Rabu, 09 Mei 2018

MEMBANGUN MASJID DAN PESANTREN DI DALAM TANAH

MEMBANGUN MASJID DAN PESANTREN DI DALAM TANAH (Goa)

Juli 21, 2013 · by andikisahnyata news · Bookmark the permalink

Sebuah pondok pesantren didirikan tidak di atas tanah, tapi justru dibangun di dalam tanah, atau did lam gua. Inilah yang akhirnya mengundang perhatian publik. Memang lazimnya sebuah pondok pesantren atau tempat belajar agama dibangun di atas tanah. Tapi Pondok Pesantren Perut Bumi Syeh Maulana Magribi ini, justru dibangun di dalam gua.

Di pondok pesantren ini menjadi tempat untuk menggembleng orang-orang yang ingin belajar ilmu agama Islam. Segala pengetahuan tentang Al-Quran dan Hadist, diajarkan disini. Pondok pesantren yang berada di Jalan Kembar Kedungombo, Desa Wire, Kelurahan Kedungombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini, didirikan oleh tokoh bernama KH Subchan Al Mubarok (74).


Menurut pendiri yang sekaligus pengasuh tunggal pondok pesantren ini, ide pendirian pondok di dalam tanah tersebut, berawal dari wisik yang diterimanya. Tepat di malam 1 Suro tahun 2001 dulu. Berawal dari wisik itulah, Kyai yang akrab disapa Abah ini, lantas memutuskan untuk membeli tanah yang kemudian didirikan bangunan pondok dibawahnya. Sedangkan di bagian atas tanahnya, dia bangun rumah pribadi.

“Tapi itu prosesnya masih panjang. Setelah dapat wisik, saya masih melakukan sholat istiqaroh. Untuk memastikan wisik yang saya terima itu, apa betul adanya,” ujar Abah yang ditemui Kisah Nyata beberapa waktu lalu. Setelah melakukan sholat istiqaroh, selama tiga tahun berturut-turut, barulah Abah meyakini bahwa wisik yang diterimanya itu, memang betul adanya. Sejak itu, dia pun membeli tanah tersebut.

“Saya diberitahu , bahwa didalam tanah ini ada gua yang sering digunakan para Wali untuk tafakkur. Secara tidak langsung banyak karomah yang ditinggalkan para waliullah disini,” ungkapnya. Saat pertama kali dibeli, tanah ditempat ini masih kotor dan tidak terawat. Lokasinya dulu digunakan untuk tempat pembuangan sampah oleh warga. Selain itu, juga mejadi sarang dari beberapa jenis ular.


 “Sama sekali tidak kelihatan kalau ada guanya. Setelah saya beli, saya cari tahu dengan teliti. Dan akhirnya ketemu. Gua itu memang benar-benar ada. Dari situ saya akhirnya mendirikan pondok pesantren di dalam gua. Harapan saya, orang-orang yang belajar agama disini, akan lebih cepat menerima ilmu, karena dibantu oleh karomah para waliullah,” ujar Abah.

Pembangunan pondok di dalam goa ini, mulai dilakukan pada tahun 2003. Setahun setelah itu, pondok mulai menerima kehadiran santri yang ingin belajar atau mendalami ilmu agama Islam. “Waktu awal saya temukan gua ini, sempat dipermasalahkan sama Pemkab Tuban,” terangnya. Ya, mendirikan pesantren didalam goa, bukanlah tanpa hambatan. Saat Abah masih merencanakanpendirian pondok, Bupati dan Pemerintah Daerah (Pemda) Tuban melarangnya, dengan alasan gia tersebut adalah aset Negara.

Tapi, saat itu Abah tak gentar. Dia bahkan menentang dengan tegas larangan yang dilontarkan oleh Bupati Tuban kala itu, yakni Haeny Rini Widyastuti.

Abah tetap teguh dengan pendiriannya untuk membangun pesantren di dalam goa. Dengan nada keras Abah mengancam akan melawan Pemda atau siapa pun yang berani mengambil alih goa temuannya. Alasannya, karena gua tersebut berada di lahan yang berstatus miliknya. Kasus ini pernah ramai menjadi berita di media massa. “Lama kelamaan, orang-orang yang menentang itu mundur sendiri. Bahkan semakin banyak orang yang simpati dengan saya,” kenang Abah.

Habis Triliunan Rupiah

Memasuki Pondok Pesantren Perut Bumi Syeh Maulana Magribi, siapapun pasti akan berdecak kagum. Ruangan gua, benar-benar telah disulap menjadi sebuah kamar-kamar indah, dengan lantai penuh keramik dan hiasan lampu warna-warni. Tidak hanya pesantren. Di dalamdisalah satu lorong gua ini juga terdapat bangunan masjid. Abah menamakannya Masjid Syahibbul Kahfi. Daya tampung masjid ini cukup besar. Bisa lebih dari 600 orang jamaah.


Tepat dibelakang masjid, terdapat lobang pintu denga sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk ritual semedi. Disudut sebelah kiri di dalam masjid tersebut, juga terdapat sebuah gua lagi, yang diberi nama Ga Putri Ayu. “Nama Putri Ayu saya ambil, karena itu memang nama salah satu penghuni gaib disini,” tandasnya.

Sebelah kanan mulut Gua Putri ayu terdapat sebuah kamar berkarpet biru yang biasa digunakan Abah untuk menerima tamu, lengkap dengan toilet di dalamnya. Sedangkan di sebelah utara gerbang utama terdapat satu lorong. Di kanan-kiri lorong terdapat lobang-lobang gua dengan lantai terplester. Lobang-lobang inilah yang selama ini digunakan untuk kamar para santri.

Sebelah kanan lorong terdapat ruangan kecil tertutup, yang jarang dibuka. Ruangan kecil itu difungsikan sebagai ruang bermunajad. Tak jauh dari tempat itu terdapat ruangan khusus dengan lantainya di hiasi karpet tebal. Ruangan dengan ukuran 4X5 m ini, biasa digunakan oleh Abah, untuk menerima tamu-tamu penting.

Lalu, di balik ruangan ini masih terdapat gua-gua yang lain. Diantaranya ada Gua Sunan Kalijaga, Gua Syeh Jangkung, Gua Syeh Maulana Magribi, dan lain sebagainya. Ketiga nama itu diyakini pernah bertapa di gua ini. Di ruangan lain terdapat gua yang beratap rendah. Ruangan ini difungsikan untuk Taman Pendidikan Al Quran (TPA), khusus bagi anak-anak kecil warga sekitar. Lantas berapa biaya yang dikeluarkan Abah untuk menyulap gua menjadi pesantren dan masjid ini?

Meski tidak pernah merinci sendiri, namun Abah mengaku pernah kedatangan seorang ahli bangunan dari Jakarta. Dia datang karena merasa tertarik dengan cerita temannya yang pernah berkunjung ke tempat ini. “Waktu itu dia hitung semua. Katanya total uang yang sudah saya keluarkan mencapai trilyunan rupiah,” ungkap Abah. Apa yang disampaikan oleh ahli bangunan ini, tidak di mungkiri oleh Abah. Bahkan saat ini saja, pembangunan masih dilakukan. Total dana tukang yang dikeluarkan setiap bulannya, rata-rata mencapai Rp 68 juta.

“Itu semua belum makan dan rokok yang juga kami tanggung. Wong setiap harinya juru masak ponpes Perut Bumi khusus memasak untuk tukang saja bisa habis 35 kilogram beras,” ungkapnya. Sejak dibangun 10 tahun silam, pondok pesantern ini pun terus mengalami perkembangan. Tidak hanya bangunannya yang semakain bertambah megah, tapi juga tamu yang datang juga semakin banyak jumlahnya.

