ فِي الصَّلاَةِ 
       ( Bersamaan  dengan imam  dalam membaca “amiin “ waktu sholat )
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَـالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَمَّـنَ اْلإِمَامُ فَأَمِّـنُوْا فَـإِنَّ الْمَلآئِكَةَ تُؤَمِّنُ، فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ الْمَلآئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ .
Dari Abi Huroiroh ra berkata, bersabda Rosulullah saw :
        “ Jika imam membaca “ amiin “  maka hendaklah kalian membaca amiin bersama-sama karena malaikat juga mengamini, barangsiapa  orang yang bacaan amiin-nya tepat dengan amiin-nya malaikat, maka akan diampuni dosanya awal dan akhir"

6) إِجَـابَةُ الْمُؤَذِّنِ     ( Menjawab adzan ) 
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ يَقُوْلُ.. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ....قَالَ أَشْـهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، رَضِـيْتُ بِاللهِ رَبًـا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا...، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  وَمَا تَأَخَّرَ .        
Bersabda Rosulullah saw : 
“  Barang siapa ketika mendengar muadzin   berkata .. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ الله
lantas ia menjawab
أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا .
maka diampuni dosanya awal dan akhir”.

7) تَعْلِيْمُ الرَّجُلِ وَلَدَهُ الْقُرْآنَ                     
  (Orang yang mengajarkan Al Qur’an pada anaknya )
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :            
مَنْ عَلَّمَ ابْنَهُ الْقُرْآنَ نَظَرًا غُفِرَ لَهُ مَـا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَـأَخَّرَ، وَمَنْ عَـلَّمَ إِيَّـاهُ ظَاهِرًا بَـعَثَ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ .                                                   
Dari  sahabat Anas ra berkata , bersabda Rosulullah saw :
  “Barang siapa mengajarkan Al Qur’an pada anaknya dengan cara melihat maka terampuni dosanya awal dan akhir, dan barang siapa mengajarkan Al Qur’an pada anaknya dengan cara hafalan maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat seperti bulan purnama  “.

8) مُصَافَحَةُ  الْمُسْلِمِ

( Berjabat tangan sesama muslim dengan membaca shalawat)   
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَـا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ وَيَتَصَافَحَانِ وَيُصَلِّـيَانِِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ لَمْ يَفْـتَرِقَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُمَا ذُنُوْبُهُمَا مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَمَا تَـأَخَّرَ .                                     
Bersabda Rosulullah saw :
 “Tidak ada dua orang muslim yang bertemu lantas berjabat tangan dengan membaca sholawat kepada Nabi saw, melainkan tidak berpisah keduanya sehingga diampuni bagi keduanya dosa-dosa awal dan akhir”.
  

9) الْقِرَاءَةْ بَعْدَ الْجُمْعَةِ
Membaca Surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas, masing-masing 7 x 
ba’da sholat Jum’at.
رَوَى أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ :     
مَنْ قَرَأَ إِذَا سَلَّمَ اْلإِمَامُ مِنْ صَلاَةِ الْجُمْعَةِ قَبْلَ أَنْ يَثْنِيَ رِجلَهُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ  وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ سَبْعًا  سَبْعًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وَأُعْطِيَ  مِنَ اْلأَجْرِ بِعَدَدِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ.
Telah meriwayatkan sahabat Anas ra dari Nabi saw, beliau bersabda:
 “Barang siapa jika Imam sudah bersalam dari sholat Jum’at lantas membaca Surat Al Fatihah, Al Ikhlas,    Al Falaq, dan An Naas masing-masing 7 kali  dan sebelum merobah kakinya maka terampuni dosanya awal dan akhir serta di beri pahala sejumlah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir “

10) ذِكْرُ اللهِ     ( Dzikir) 
وَفِى الْحَدِيْثِ،  أَنَّ مَنْ سَبَّحَ مِائَةً وَحَمِـدَ مِائَةً وَكَبَّرَ مِائَةً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه وَمَا تَأَخَّرَ.
Di dalm hadits :  “Barang siapa bertasbih (Subhanallah) 100  kali, bertahmid (Alhamdulillah) 100 kali, dan bertakbir (Allahu Akbar) 100 kali , maka diampuni dosanya awal dan akhir “ .

(dari Kitab Khosois Ummah Muhammadiyah Al Muhaddits Sayyid Muhammad Al Maliki)