Jumat, 22 November 2019

Daftar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Daftar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
artikel daftar Wikimedia
Baca dalam bahasa lain
Pantau
Sunting

Berikut ini adalah daftar Ketua Umum Muhammadiyah:[1]

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Logo Persyarikatan Muhammadiyah

Petahana
Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si.
sejak 6 Agustus 2015
Masa jabatan
1 tahun (1912–1941)
3 tahun (1950–1978)
5 tahun (1985–sekarang)
Dibentuk
18 November 1912
Pejabat pertama
K.H. Ahmad Dahlan
Situs web
Situs web resmi Muhammadiyah
No. Ketua Umum Awal menjabat Akhir menjabat Tempat
Musyawarah[2] Rapat/
Muktamar Ket.
1
K.H. Ahmad Dahlan
1912
1923
Yogyakarta
Rapat Tahun ke–1
Rapat Tahun ke–2
Rapat Tahun ke–3
Rapat Tahun ke–4
Rapat Tahun ke–5
Rapat Tahun ke–6
Rapat Tahun ke–7
Rapat Tahun ke–8
Rapat Tahun ke–9
Rapat Tahun ke–10
Rapat Tahun ke–11
2
K.H. Ibrahim
1923
1934
Rapat Tahun ke–12
Rapat Tahun ke–13
Rapat Tahun ke–14
Surabaya
Kongres ke–15
Pekalongan
Kongres ke–16
Yogyakarta
Kongres ke–17
Padang
Kongres ke–18
Surakarta
Kongres ke–19
Yogyakarta
Kongres ke–20
Makassar
Kongres ke–21
Semarang
Kongres ke–22
3
K.H. Hisyam
1934
1937
Yogyakarta
Kongres ke–23
Banjarmasin
Kongres ke–24
Jakarta
Kongres ke–25
4
K.H. Mas Mansur
1937
1942
Yogyakarta
Kongres ke–26
Malang
Kongres ke–27
Medan
Kongres ke–28
Yogyakarta
Kongres ke–29
Purwokerto
Kongres ke–30
5
Ki Bagoes Hadikoesoemo
1942
1944
Fait Accompli
1944
1946
Yogyakarta
Muktamar Darurat
1946
1950
Silahturrahmi se–Jawa
1950
1953
Muktamar ke–31
6
Buya A.R. Sutan Mansur
1953
1956
Purwokerto
Muktamar ke–32

1956
1959
Yogyakarta
Muktamar ke–33
7
K.H. M. Yunus Anis
1959
1962
Palembang
Muktamar ke–34
8
K.H. Ahmad Badawi
1962
1965
Jakarta
Muktamar ke–35
1965
1968
Bandung
Muktamar ke–36
9
KH Faqih Usman
1968
1968
Palembang
Muktamar ke–37
10 K.H. A.R. Fachruddin
1968
1971
Fait Accompli
1971
1974
Makassar
Muktamar ke–38
1974
1978
Padang
Muktamar ke–39
1978
1985
Surabaya
Muktamar ke–40
1985
1990
Surakarta
Muktamar ke–41
11
K.H. Ahmad Azhar Basyir
1990
1995
Yogyakarta
Muktamar ke–42
12
Prof. Dr. H. Amien Rais
1995
1998
Banda Aceh
Muktamar ke–43
13
Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif
1998
2000
Sidang Tanwir &
Rapat Pleno
2000
2005
Jakarta
Muktamar ke–44

14
Prof. Dr. KH. 
Din Syamsuddin
MA
2005
2010
Malang
Muktamar ke–45
2010
2015
Yogyakarta
Muktamar ke–46
15
Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.
2015
2020
Makassar
Muktamar ke–47




Jumat, 15 November 2019

FAEDAH ILMU Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu

Ilmu  Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu
FAEDAH ILMU
Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu
By Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -  January 11, 2016 11344 1

Semua ingin raih ketenangan jiwa. Meskipun mencari dengan mengeluarkan biaya besar. Sehingga ada yang mencarinya lewat lantunan musik. Ada yang mencarinya lewat night club. Ada yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Apakah mereka dapat ketenangan sebenarnya?