Selain dikunjungi oleh warga biasa, tidak sedikit diantaranya dari kalangan pejabat dan pengusaha kaya. Sebagian lagi juga orang-orang penting dari negara lain. Seperti pejabat dari Australia, Mesir, Irak, Kuait, dan Yaman. “Kalau dilihat dari luar memang terlihat sangat kecil, seperti hanya untuk jalan keluar-masuk saja, tapi di dalam sebenarnya sangat luas. Hampir sebahagian besar bagunannya dilapisi marmer,” Kata Abah.

Santri Tidak Dipungut Biaya

Mengenai para snatri yang belajar mengaji di pondok dalam tanah ini Abah mengaku tidak pernah memungut biaya alias gratis. Bahkan mereka mendapat jatah makan senilai Rp. 25 ribu perharinya. Abah juga tidak pernah membeda-bedakan santri yang akan belajar. Tidak peduli mereka yang memiliki latar belakang buruk, Abah tetap mau menerimanya. Bahkan Abah mengakui, jika santri yang belajar di tempatnya, mayoritas memiliki latar belakang yang kurang baik. Ada yang bekas pecandu, bajing loncat, pencuri, pembunuh, perampok, dan lain sebagainya.

Saat ini, total yang tersisa tinggal 27 santri. Lainnya memutuskan untuk keluar, setelah merasa memiliki bekal agama yang cukup. Bahkan ada yang akhirnya menjadi seorang muballiq. Menurut Abah, semua santri diwajibkan bangun setiap pagi pukul 03.00, untuk  mengikuti istighosah bersama, sampai waktu subuh tiba. Dilanjutkan dengan Sholat Subuh. Setelah itu, dilanjutkan dengan wirid dan mengaji sampai pagi.

“Pas pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, untuk semua santri sudah disediakan mie dan kopi untuk sarapan bersama,” ujar Abah. Sedang metode Pendidikan Pondok Pesantren Perut Bumi mengacu pada kurikulum Ponpes Langitan. Di sini kitab kuning, fiqih (hukum Islam), ilmu Hikmah, tasawuf (mistik Islam), serta ilmu kanuragan (bela diri) dan tenaga dalam diajarkan untuk para santri.

Tujuan dari semua itu, untuk membina santri agar berakhlak bagus dan berbudi luhur.  “Intinya tempat ini bukanlah tempat tujuan wisata. Tempat ini juga bukan sebuah gua yg biasa dikeramatkan dengan sesaji layaknya tradisi di Pulau Jawa. Di sinilah tempat Para Santri digembleng belajar Ilmu Agama Islam (Tauhid),” ujarnya.

Selain untuk mengaji, pada malam Jumat Pon, tepat jam 12 malam di pesantren ini biasa diadakan isthigosah (dzikir dan doa bersama) yang terbuka untuk umum. Siraman ruhani dan pesan-pesan kedamaian sering diutarakan Abah kepada para tamunya.


Ada Kamar Khusus Bagi Pasien Yang Belum Punya Anak

Dipondok pesantren ini juga terdapat sebuah kamar khusus. Kamar ini disediakan untuk  pasangan yang ingin segera mendapat momongan. Untuk tinggal disana, Abah tidak memungut biaya alias gratis. Bahkan semua kebutuhan sudah ditanggung oleh pondok.

Menurut pengakuan Abah, sudah banyak pasangan suami isteri yang berhasil memiliki momongan, tak lama setelah mereka tinggal di kamar khusus ini. Padahal diantaranya ada yang sidah menikah puluhan tahun, tapi si isteri belum juga hamil. “Hampir bisa dibilang hanya satu persen yang tidak berhasil. Karena setiap para pasanagn itu jika hamil mereka biasanya kembali untuk silaturrahmi kemari, jadi saya tahu,” ujar Abah.

Dikamar Khusus ini pasangan suami isteri harus menetap selama 9 hari. Mereka tidak boleh keluar dari dalam kamar. Artinya, seluruh aktifitas harus dilakukan di dalam kamar, mulai ibadah, MCK, dan lain sebagainya. “Soal kebutuhan makan dan lain-lain, ditanggung sama pondok. Semua tidak dipungut biaya alais gratis. Siapapun yang mau monggo, silahkan,” tuturnya.*** 

https://andikisahnyata.wordpress.com/2013/07/21/membangun-masjid-dan-pesantren-di-dalam-tanah/


NOTULEN RAPAT

*Notulen Rapat*
Tanggal 8 MeiNotulen 2018
Acara : Rapat Bulan Ramadan
Tempat : MNA (Masjid Nurul Abror) RW O5 Mejasem Barat

1. *Peremajaan Pengurus PHBI*
Ketua: Rusdi, S.Pd.SD.
Anggota PHBI
a. Moh Karmen
b. Ali Machali
c. Ustadz dedi,
d. Heriyanto,
e. Yudi,
f. Wiwit

2. *Panitia Bulan Ramadan,  Nuzulul Quran, Zakat, dan Salat Idul Fitri*
Ketua : H. Suryono
Anggota: copy paste th lalu

3.  *Petugas Pengawal Salat Jamaah Anak* di masjid :
a. Bambang Oedomo
b. Moh Alip Zainal Arifin

*_ketentuan_*:
1) salat anak anak di baris paling belakang jamaah laki2 dewasa
2) anak yg masih ribut saat salat jamaah , salatnya diatur di shaff teras luar oleh *Petugas Pengawal Salat Anak*
3. Orang tua yg harus salat jamaah beserta Anak Balita hendaknya tidak di shaff paling depan, lebih bail lagi masuk sebagai Petugas Pengawal Salat berjamaaah anak

4. *Pengarahan Pengurus Masjid di hari pertama sebelum Salat Tarawih* disampaikan oleh
*Ust. Wartono, S.Pd.I*
inti Pengarahan adab (7menit)
a. adab bagi anak ke masjid
b. adab bagi orang tua yang menyuruh anaknya ke masjid

5  *Muadzin Tetap* di masjid Nurul Abror adalah
a. ust. Tohirun
b. Darham
c. M. Mufidz
d. Moh. Alip Zainal Arifin
e. Jamaah jika tdk ada semua

6. *Tadarus Quran bagi anak* TPQ di Masjid*
a. harus ada pembimbing guru,
b. Pembimbing minimal alumnus TPQ lulusan SLTA
c.Tadarus boleh dihentikan dan dimatikan spekernya jika tanpa pembimbing.

7. *Panitia Zakat Mal Masjd* dengan amanat insya Alloh akan menyalurkan zakat mal jamaah ke lingkungan Masjid Nurul Abror. ketua copy paste th lalu H Suryono dan anggota crew

zakat mal sebaiknya diberikan minimal ke 3 lingkungan kita, dan lebih baik lagi lengkap 8 golongan (ashnaf) setidaknya :
a. *lingkungan Saudara* (LS), kakak, adik, paman, bibi, intinya keluarga kita bukan satu rumah yang tdk mampu
b. *Lingkungan Rumah* (LR), tetangga kita yv tdk mampu, sebaiknya melalui Panitia Zakat Mql Masjid Nurul Abror (supaya mustahiq tidak saling tumpang tindih )
c. *Lingkungan Kerja* (LK)
petugas kebersihan, pak kebon, dll yg tdk mampu

8. *Panitia zakat Fitrah Masjid* tahun ini copy paste th lalu H Suryono dan anggota

9. Pembicara Peringatan Nuzul Quran dan imam khotib Salat Iedul Fitri diatur panitia PHBI

10. *Membuat Spanduk Pembangunan Lantai Atas*

dengan maksud dan tujuan:
a. Pemberitahuan Umum bahwa sedang ada pekerjaan lantai atas masjid.
b. Menggugah jamaah agar lebih semangat dan bangkit dalam sadaqoh, infaq, jariyah, wakaf dalam membela pembangunan rumah Allah di bumi (masjid)
c.  Spanduk berisi tulisan sbb:

*LELANG WAKAF* (besar)
bangunan ini dibiayai dari sadaqoh, infaq, jariyah, wakaf anda

sedang ada pekerjaan pengecoran struktur
*LANTAI ATAS* (besar)
Masjid Nurul Abror

WAKAF BANGUNAN (besar)
500 ribu/m2

Hubungi:
H. Amir Effendi, S.Ag (no telp)
H. Sulitiono .S.Pd (no telp)
Bp. Rusdi, S.Pd .SD (no telp)
Drs. Bambang Sekti Sp, MM (no telp)

11. Materi Ramadan dari tgl 1-30 supaya di berikan ke penceramah.
a. materi boleh diganti penceramah jika diperlukan
b batas maksimal kultum salat tarweh hanya 7 menit
c batas maksimal kuliah subuh 30-45 menit

mohon maaf barangkali msh ada yg tertinggal/ kurang lengkap
🙏🙏🙏
#############

Senin, 07 Mei 2018

Doa-Doa Khatam Al-Quran pembuka gerbang kebajikan

Doa-Doa Khatam Al-Quran pembuka gerbang kebajikan

Tak banyak yang tahu, salah satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa adalah
ketika khatam Al-Quran. Ini merupakan satu di antara pintu-pintu untuk mendapatkan kelapangan dalam hidup.
Dalam beberapa riwayat yang shahih, sebagaimana yang disebut­kan dalam kitab Abwab al-Faraj, karya Sayyid Muhammad bin Alwi AI-Maliky, dijelaskan, saat khatam Al-Quran rahmat Allah turun. Imam An-Nawawi mengatakan, berdoa setelah khatam AI-Quran sangat di­sunnahkan. Karena itu, sangat dite­kankan pula agar yang lain, selain pembaca itu sendiri, ikut menghadiri majelis khatam AI-Quran,, agar juga mendapatkan keberkahannya pula.
Jadi, keberkahan saat khatam Al­Quran bukan hanya bagi si pemba­canya, tetapi juga bagi sernua yang menghadirinya. Karena itu, setiap orang yang dapat menghadirinya, sebaiknya jangan sampai kehilang­an kesempatan yang berharga ini, dan memanfaatkannya untuk memo­hon kepada Allah apa yang diingin­kannya.

Adab-Adab Khataman Al-Quran

Dalam mengkhatamkan AI-Quran, terdapat adab-adab yang mesti kita perhatikan agar kita mendapatkan manfaat dan keberkahan yang sebe­sar-besarnya. Di antara adab-adab yang mesti kita perhatikan di antaranya sebagai berikut:
Pertama, bila pembaca AI-Quran itu seorang diri (tidak berjamaah), amat disukai bila ia mengkhatamkannya di dalam shalat. Sedangkan bagi yang mengkhatamkannya di luar shalat, atau bagi jamaah yang mengkhatam­kannya bersama-sama, hendaknya ia khatamkan bersama-sama pada awal malam.
Kedua, berpuasa pada hari khatam AI-Quran, kecuali jika hari itu jatuh pada hari yang dilarang berpuasa. Di antara tokoh-tokoh yang selalu ber­puasa ketika khatam AI-Quran adalah Thalhah bin Musharrif, Al-Musayyab bin Rabi`, dan Habib bin Tsabit.
Ketiga, amat disukai mengundang dan mengumpulkan anggota keluarga dan orang-orang yang terhormat untuk menghadiri khataman AI-Quran. Anas bin Malik selalu mengumpulkan ang­gota keluarganya ketika khatam Al­Quran dan kemudian berdoa bersama. Mujahid dan Ubadah selalu mengun­dang 'Uyainah At-Tabi'iy untuk me= nyaksikan khataman AI-Quran.
Keempat, hendaklah berdoa di kala khatam AI-Quran. Para sahabat me­ngatakan, "Rahmat Allah diturunkan ketika khatam AI-Quran" Diberitakan oleh Ad-Darimi dari Humaid AI-A'raj, is mengatakan, "Barang siapa membaca AI-Quran, kemudian ia berdoa, niscaya doanya itu diamini empat ribu malaikat."
Kelima, amat disukai bila khataman AI-Quran itu dilakukan sekali pada awal malam dan sekali pada awal siang. Khatam di siang hari dilakukan pada awal siang dalam dua rakaat shalat sunnah fajar atau sesudahnya, sedang khatam pada malam hari di­lakukan pada awal malam Jumat da­lam dua rakaat sunnah maghrib atau sesudahnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Daud dan `Amr bin Murrah At-Tabi'iy, ia me­ngatakan, "Mereka (para sahabat) lebih suka mengkhatamkan AI-Quran pada awal malam atau pada awal siang"
Thalhah bin Musharrif At-Tabi'iy mengatakan, "Barang siapa mengkha­tamkan AI-Quran di sembarang waktu di siang hari, para malaikat bershalawat baginya hingga petang hari; dan ba­rang siapa mengkhatamkan AI-Quran di sembarang malam, para malaikat bershalawat untuknya hingga pagi hari:'
Keenam, ketika khatam AI-Quran, hendaknya berdoa mengenai urusan­ urusan penting yang sedang dihadapi. Hendaknya pula, sebagian dari isi doa itu mengenai akhirat, urusan umum, pe­merintah, dan sebagainya, yaitu agar mereka mendapat taufik dari Allah, taat kepada-Nya, terpelihara dari kesalah­an, sating menolong atas kebajikan clan ketaqwaan, membela kebenaran, dan bersatu menentang musuh-musuh agama.
Ketujuh, sebaiknya, setelah khatam AI-Quran, segera mulai membacanya lagi dari awal mushaf atau di bagian mana saja.

Doa Khatam Al-Quran

Banyak sekali doa khatam Al­Quran yang disusun para ulama, balk yang terkenal karena sering dibaca di berbagai tempat, maupun yang ku­rang dikenal masyarakat luas. Di bawah ini dipersembahkan kepada Anda doa-doa khatam AI-Quran, yang telah dikenal luas maupun yang belum, agar dapat diamalkan ketika kita mengkhatamkan AI-Quran.

Bismillahir-rahmanir-rahim

Allahummar-hamna bilqur'an, waj-‘alhu lana imamaw-wa nuraw-wa hudaw-wa rahmah. Allahumma dzakkirna minhu ma nasina wa ‘alimna minhu ma jahilna warzuqna tilawatahu ana’al-laili wa athrafan-nahar, waj-‘alhu lana hujjatan ya rabbal ‘alamin.

Allahumma ashlih li dinil-ladzi huwa 'ishmatu amri wa ashlih li dun­yayal-lati fiha ma `asy wa ashlih li akhiratil-lati fiha ma`adi waj-`alil­-hayata ziyadatan lana fi kulli khair, waj'alil-mauta rahatan lana min kulli syarr.

Allahummaj-`al khaira `umri akhi-­rahu wa khaira `amali khawatimahu wa khaira ayyami yauma alqaka fih.

Allahumma inni as'aluka `isyatan haniyyah wa mitatan sawiyyah wa maraddan ghaira makhziyyin wa la fadhih.

Allahumma inni as'aluka khairal-­mas'alah wa khairad-du`a' wa khairan­najah wa khairal-`amal wa khairats­tsawab wa khairal-hayah wa khairal-­mamat, wa tsabbitni wa tsaqqil ma­-wazini wa haqqiq imani warfa `darajati wa taqabbal shalati waghfirkhathi'ati, wa as'alukal-`ula minal jannah.

Allahumma inni as'aluka mujibati rahmatika wa `aza'ima maghfiratika was-salamata min kulli itsmin wal­ghanimata min kulli birrin wal-fauza bil jannati wan-najata minan-nar. Allahumma ahsin `aqibatana fil-­umuri kulliha wa ajirna min khiz-yid­dunya wa `adzabil-akhirah.