Tidak, itu ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya didapati dengan iman. Ketenangan seperti itu didapati hanya dalam majelis ilmu syar’i.


 

Cobalah rasakan ketenangan lewat majelis ilmu kala Al-Qur’an disenandungkan, kala hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  disuarakan. Silakan rasakan kenikmatan yang berbeda.

 

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)

 

Ada empat keutamaan yang disebutkan bagi orang yang duduk di rumah Allah dan mempelajari kitab Allah:

 

Pertama: Akan raih ketenangan.

Sebagaimana disebutkan saat dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata,

بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا ، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »

“Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)

 

Kedua: Akan dinaungi rahmat Allah.

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan,

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  lewat ketika itu, beliau pun bersabda, “

مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا

“Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).

 

Ketiga: Malaikat akan mengelilingi majelis ilmu.

Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang berada dalam majelis ilmu.

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para

Selasa, 12 November 2019

manusia diciptakan bersifat suka mengeluh

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاِ نْسَا نَ خُلِقَ هَلُوْعًا ۙ 
"Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh."
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 19)

اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا ۙ 
"Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 20)

وَاِ ذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا ۙ 
"dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 21)

اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ ۙ 
"kecuali orang-orang yang melaksanakan sholat,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 22)

الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَا تِهِمْ دَآئِمُوْنَ ۖ 
"mereka yang tetap setia melaksanakan sholatnya,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 23)

وَا لَّذِيْنَ فِيْۤ اَمْوَا لِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ ۖ 
"dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 24)

لِّلسَّآئِلِ وَا لْمَحْرُوْمِ ۖ 
"bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 25)

وَا لَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ ۖ 
"dan orang-orang yang mempercayai hari Pembalasan,"
(QS. Al-Ma'arij 70: Ayat 26)

sd ayat 34
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Kamis, 07 November 2019