Allahummaqsim lana min khasy-­yatika ma tahulu bihi bainana wa baina ma `shiyatika wa min tha`atika ma tuballighuna biha jannataka wa minal-yaqini ma tuhawwinu bihi `alai­na masha'ibad-dunya, wa matti`na bi'asma `ina wa absharina wa quwwa­tina ma ahyaitana waj-`alhul-waritsa minna, waj-'al tsa'rana `ala man zhalamana wanshurna `ala man `adana wa la taj-'al mushibatana fi dinina wa la taj`alid-dunya akbara hammina wa la mablagha `ilmina wa la tusallith `alaina man la yarha­muna.
Allahumma la tada ` lana dzanban illa ghafartahu wa la hamman illa farrajtahu wa la dainan illa qadhai-­tahu wa la hajatan min hawa'ijid­dunya wal-akhirati illa qadhaitaha, ya arhamar-rahimin. Rabbana atina fid­dunya hasanatan wa fil-akhirati ha­sanatan wa qina `adzaban-nar. Wa shallallahu `ala nabiyyina Muham­madin wa `ala alihi wa ash_habihil­-akhyari wa sallama tasliman katsira.
"Ya Allah, rahmatilah aku dengan AI-Quran; dan jadikanlah ia sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku akan segala yang terlupa darinya, ajarilah aku semua yang aku tidak tahu darinya, berilah kepadaku anu­gerah berupa kemampuan memba­canya di waktu malam dan siang, dan jadikanlah ia sebagai hujah bagiku, wahai Tuhan sekalian alam.
Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku, yang merupakan pemeli­hara urusanku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat penghi­dupanku, perbaikilah untukku akhi­ratku yang merupakan tempat kem­baliku, jadikanlah kehidupan seba­gai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari setiap kejahatan.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah pada akhirnya, se­baik-baik perbuatanku pada penutupnya, dan sebaik-baik hariku ada­lah hari di mana aku menjumpai-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku bermo­hon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan, kematian yang be­nar, serta kepulangan yang tidak membawa aib dan nama buruk.

Ya Allah, sesungguhnya aku me­mohon kepada-Mu permohonan ter­baik, doa terbaik, keberhasilan ter­baik, perbuatan terbaik, ganjaran ter­baik, kehidupan terbaik, dan kemati­an terbaik. Tetapkanlah dan berat­kanlah timbangan baikku, sahkanlah keimananku, naikkanlah derajatku, terimalah shalatku, ampunilah aku atas kesalahan-kesalahanku, dan aku memohon kepada-Mu surga yang tinggi.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hal-hal yang dapat menyebabkan rahmat-Mu, ampunan-ampunan-Mu, keselamat­an dari segala dosa, keberuntungan dari segala kebaikan, keberhasilan dengan mendapatkan surga, dan ke­selamatan dari siksa neraka. Ya Allah, baguskanlah akhir semua urusanku dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat.
Ya Allah, berilah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dengannya Engkau menghalangi kami dengan perbuatan maksiat terhadap-Mu, dan berilah ketaatan kepada-Mu yang membawa kami kepada surga­Mu, dan keyakinan yang membuat Engkau menjadikan musibah dunia terasa remeh bagi kami. Dan berilah kepada kami kenikmatan dengan pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, dan kekuatan kami, selama Engkau masih menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai waris dari kami, berilah balasan terhadap orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau menjadikan musibah kami terdapat dalam urusan agama kami, jangan pula Engkau menjadikan dunia se­bagai cita-cita kami yang terbesar, dan jangan pula sebagai puncak ilmu kami, dan janganlah Engkau menguasakan kami pada orang yang tidak sayang kepada kami.

Ya Allah, janganlah Engkau biar­kan kami memiliki dosa melainkan Engkau hapuskan, jangan biarkan kami memiliki kesulitan melainkan Engkau bukakan, dan jangan pula biarkan kami mempunyai utang me­lainkan Engkau lunaskan, wahai Yang Paling Pengasih di antara yang pengasih. Ya Allah, berilah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaik­an di negeri akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ke­sejahteraan-Nya kepada Nabi kita Muhammad SAW, juga kepada ke­luarga dan para sahabatnya"

Berikut ini doa khatam Al-Quran yang disusun ulama terkemuka, panutan umat, Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, yang secara singkat sering di sebut sebagai Imam Nawawi saja.Inilah doa-nya .

Bismillahir-rahmanir-rahim
Allahumma ashlih qulubana wa azil `uyubana wa tawallana bil-husna wa zayyinna bit-taqwa wajma ` lana khairal-akhirati wal-ula warzuqna tha `ataka ma abqaitana. Allahumma yassirna lil-yusra wa jannibnal- `usra wa a`idzna min syururi anfusina wa sayyi'ati a`malina, wa a `idzna min `adzabin-nari wa`adzabil-qabri wa fitnatil-mahya wal-mamati wa fitnatil­ masihid-dajjal. Allahumma inna nas'alukal-huda wat-taqwa wal-`afafa wa ghina. Allahumma inna nas­taudi`uka adyanana wa abdanana wa khawatima a`malina wa anfusana wa ahlina wa ahbabana wa sa'iral­ muslimina wa jami `a ma an`amta `alaina wa `alaihim min umuril­akhirati wad-dunya.

Allahumma inna nas'alukal-'afwa wal-`afiyata fid-dini wad-dunya wal­akhirah, wajma ` bainana wa baina ahbabina fi dari karamatika bifadh­-lika wa rahmatik. Allahumma ashlih wulatal-muslimina wa waffiqhum lil`adli fi ra`ayahum wal-ihsani ilaihim wasy-syafaqati `alaihim warrifqi bihim wal-i`tina'i bimashalihihim wa hab­bibhum ilar-ra`iyyati wa habbibir­-ra`iyyata ilaihim wa waffiqhum lishirathikal-mustaqimi wal-`amali biwazha'ifi dinikal-qawim. Allahum­-mal-thuf bi`abdika sulthanana wa waffiqhu limashalihid-dunya wal­akhirati wa habbibhu ila ra`iyyatih.
"Ya Allah, perbaikilah hati kami, hilangkanlah aib kami, uruslah kami dengan kebaikan, hiasilah kami de­ngan ketaqwaan, himpunkanlah bagi kami kebaikan akhirat dan kebaikan dunia, dan anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu selama Engkau masih menghidupkan kami. Ya Allah, mudahkanlah kami untuk mendapatkan kemudahan, jauhkan­lah kami dari kesulitan, lindungilah kami dari keburukan diri kami dan kejelekan perbuatan kami, dan pe­liharalah kami dari azab neraka, azab kubur, fitnah kehidupan, fitnah ke­matian, dan fitnah Al-Masih ad-Dajjal. Ya Allah, sesungguhnya kami me­mohon kepada-Mu petunjuk, ketaq­waan, sikap menjaga diri, dan ke­kayaan. Ya Allah, sesungguhnya kami menitipkan kepada-Mu agama kami, tubuh kami, akhir perbuatan kami, diri kami, keluarga kami, para pecinta kami, dan semua orang muslim, serta semua yang Engkau berikan kepada kami dan kepada mereka dalam urusan akhirat dan urusan dunia.

Ya Allah, sesungguhnya kami me­mohon kepada-Mu ampunan dan afiat dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Dan kumpulkanlah kami de­ngan orang-orang yang kami cintai di negeri kemuliaan-Mu dengan anu­gerah keutamaan-Mu dan rahmat-Mu.

Ya Allah, perbaikilah para penguasa Muslim, dan berilah mereka petunjuk untuk bersikap adil terhadap rakyat mereka, berbuat baik kepada me­reka, sayang kepada mereka, lemah lembut terhadap mereka, dan mem­perhatikan kepentingan-kepentingan mereka. Jadikanlah mereka cinta ke­pada rakyat, dan jadikanlah pula rak­yat cinta kepada mereka, dan berilah mereka petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus dan mengamalkan agama-Mu yang benar.

Ya Allah, lem­butkanlah penguasa kami, berilah ia petunjuk menuju maslahat dunia dan akhirat, dan jadikanlah ia mencintai rakyatnya."