Membaca Al-Qur'an Hanya Sampai Tenggorokan

Ada Orang yang Membaca Al-Qur'an Hanya Sampai Tenggorokan 

Sabtu 28 Juli 2018 23:30 WIB 

Pada zaman Nabi Muhammad, setelah perang Hunain, umat Islam mendapat harta rampasan (ghanimah) yang banyak. Dapat sapi, unta, kemudian dibagi-bagi di Ja’ronah. Namun, baru kali ini Nabi membaginya secara aneh, para sahabat Nabi yang senior tidak mendapat bagian. Hanya para muallaf (orang yang baru masuk Islam) yang mendapatkannya.  Pembagian yang dilakukan Nabi tersebut, meski tidak dipahami sahabat, mereka memilih diam karena semua tahu itu perintah Allah subhanahu wata'ala. Nabi selalu dibimbing wahyu dalam tindakannya.  Namun, tak dinyana, ada orang yang maju ke depan melakukan protes. Sahabat tersebut, perawakannya kurus, jenggot panjang, jidatnya hitam, namanya Dzil Khuwaisir.  “I’dil (berlaku adillah) ya Muhammad, bagi-bagi yang adil Muhammad,” begitu kira-kira protesnya.   “Celakalah kamu. Yang saya lakukan itu diperintahkan Allah,” tegas Nabi Muhammad.  Orang itu kemudian pergi.  Nabi Muhammad mengatakan, nanti dari umatku ada orang seperti itu. Dia bisa membaca Al-Qur’an, tapi tidak tidak paham. Hanya di bibir dan tenggorokan.  “Saya tidak termasuk mereka. Mereka tidak termasuk saya,” ungkap Nabi Muhammad. Tahun 40 H Sayiydina Ali bi Abi Thalib dibunuh bukan oleh orang kafir, melainkan orang Muslim, namanya Abdurrahman bin Muljam At-Tamimi, dari suku Tamimi. Pembunuh itu ahli tahajud, puasa, dan penghafal Al-Qur’an.  Ali dibunuh karena dianggap kafir. Pasalnya Ali dalam menjalankan pemerintahannya tidak dengan hukum Islam, tapi hukum musyawarah. Sang pembunuh menggunakan ayat Waman lam yahkum bi ma anzalallahu fahuwa kafirun sebagai sandaran perbuatannya.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ “Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari agama sebagaimana halnya anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya hingga anak panah kembali ke busurnya.” (HR. Bukhari) Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Dari kelompok orang ini (orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An-Najdi), akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad.”  (HR Muslim 1762) Kalimat “mereka yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan atau tenggorokan” adalah kalimat majaz . “Tidak melewati kerongkongan” kiasan dari “tidak sampai ke hati”. Artinya membaca Al-Qur’an, tapi tidak menjadikan mereka berakhlakul karimah. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad) Begitu pula kalimat yang artinya tidak sampai melewati batas tenggorokan adalah kalimat majaz. “Tidak sampai melewati batas tenggorokan” kiasan dari “tidak sampai ke hati” artinya tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar. (Abdullah Alawi) Tags: #kisah #cerita Share: Rekomendasi Silsilah Nasab dari Nabi Muhammad hingga Nabi Adam 4 Peristiwa Istimewa Iringi Kelahiran Nabi Muhammad Khutbah Jumat: Bagaimana Kita Mengisi Momen Maulid Nabi? Maulid Nabi Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad Doa Doa dari Rasulullah agar Terlepas dari Bingung dan Utang Ini Doa Manjur Sahabat Abbas RA saat Kemarau Panjang Ini Lafal Tawasul Umar bin Khattab saat Kemarau Kumpulan Doa Lengkap Rasulullah saat Kemarau Panjang Doa-doa agar Selamat dari Kebakaran Warta Video Aset Paling Berharga Indonesia Ahad 3 November 2019 Bahtsul Masail 1 Hukum Mengonsumsi Makanan yang Kehalalannya Diragukan 2 Bangunan Masjid di Tanah Pribadi, Tak Sah Disebut Masjid? 3 Penjelasan tentang Fidyah Pengganti Shalat Orang Meninggal 4 Benarkah Uang Suami Milik Istri dan Uang Istri Milik Istri? 5 Kapan Jamaah Shalat Dipersilakan Membuat Shaf Baru? Syariah 1 Pemilu sebagai Bagian dari Khilafah 2 4 Dlarar yang Menyebabkan Pangan dan Obat Menjadi Haram 3 Antara Negara Kebangsaan dan Khilafah 4 Pentingnya Memperhatikan Keamanan Produk yang Dikonsumsi 5 Nilai-nilai Islam dalam Pancasila Kontak kami Redaksi: (+6221) 391 4013/14 Sekretariat PBNU (+6221) 31908425 Gedung PBNU Lt.5 Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusata 10430 Copyright © 2019 | All rights reserved | NU Online

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/93452/kaum-yang-membaca-al-quran-hanya-sampai-tenggorokan
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Rahasia Kecerdasan B.J. Habibie yang Tak Terungkap


   

Rahasia Kecerdasan B.J. Habibie yang Tak Terungkap

 
4647
 Habibie

Oleh: Wildan Nugraha (Quranic Motivation)

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menghadiri sebuah kajian Ustadz Bachtiar Nasir, Lc pada saat itu di sebuah masjid daerah Bandung. Ada cerita menarik yang disampaikan Ustadz Bachtiar tentang sosok Eyang Habibie.

Sebagaimana yang kita ketahui, sosok Habibie lahir dari keluarga yang religius. Ayahnya bahkan wafat ketika mengimami shalat keluarganya. Tak kurang dari 2 juz dalam sehari Ayahnya membaca Al-Quran.

Jangan tanya keshalihan ibunya. Beliau ahli taklim, dalam sepekan tak pernah dilewati kecuali khatam Al-Quran.

Suatu ketika Pak Habibie bertutur tentang kisah perjuangannya selama di Jerman. Beliau berkompetisi dengan dua orang Yahudi yang mana dua orang Yahudi ini selalu menjadi juara di kelasnya.

Sampai suatu ketika, Eyang Habibie merasa penasaran rahasia apa sih yang membuat mereka itu begitu cerdas, padahal Eyang Habibie sudah begitu keras dan mati-matian dalam belajar.

Sampai akhirnya dia bertanya ke orang Yahudi itu apa rahasia mereka bisa pintar? Diajaknyalah Habibie menginap di asrama orang Yahudi tersebut. Ketika menginap di sana, Pak Habibie kaget, karena jam 2 malam orang Yahudi itu sudah bangun, membaca buku, belajar.

Didekatinya diam-diam. Lalu ditanyakan kepada orang Yahudi tersebut buku itu. Kamu membaca apa? Orang Yahudi itu kaget, terperanjat, dengan segera buku itu disembunyikan di balik badannya.

Setelah lama berkutat, akhirnya Pak Habibie mendapatkannya. Ketika di buka ternyata itu adalah Al-Quran. Betapa kagetnya Pak Habibie. Lalu ia berkata, “Ini kan Al-Quran, kitab suci saya, kitab suci umat Islam. Kenapa kamu baca ini?”

Orang Yahudi tersebut kemudian berkata, “Rudy… Seandainya umat Islam membaca Al-Quran dan menaruh perhatian kepadanya, maka niscaya mereka tidak akan pernah bisa dikalahkan. Inilah kunci kesuksesan umat Islam yang ditinggalkan oleh umat Islam sendiri.”

Akhirnya setelah menyadari hal itu, setiap jam 2 malam Pak Habibie selalu bangun, mandi, shalat tahajjud dan membaca Al-Quran, istiqamah dalam rutinitasnya.

Kita pun bisa menemukan keshalihan yang lainnya. Pak Habibie suatu ketika ditanya, “Di sisa waktu-waktu yang Eyang miliki, mau dipakai apakah waktu yang sangat terbatas ini?”

Eyang dengan nada khasnya menjawab, “Saya akan habiskan waktu untuk membuat pesawat R80 agar bangsa Indonesia bisa memiliki pesawat sendiri. Sebagian waktu yang lain, akan Eyang gunakan untuk membaca Al-Quran sebanyak-banyaknya. Eyang ingin bertemu dengan Ibu Ainun. Ibu Ainun itu orang yang baik, orang yang shalihah, rajin beribadah, saya yakin Ibu Ainun ada di surga. Maka saya harus membaca Al-Quran untuk memantaskan diri, supaya bisa bertemu Ibu Ainun di surga”.

Dalam sebuah kesempatan konfrensi di Mesir, Pak Habibie pernah berkata, “Saya ini adalah seorang teknokrat, saya bisa membuat pesawat terbang, saya memiliki ilmu itu. Tapi setelah saya sadari, bahwa ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu ilmu agama.”

Ustadz Adi Hidayat, Lc. MA pun pernah bercerita tentang kedahsyatan Pak Habibie ini, semata-mata karena didikan to yang mendidik Pak Habibie seperti Imam Nawawi, gemar belajar, ibadah, dan membaca buku.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, siapapun yang dekat dengan Al-Quran akan diberkahi dan teranugerahi kecerdasan yang luar biasa. Sosok Eyang Habibie saya rasa salah satunya.

Masyaa Allah…
Hari ini kita kehilangan sumber mata air Indonesia. Semoga ke depan Indonesia bisa kembali teranugerahi sosok seperti Pak Habibie.