FarhahJakarta, Indonesia

http://sentuhan-qalbu.blogspot.co.id/2008/08/doa-doa-khatam-al-quran-pembuka-gerbang.html?m=1

Ketaqwaan dan Implikasinya Dalam Kehidupan Islam

Ketaqwaan dan Implikasinya Dalam Kehidupan Islam

Sabtu, 11 Juli 2015 

 

Ketaqwaan dan Implikasinya Dalam Kehidupan Islam - Kata taqwa berasal dari kata waqaya yang memiliki arti takut, menjaga diri tanggung jawab dan memenuhi tanggung jawab. Karena itu orang yang bertaqwa adalah orang yang takut kepada Allah SWT. berdasarkan kesadaran, mengerjakan perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya baik secara lahiriah maupun batiniah, ia takut terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Orang yang taqwa adalah orang yang menjaga (membentengi) dirinya dari perbuatan jahat, memelihara diri agar tidak melakukan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah SWT., bertanggung jawab mengenai sikap tingkah laku dan perbuatannya serta memenuhi kewajiban.

Di dalam QS. Al-Hujarat ayat 13, Allah SWT. mengatakan bahwa : “Manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa”. Dalam surat lain, taqwa dipergunakan sebagai dasar persamaan hak antara pria dan wanita (suami dan isteri) dalam keluarga, karena pria dan wanita diciptakan dari jenis yang sama (QS. An-Nisa ayat 1). Sedangkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 117 makna taqwa terhimpun dalam pokok-pokok kebajikan. 

Baca Juga

Pengertian Taubat, Syarat-Syarat Taubat, dan Hikmah TaubatPengertian dan Contoh Surat Tentang Menyantuni Kaum DhuafaPengertian dan Fungsi Iman Kepada Rasul-Rasul Allah

Ruang lingkup taqwa dalam makna memelihara meliputi empat jalur hubungan manusia, yaitu :
Hubungan manusia dengan Allah SWT.Hubungan manusia dengan dirinya sendiriHubungan manusia dengan sesama manusiaHubungan manusia dengan lingkungan hidup. 
Hubungan Manusia dengan Allah SWT

Ketaqwaan atau pemeliharaan hubungan dengan Allah SWT. dapat dilakukan dengan cara : 
Beriman kepada Allah SWT. menurut cara-cara yang diajarkannya melalui wahyu yang disengaja diturunkannya untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup manusia. Beribadah kepada Allah SWT. dengan jalan melaksanakan sholat lima waktu dalam sehari, menunaikan zakat apabila telah mencapai syarat nisab dan haulnya, berpuasa pada bulan suci ramadhan, dan melakukan ibadah haji seumur hidup sekali dengan cara-cara yang telah ditentukan. Mensyukuri nikmat-Nya dengan jalan menerima, mengurus dan memanfaatkan semua karunia dan pemberian Allah kepada manusia. Bersabar menerima cobaan dari Allah dalam pengertian tabah, tidak putus asa ketika mendapat musibah. Memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan serta bertaubat dalam arti sadar untuk tidak lagi melakukan segala perbuatan jahat atau tercela. 

Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri

Hubungan manusia dengan dirinya sendiri sebagai dimensi taqwa yang kedua dapat dipelihara dengan jalan menghayati benar patokan-patokan akhlak yang telah disebutkan oleh Allah SWT. di dalam Al-Qur’an, begitu pula pedoman yang telah disampaikan oleh Rasul-Nya melalui As-Sunnah (Al-Hadits) sebagai teladan bagi umatnya. Secara singkat berikut dikemukakan beberapa contoh : 
Sabar (QS. Al-Baqarah ayat 153) Ikhlas (QS. Al-Bayyinah ayat 5) Berkata benar (QS. Al-Kahfi ayat 29) Berlaku adil (QS. An-Nisa ayat 135) Tidak menganiaya diri (QS. Al-Baqarah ayat 195) Berlaku benar dan jujur (QS. At-Taubah ayat 119) Menjaga diri (QS. At-Tahrim ayat 6) Pemaaf (QS. Ali Imran ayat 134) 
Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia 

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan pertolongan manusia lain. Karena ternyata manusia yang mengaku pintar ini tidak dapat dan tidak mampu mencukupi kebutuhan diri sendiri tanpa bantuan orang atau pihak lain. Oleh sebab itu manusia sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah agar menjaga dan memelihara hubungan baik antar sesamanya. Hubungan manusia dengan sesamanya dalam masyarakat dapat dibina dan dipelihara melalui : 
Tolong menolong dan bantu membantu dalam kebaikan dan tidak mengembangkan perbuatan dosa dan menyebarkan permusuhan (QS. Al-Maidah ayat 2) Suka memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali Imran ayat 134) Menepati janji (QS. Al-Maidah ayat 1) Toleransi dan lapang dada (QS. Ali Imran ayat 159) Menegakkan keadilan dengan berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain (QS.An-Nisa 135) Tidak menyombongkan diri/angkuh dalam pergaulan (QS. Luqman ayat 18) Berlaku sederhana dan lemah lembut dalam pergaulan (QS.Luqman ayat 19) 
Hubungan Manusia dengan Lingkungan Hidup

Di lihat secara umum mengenai pelaksanaan taqwa bila digambarkan oleh kewajiban terhadap lingkungan hidup adalah :
Kewajiban terhadap lingkungan hidup dapat disimpulkan dari pernyataan Allah dalam Al-Qur’an yang menggambarkan kerusakan yang telah terjadi di daratan dan di lautan, karena ulah tangan-tangan manusia, yang tidak mensyukuri karunia Allah. Untuk mencegah derita yang dirasakan oleh manusia, manusia wajib memelihara dan melestarikan lingkungan hidupnya. Memelihara dan melestarikan alam lingkungan hidup berarti pula memelihara kelangsungan hidup manusia sendiri dan keturunannya di kemudian hari. Kewajiban orang yang taqwa terhadap harta yang dititipkan atau diamanatkan oleh Allah SWT. padanya. Menurut ketentuan Allah SWT. dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang kini terekam dalam kitab-kitab hadits, hubungan manusia dengan hartanya dapat di lihat dari tiga sisi, yaitu (a) cara memperolehnya, (b) fungsi dan harta, (c) cara memanfaatkan atau membelanjakannya.

Sekian artikel Ketaqwaan dan Implikasinya Dalam Kehidupan Islam.

SHARE THIS POST


http://modulmakalah.blogspot.co.id/2015/07/ketaqwaan-dan-implikasinya-dalam.html?m=1


Posting Lebih BaruPosting Lama

CATEGORY

Etika Filsafat dan KomunikasiKewirausahaanKomunikasi dan Etika ProfesiKonsep Portal dan Manajemen KontenKonsep Sistem InformasiManajemenManajemen dan BisnisManajemen ProyekManajemen Pusat DataManajemen UmumPemodelan Proses BisnisPemrograman Basis Data dan SQLPengantar AkuntansiPengantar Manajemen dan BisnisPerancangan Basis DataRekayasa Perangkat LunakSistem JaringanSistem OperasiTeknologi Pusat DataTesting dan ImplementasiTutorial Belajar HTMLTutorial Belajar PHP

POPULAR POSTS

Pengertian dan Contoh Analisis Isi Dalam Metode Penelitian

Pengertian Dan Contoh Penelitian Survey Menurut Para Ahli

Sumber-Sumber Peluang Usaha Dan Cara Mengembangkannya

Pengertian Analisa Proses Bisnis dan Contoh Proses Bisnis

Pengertian, Karakteristik, dan Fungsi Agama Islam

About Contact Disclaimer Privacy Policy Sitemap TOS

Copyright 2018 Modul Makalah

© Ketaqwaan dan Implikasinya Dalam Kehidupan Islam - Modul Makalah
Daftar Pustaka: http://modulmakalah.blogspot.co.id/2015/07/ketaqwaan-dan-implikasinya-dalam.html?m=1

Makalah tentang TAQWA

Menu

Arif Saputra

berbagi ilmu dan pengetahuan

Advertisements

Report this ad

Makalah tentang TAQWA

Pendahuluan

           Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Bahwa atas  segala izinnya makalah ini dapat terselesaikan. Dan tak lupa pula salawat serta dalam semoga tercurahkan atas junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW serta keluarganya.

Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas cawu 2 dari Dosen Mom Wiwi Alawiyah Bogor  EduCARE.

Kepada para pembaca kiranya dapat memanfaatkan makalah ini dengan sebaik-baiknya sehingga akan lebih melengkapi  dan menambah pengetahuan para pembaca dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tegur sapa yang ikhlas dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini lebih berdaya guna dalam pemanfaatannya Amien.

Penyusun

Definisi Taqwa

Taqwa adalah kumpulan semua kebaikan yang hakikatnya merupakan tindakan seseorang untuk melindungi dirinya dari hukuman Allah dengan ketundukan total kepada-Nya. Asal-usul taqwa adalah menjaga dari kemusyrikan, dosa dari kejahatan dan hal-hal yang meragukan (syubhat).

Seruan Allah pada surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi, “Bertaqwalah kamu sekalian dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali dalam keadaan muslim”, bermakna bahwa Allah harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.

Taqwa adalah bentuk peribadatan kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita. Taqwa adalah tidak terus menerus melakukan maksiat dan tidak terpedaya dengan ketaatan. Taqwa kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah seseorang selalu berada dalam keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya, dan Dia melihatnya selalu.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa “ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib”. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan

Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari’at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah

Ciri Manusia Taqwa

Seseorang akan disebut bertaqwa jika memiliki beberapa ciri. Dia seorang yang melakukan rukun Iman dan Islam, menepati janji, jujur kepada Allah, dirinya dan manusia dan menjaga amanah. Dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Manusia taqwa adalah sosok yang tidak pernah menyakiti dan tidak zhalim pada sesama, berlaku adil di waktu marah dan ridha, bertaubat dan selalu beristighfar kepada Allah. Manusia taqwa adalah manusia yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sabar dalam kesempitan dan penderitaan, beramar ma’ruf dan bernahi munkar, tidak peduli pada celaan orang-orang yang suka mencela, menjauhi syubhat, mampu meredam hawa nafsu yang menggelincirkan dari shiratal mustaqim. Itulah diantara ciri-ciri sosok manusia taqwa itu.

Agar seseorang bisa mencapai taqwa diperlukan saran-sarana. Dia harus merasa selalu berada dalam pengawasan Allah, memperbanyak dzikir, memiliki rasa takut dan harap kepada Allah. Komitmen pada agama Allah. Meneladani perilaku para salafus saleh, memperdalam dan memperluas ilmu pengetahuannya sebab hanya orang berilmulah yang akan senantiasa takut kepada Allah (QS. Fathir: 28). Agar seseorang bertaqwa dia harus selalu berteman dengan orang-orang yang baik, menjauhi pergaulan yang tidak sehat dan kotor. Sahabat yang baik laksana penjual minyak wangi dimanapun kita dekat maka akan terasa wanginya dan teman jahat laksana tukang besi, jika membakar pasti kita kena kotoran abunya (HR. Bukhari).

Membaca Al-Qur`an dengan penuh perenungan dan mengambil ‘ibrah juga merupakan sarana yang tak kalah pentingnya untuk mendaki tangga-tangga menuju puncak taqwa. Instrospeksi, menghayati keagungan Allah, berdoa dengan khusyu’ adalah sarana lain yang bisa mengantarkan kita ke gerbang taqwa. Pakaian dan makanan kita yang halal dan thayyib serta membunuh angan yang jahat juga sarana yang demikian dahsyat yang akan membawa kita menuju singgasana taqwa.

Adapun cirri-ciri lain orang bertaqwa (yaitu) Orang-orang yang berinfaq (karena Allah SWT), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mereka yang pemaaf terhadap (kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Taqwa memiliki tiga tingkatan. Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah, dia disebut orang yang taqwa. Didalam pengertian ini semua orang beriman tergolong taqwa meskipun mereka masih terlibat beberapa dosa. Jika seseorang menjauhi segala hal yang tidak disukai Allah SWT dan RasulNya (SAW), ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi. Yang terakhir, orang yang setiap saat selalu berupaya menggapai cinta Allah SWT, ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi lagi.

Allah SWT menjelaskan dalam Surat Ali’Imran Ayat 102:

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim (beragama Islam).

Allah SWT telah menjabarkan berbagai ciri-ciri orang yang benar-benar taqwa. Mereka menafkahkan rizkinya di jalan Allah SWT dalam keadaan lapang maupun sempit. Dengan kata lain, jika mereka memiliki uang seribu dollar diinfaqkannya paling tidak satu dollar, dan jika hanya memiliki seribu sen mereka infaqkan satu sen. Menafkahkan rizki di jalan Allah SWT adalah jalan-hidup mereka. Allah SWT (atas kehendakNya) menjauhkan mereka dari kesulitan (bala’) kehidupan lantaran kebajikan yang mereka perbuat ini. Lebih dari itu, seseorang yang suka menolong orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain, malahan ia lebih suka berbuat kebaikan bagi sesamanya. ‘Aisyah RA sekali waktu pernah menginfaqkan sebutir anggur karena pada waktu itu ia tidak memiliki apa-apa lagi. Beberapa muhsinin (orang yang selalu berbuat baik) menginfaqkan sebutir bawang. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“ Selamatkanlah dirimu dari api nereka dengan berinfaq, meskipun hanya dengan sebutir kurma. (Bukhari & Muslim)

 

Pentingnya Takwa

 

Ia Merupakan wasiat dan Perintah Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para shahabat dan umatnya. Di antara sabda beliau adalah sebagai berikut : Dari Abu Umamah al-Bahili Radhiallaahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda dalam khutbah haji wada’, “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu,maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 1/190)

Wasiat Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam kepada Muadz bin Jabal, dan juga tentunya untuk umatnya yang lain : “Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya akan dapat menghapusnya dan pergauli-lah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, ia berkata hasan shahih, Ahmad dalam Musnad-nya 5/153 dan al-Hakim, beliau men-shahihkannya dan Imam adz-Dzahabi menyetujuinya, 1/54).

Dari Irbadl bin Sariyah Radhiallaahu anhu yang sudah sangat masyhur, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam memberikan wasiat : “Aku wasiatkan kepada kalian semua untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat. (HR.Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah).
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sering mengucapkan, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dan kecukupan.”(HR Muslim)

Ia Merupakan Sebab Terbesar untuk Masuk Surga

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ditanya tentang penyebab yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga, maka beliau menjawab, “bertaqwa kepada Allah dan akhlak yang baik (taqwallah wa husnul khuluq)”.Dan ketika ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menjeru-muskan orang ke dalam neraka beliau menjawab, ”Mulut dan Kemaluan.” (HR. at-Tirmidzi, ia berkata, “hadits shahih gharib, dan dihasankan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/194)

  

Ia Adalah Pakaian Terindah

Manusia tidak akan lepas dari kebutuhan terhadap pakaian, sedangkan ketakwaan adalah pakaian yang lebih penting daripada pakaian atau baju yang melekat di badan. Karena pakaian takwa tidak akan pernah rusak dan binasa. Ia akan selalu menyertai seorang hamba sampai kapan pun. Dia adalah keindahan hati dan ruh. Sedang pakaian badan tujuan utamanya adalah untuk menutupi aurat tubuh atau mungkin untuk perhiasan manusia. Jika dalam kondisi terpaksa pakaian badan ini terbuka, maka tak ada bahaya yang begitu berarti, namun kalau pakaian takwa yang terlepas, maka yang akan didapat adalah kehinaan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik.” (QS.4 :26)

Pakaian takwa ini senantiasa dibutuhkan orang setiap waktu. Tanpa pakaian ini, seseorang tidak punya arti, kemuliaan dan keberuntungan.