Al-Fatihah…

https://muslimobsession.com/rahasia-kecerdasan-b-j-habibie-yang-tak-terungkap/

Senin, 04 November 2019

Sayyid Qutb

Sayyid Qutb Mati, Tapi Idenya Abadi bagi Kaum Islam-Politik Reporter: Akhmad Muawal Hasan 29 Agustus 2017. 
Pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb menjadi api bagi gerakan-gerakan Islam-politik, mulai PKS sampai al-Qaeda. tirto.id - 29 Agustus 1966, atau 51 tahun yang lalu, adalah hari terakhir bagi Sayyid Qutb untuk mencurahkan buah pemikirannya pada lembaran-lembaran kertas selama mendekam di penjara. Pemerintah Mesir mendakwa Qutb terlibat dan bersalah dalam rencana pembunuhan (yang gagal) terhadap Wakil Perdana Menteri Gamal Abdul Nasir, sehingga hari itu ia dieksekusi dengan cara digantung. Lahir dengan nama lengkap Sayyid Qutb Ibrahim Husayn Shadilli pada 9 Oktober 1906, Qutb tumbuh besar di Musha, Provinsi Asyut, era Mesir masih menjadi Khedivate atau negara bagian Kekhalifahan Ottoman. Perjuangannya menegakkan syariat Islam dipengaruhi aktivisme politik sang ayah yang rutin mengadakan pertemuan mingguan untuk membahas peristiwa terkini maupun mengaji Al-Qur'an beserta maknanya. 
Di usia 10 tahun Qutb menjadi 'hafiz', istilah untuk seorang penghafal Al-Qur'an. Meski demikian minatnya pada literatur lain juga tinggi. Qutb membaca cerita detektif Sherlock Holmes, buku Seribu Satu Malam, literatur tentang astrologi, dan lain sebaganinya. Qutb rajin menabung demi melengkapi koleksi perpustakaan pribadinya. Di usia yang masih belia, ia telah mengoleksi 25 buku lintas tema kajian di kamarnya, hasil dari melobi seorang penjual buku di dekat rumah. Sebelum dikenal sebagai filsuf, Qutb muda menulis karya sastra selama periode 1932-1949. Dari tahun 1947 hingga 1950 ia sempat tinggal di Amerika Serikat untuk mempelajari sistem pendidikan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado. Salah satu karya terbaik Qutb ditulis di masa persentuhan langsungnya dengan peradaban Barat ini, yakni “Al-'adala l-Ijtima'iyya fi-l-Islam” (Keadilan Sosial dalam Islam) yang diterbitkan pada 1949. 
Sekembalinya ke Mesir, Qutb menerbitkan buku The America that I Have Seen (Amerika yang Telah Kulihat). Isinya adalah kritik eksplisit atas kehidupan di AS, yang kemudian mewakili pandangannya atas kehidupan di Barat secara umum. Bagi Qutb, Barat ada dalam materialisme, kebebasan individualistik, sistem ekonomi (kapitalisme), rasisme, antusiasme pada olahraga yang brutal (tinju), komunikasi dan hubungan pertemanan yang dangkal, kurangnya perasaan artistik, hubungan sesama jenis kelamin, dan dukungan kuat untuk Israel. Pendek kata, Qutb menolak sistem nilai yang dianut Barat dan makin memantapkan diri berjuang untuk tegaknya Islam di tanah kelahirannya, Mesir. Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negara dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin (IM) di awal 1950-an. Pemikiran-pemikirannya kian terasah sejak ia menjadi pemimpin redaksi majalah propaganda mingguan IM, Al-Ikhwan al-Muslimin. Apalagi ia kemudian ditunjuk sebagai anggota komite kerja dalam dewan pembimbing, cabang tertinggi dalam organisasi. Qutb dan kawan-kawan pernah mesra dengan Gamal Abdul Nassir sebagai wakil dari barisan nasionalis Mesir. IM mendukung kudeta Nasir atas pemerintahan Raja Faruk yang pro-Barat pada Juli 1952, sebab rezim itu dianggap tak Islami. IM pun berharap Nasir akan mendirikan pemerintahan Islamisai usai revolusi, tapi bulan madu keduanya segera