Ia Lebih Penting daripada Makanan dan Minuman

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. 2:197)

Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata, “Sesungguhnya termasuk kemuliaan seseorang adalah membawa bekal yang memadai dalam safar.” (Tafsir al-Qur’anil Azhim, Ibnu Katsir 1/224 dan Taisirul Karimir Rahman, as-Sa’di hal 74).

Allah Subhannahu wa Ta’ala memerintahkan untuk berbekal di dalam bepergian karena dengan berbekal, seseorang tidak mungkin meminta-minta kepada orang lain yang berarti ia telah menjaga serta menghormati harta mereka. Dengan berbekal, seseorang juga dapat menolong orang lain, yang sama-sama sedang bepergian.

Ketika Allah memerintahkan untuk berbekal dalam bepergian, maka Dia juga menyuruh untuk membawa bekal yang hakiki yaitu bekal menuju akhirat dengan membawa ketakwaan untuk menuju ke sana. Ia adalah bekal yang berkesinambungan manfaatnya, baik ketika di dunia mau pun kelak di akhirat. Ketakwaan merupakan bekal menuju kampung abadi di surga kelak, dia akan mengantarkan seseorang menuju kenikmatan yang sempurna dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Maka barangsiapa yang tidak mau membawa bekal ketakwaan, ia akan terputus dan akan menjadi mangsa berbagai macam perbuatan jahat dan buruk. Dan terhalanglah ia untuk sampai ke Surga-Nya yang abadi, wal ‘iyadzu billah.

 

 

Buah Taqwa

Manusia dengan ciri dan karakterisrik di atas akan memetik buah ranum dan manisnya taqwa. Bukan hanya individual sifatnya namun masyarakat juga akan menikmatinya.Manusia taqwa akan memiliki firasat yang tajam, mata hati yang peka dan sensitif sehingga dengan mudah mampu membedakan mana yang hak dan mana pula yang batil.
(QS. Al-Anfaal : 29). Mata hati manusia taqwa adalah mata hati yang bersih yang tidak terkotori dosa-dosa dan maksiat, karenanya akan gampang baginya untuk masuk surga yang memiliki luas seluas langit dan bumi yang Allah peruntukkan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS. Ali Imran: 133 dan Al-Baqarah: 211).

Taqwa yang terhimpun dalam individu-individu ini akan melahirkan keamanan dalam masyarakat. Masyarakat akan merasa tenteram dengan kehadiran mereka. Sebaliknya pupusnya taqwa akan menimbulkan sisi negatif yang demikian parah dan melelahkan. Umat ini akan lemah dan selalu dilemahkan, akan menyebar penyakit moral dan penyakit hati. Kezhaliman akan merajalela, adzab akan banyak menimpa. Masyarakat akan terampas rasa aman dan kenikmatan hidupnya. Masyarakat akan terenggut keadilannya, masyarakat akan hilang hak-haknya.

Semakin taqwa seseorang -baik dalam tataran individu, sosial, politik, budaya, ekonomi- maka akan lahir pula keamanan dan ketenteraman, akan semakin marak keadilan, akan semakin menyebar kedamaian. Taqwa akan melahirkan individu dan masyarakat yang memiliki kepekaaan Ilahi yang memantulkan sifat-sifat Rabbani dan insani pada dirinya.

Hakikat Taqwa

Taqwa lahir sebagai konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muroqobatullah:merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya, dan selalu berharap limpahan karunia dan maghrifah-Nya.

Atau sebagaimana didefinisikan oleh para ulama. Taqwa adalah hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintahnya.

Jalan Mecapai Sifat Taqwa

Disini kita cukup membahas faktor-faktor terpenting yang bisa menumbuh suburkan takwa. Mengokohkannya dalam hati dan jiwa seorang muknin dan menyatukannua dengan perasaan.

A.Mu’ahadah (Mengingat Perjanjian)

Kalimah ini diambil dari firman Allah Yang MahaTinggi

”Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji..”(an-Nahl[16]:91)

     Cara Mu’ahadah

Hendaklah seorang mukmin berkhalwat (menyendiri) antara dia dan Allah untuk mengintrospek diri seraya mengatakan pada dirinya. ”Wahai jiwaku, sesungguhnya kamu telah berjanji kepada Rabbmu setiap hari disaat kamu berdiri membaca.

”Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”

(al-Fatihah[1]:5)

B.Muroqobah (Merasakan Kesertaan Allah)

Landasan muroqobah dapat Anda temukan dalam surat asy-Syuura, yaitu dalam firman Allah,

”yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badannya diantara orang-orang yagn sujud”. (asy-syu’raa [26]: 218-219). Maknanya adalah sebagaimana diisyaratkan oleh Al- Qur’an dan hadits, ialah: merasakan keagungan Allah Azza wa jalla di setiap waktu dan keadaan serta merasakan kebersamaan-Nya di kala sepi ataupun ramai.

Cara muroqobah

Sebelum memulai suatu pekerjaan dan di saat mengerjakannya, hendaklah seorang mukmin memeriksa dirinya… Apakah setiap gerak dalam melaksanakan amal dan ketaatannya dimaksudkan untuk kepentingan peribadi dan mencari popularitas, ataukah karena dorongan ridha Allah dan menghendaki pahala-Nya?

C. Muhasabah (Introspeksi Diri)

Dasar muhasabah adalah firman Allah:

”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Hasyr [59]: 18). Makna muhasabah sebagaiman diisyaratkan oleh ayat ini, ialah, hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan…apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridha Allah? Atau apakah amalnya dirembesi sifat riya? Apakah dia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?…

D. Mu’aqobah (Pemberian Sanksi)

Sanksi yang kita maksudkan adalah apabila seorang mukmin menemukan kesalahan maka tak pantas baginya untuk membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah terlanggarnya kesalahan-kesalahan yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya. Bahkan sepatutunya dia memberikan sanksi atas dirinya dengan sanksi yang mudah sebagaimana memberikan sanksi atas istri dan anak-anaknya…hal ini merupakan peringatan baginya agar tidak menyalahi ikrar, di samping merupakan dorongan untuk lebih bertakwa dan bimbingan menuju hidup yang lebih mulia.

E.Mujahadddah (Optimalisasi)

Dasar mujahadah adalah firman Allah dalam surat al-Ankabut.

’Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.(al- Ankabut [29]:69). Makna mujahadah sebagaimana disyariatkan oleh ayat tersebut adalah:  Apabila seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunah serta ketaatan yang lainnya tepat pada waktunya, maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelumnya. Dalam hal ini harus tegas,serius,dan penuh semangat sehigga pada akhirtya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya.

Kesimpulan

Taqwa adalah kumpulan semua kebaikan yang hakikatnya merupakan tindakan seseorang untuk melindungi dirinya dari hukuman Allah dengan ketundukan total kepada-Nya. Asal-usul taqwa adalah menjaga dari kemusyrikan, dosa dari kejahatan dan hal-hal yang meragukan (syubhat).

Seseorang akan disebut bertaqwa jika memiliki beberapa ciri. Dia seorang yang melakukan rukun Iman dan Islam, menepati janji, jujur kepada Allah, dirinya dan manusia dan menjaga amanah.

manisnya taqwa bukan hanya individual sifatnya namun masyarakat juga akan menikmatinya.

Adapun 4 cara menuju sifat taqwa adalah:

Mu’ahadah (mengingat aperjanjian)Muroqobah (Merasakan kesertaan allah)Muhasabah (Intropeksi Diri)Mu’aqobh (Pemberian Sanksi)

Advertisements

Report this ad

Share this:

TwitterFacebook2

Related

Bahan makalah mengenai kearsipan

Makalah tentang GHAZWUL FIKRIIn "pelajaran"

CONTOH SURAT REKOMEKNDASIIn "pelajaran"

August 16, 2011Leave a reply

Advertisements

Report this ad

« PreviousNext »

Advertisements

Report this ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment 

Name*

Email*

Website

 Notify me of new comments via email.

Advertisements

Report this ad

Advertisements

Report this ad

View Full Site

Blog at WordPress.com.

Follow


https://aaput.wordpress.com/2011/08/16/makalah-tentang-taqwa/

Makna TAQWA

Makna TAQWA

Taqwa itu berkaitan dengan sikap kepatuhanseseorang terhadap perintah Allah dan RasulNya, baik perintah itu berupa suruhan atau larangan.

Secara ringkas orang yang bertaqwa ialah orang yang menjunjung dan patuh kepada semua perintah Allah.

Menurut Imam al-Ghazali rahimahullah, kalimah taqwa yang terdapat di dalam al-Quran al-Karim membawa tiga makna:
- Pertama, bermakna takut, gerun atau ngeri (haybah). 
- Kedua, bermakna taat. 
- Ketiga, mengandungi maksud menyucikan hati daripada dosa. 

Mengikut para ulamak: "Takwa itu ialah menyucikan hati daripada dosa sehingga menguatkan azam untuk meninggalkan dosa dan seterusnya memelihara diri daripada segala maksiat".

Imam al-Ghazali membuat kesimpulan : Bahawa takwa itu ialah menjauhkan setiap apa yang ditakuti akan membawa mudarat kepada agama. Bandingannya ialah berpantang bagi orang yang mengidapi penyakit. Ada pun berpantang daripada melakukan perkara-perkara yang membawa kerosakan kepada agama pula ialah "bertakwa". 

Definisi taqwa yang terindah adalah yang diungkapkan oleh Thalq Bin Habib Al’Anazi:

العَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، مَخَافَةَ عَذَابِ اللهِ

“Taqwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap azab Allah”. (Siyar A’lamin Nubala, 8/175)

Wallahu a'lam.

http://lenggangkangkung-my.blogspot.co.id/2012/01/makna-taqwa.html?m=1

Minggu, 06 Mei 2018

Bacaan ketika Duduk di Antara Dua Sujud dalam Sholat

Bacaan ketika Duduk di Antara Dua Sujud dalam Sholat

Doa ketika Duduk di Antara Dua Sujud

Ada beberapa doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk diantara dua sujud, berikut diantaranya,

Pertama,

رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي

Rabbigh-fir lii, war hamnii, waj-bur nii, war-fa’-nii, wah-di-nii, wa ‘aafi-nii, war-zuq-nii

Kedua,

رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي

Rabbigh-fir lii.., Rabbigh-fir lii..

Kembali Turun Sujud

1. Setelah membaca doa, melakukan sujud yang kedua dengan membaca: Allahu akbar.

2. Dianjurkan untuk terkadang mengangkat kedua tangan ketika bertakbir untuk sujud kedua. Sebagaimana dinyatakan dalam riwayat Ahmad, Abu Daud dengan sanad yang shahih.

3. Melakukan sujud kedua dengan cara yang sama persis dengan sujud pertama.

4. kemudian bangkit dari sujud untuk menuju rukun selanjutnya.

Kesalahan ketika Duduk di Antara Dua Sujud

1. Tidak thumakninah ketika duduk di antara dua sujud, padahal thumakninah dalam setiap rukun shalat merupakan rukun dalam shalat. Sehingga tidak thumakninah ketika duduk di antara dua sujud, bisa membatalkan shalat.

2. Tidak menegakkan punggung ketika duduk di antara dua sujud. Padahal, dia mampu untuk duduk dengan tegak sempurna.

Perbuatan semacam ini termasuk membahayakan shalat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengajarkan kepada orang yang shalatnya batal untuk melakukan gerakan rukun shalat dengan sempurna. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda tentang cara shalat yang sempurna, “Kemudian dia membaca ‘Allahu akbar‘ dan mengangkat kepalanya sampai tegak sempurna.”

3.  Meninggalkan sunah ketika duduk di antara dua sujud.

Di antara sunah yang banyak ditinggalkan adalah ‘memperlama duduk di antara dua sujud’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang memperlama duduk di antara dua sujud, sampai makmum mengatakan, ‘Beliau lupa.’ (H.R. Bukhari)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Sunah semacam ini ditinggalkan banyak orang setalah berakhirnya zaman para sahabat.” (Zadul Ma’ad, 1/230)

Artikel www.CaraSholat.com

Doa antara dua sujud (nubuwwah.blogspot.com)

1. *Rabbighfirlii*, Ya Rabb *ampunilah aku….* Sebagai manusia, kita selalu diliputi dengan khilaf dan salah, baik di mata manusia maupun di mata Allah, baik yang kita sadari maupun tidak. Untuk itu sebagai wujud ingin membersihkan diri dan juga bersih di mata Allah, kita selalu memohon untuk diampuni kesalahan-kesalahan kita, dan yakin Allah yang Maha Pengampun pasti mengampuninya, ini akan menjadi sebuah kekuatan dalam batin kita.

2. *warhamnii*, Ya Rabb, *kasihilah aku….* Setelah kita mohon ampun, kita meminta untuk senantiasa dikasihi Allah, disayangi, dirahmati, dan diridhai. Bagaimana rasanya jika kita senantiasa disayangi, tentunya sangat menentramkan. Dengan disayangi, tentunya kita akan selalu diberi lindungan, keselamatan, dan petunjuk sehingga hidup kita selamat dan bahagia.

3. *Wajburnii*, Ya Rabb, perbaikilah diriku, perbaikilah kekurangan-kekuranganku…. Manusia bukanlah malaikat yang suci dari dosa, manusia penuh dengan kekurangan, pernah melakukan dan dekat dengan kesalahan-kesalahan, untuk itu kita memohon untuk diberikan perbaikan, dijagakan dari kesalahan-kesalahan, sehingga kita menjadi manusia yang baik di mata Allah dan insyaAllah akan baik pula di mata manusia.

4. *Warfa’nii,* Ya Rabb, angkatlah derjatku…. Kita memohon untuk dijadikan manusia yang benar, manusia yang tinggi derajatnya di sisi Allah, manusia yang benar, manusia yang baik, dan tentunya juga menjadi manusia yang terhormat di mata manusia.

5. *Warzuqnii*, Ya Rab, limpahkan pada hamba rizki….Hidup tidak bisa dilepaskan dari rizki, atau dengan kata lain harta. Kita punya keluarga yang menjadi tanggung jawab kita untuk menghidupinya, untuk mensejahterakannya, untuk memberikan rasa aman dan tentram, serta untuk menjaga kehormatan, maka harta menjadi salah satu medianya. Maka dari itu kita mohon untuk diberikan kemurahan dan kecukupan rizki, dengan rizki yang halal dan berkah.

6. *Wahdinii,* Ya Rabb, selalu berilah hamba petunjuk….Petunjuk, cahaya, tuntunan dan *hidayah* Allah adalah kunci untuk keselamatan hidup. Kita memohon untuk diberikan bimbingan, petunjuk, dan arah yang benar untuk setiap langkah kita, sehingga kita akan melewati jalan yang selamat dan terhindar dari jalan yang salah dan sesat dalam rangka menuju kehidupan yang hasanah di dunia dan akhirat.

7. *Wa’aafinii,* Ya Rabb berilah hamba kesehatan….Kesehatan tidak ternilai harga dan nikmatnya. Sakit gigi saja, menderitanya sungguh luar biasa, apalagi sakit-sakit yang lain yang sangat menyiksa dan kadangkala menghabiskan biaya yang luar biasa untuk pengobatannya. Dan Allah pun menyuruh dan memberi kesempatan pada kita untuk meminta sehat itu. Sekali lagi, sehat adalah nikmat yang luar biasa, kita akan merasakan itu adalah nikmat yang luar biasa tatkala kita mendengar atau mengetahui orang di sekeliling kita yang mengalaminya.

8. *Wa’fuannii*, Ya Rabb, *maafkanlah aku* ini….Yang terakhir, kita ingin selalu dalam kasih sayang, perlindungan, petunjuk, karunia rizki dan sehat, maka kita berusaha untuk lebih dekat lagi dengan senantiasa merendahkan diri, mendekat, dan memohon maaf.