berakhir setelah Nasir menegaskan akan membentuk pemerintahan sekuler-nasionalis di Mesir. Baca juga: Sulitnya Merontokkan Radikalisme Nasir tahu bahwa IM punya potensi untuk menggoyahkan kekuasaannya sebab kala itu sedang menikmati popularitas yang cukup tinggi di kalangan rakyat Mesir. Sembari membentuk pemerintahan baru, Nasir juga membuat sebuah organisasi rahasia bernama Tahrir (kebebasan) untuk mengatasi hal-hal buruk yang diinisiasi oleh IM. Qutb tak tahu akan rencana ini. Ia masih sering berdiskusi dengan Nasir sembari melobi agar Mesir baru mendapat sentuhan Islami sebagaimana cita-cita IM. Namun makin lama Qutb makin menyadari bahwa upayanya akan sia-sia. Sikap nasionalistik Nasir hampir tak tergoyahkan. Qutb pun menolak segala tawaran Nasir dalam pemerintahan baru, termasuk jabatan Menteri Pendidikan maupun Menteri Kesenian. Qutb yang kecewa tak hanya memilih untuk menjauh dari Nasir, tapi juga terlibat dalam konspirasi IM untuk membunuh Nasir. Sayang, plot ini gagal. Nasir menggerakkan Tahrir dan aparat negara lain untuk memenjarakan Qutb dan menangkap anggota IM lain. Qutb mendapat kondisi yang buruk selama dipenjara, termasuk penyiksaan. Namun, di tempat itu juga ia melahirkan dua karya penting lain yang menjadi tonggak ideologi Qutbisme, Fi Zilal al-Qur'an (Di Bawah Naungan Al-Qur'an) dan Ma'alim fi'l-Tariq (Milestone/Tonggak). Qutb sempat dibebaskan pada akhir tahun 1964 atas permintaan pribadi Perdana Menteri Irak saat itu, Abdul Salam Arif. Namun, delapan bulan berikutnya, Agustus 1965, ia kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang sama. Dalam persidangan, dakwaan untuk Qutb banyak diambil dari buku Ma'alim fi'l-Tariq. Puncaknya, Qutb dan enam anggota IM lain dijatuhi hukuman mati karena persekongkolan untuk membunuh presiden dan pejabat negara Mesir lainnya. Idenya Abadi bagi PKS hingga Al-Qaeda Meski telah meninggal, ideologi Qutb tetap abadi di hati para pengikutnya dari kalangan muslim yang percaya bahwa hukum Islam harus diberlakukan oleh negara. Nama Qutb tak bisa dilepaskan dari pendiri IM Hasan al-Banna. Premis mayor Qutbisme didasarkan bahwa kondisi dunia telah jatuh lagi ke masa Jahiliyah atau masa sebelum kedatangan Islam, baik untuk dunia Barat maupun negara-negara muslim yang condong ke sekuler-nasionalis.  Baca juga: Di Balik Menguatnya Intoleransi di Indonesia Qutb berketetapan bahwa hukum negara mesti mengacu pada Al-Qur'an sebagai hukum Tuhan, bukan hukum bikinan manusia (demokrasi, sosialisme, sekulerisme, dan sebagainya). Sebagaimana ia sampaikan di buku Ma'alim fi'l-Tariq, yang dinilai sebagai tonggak pemikiran Qutbisme itu sendiri, penerapan syariat Islam secara kaffah alias menyeluruh di dalam sendi-sendi kehidupan akan membawa tak hanya keadilan, namun juga ketenangan diri, penemuan ilmiah, kebebasan dan manfaat lainnya. Serupa dengan pemikiran Hasan al-Banna, Qutb memberikan dasar teologis untuk jihad bagi para fundamentalis Islam sedunia, dan dipraktikkan secara beragam oleh berbagai macam organisasi, mulai dari yang lunak hingga yang ekstrem. Karena yang diutamakan adalah penerapan hukum syariat, jihad beberapa kelompok juga menyasar pemerintahan Islam di suatu negara yang biasanya dituduh berciri moderat, liberal, atau bahkan sekuler. 

Dalam versi lunak, idealisme Qutb bisa ditemukan dalam Perjuangan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ada banyak penelitian yang mengafirmasi kaitan ini. Salah satunya termuat dalam buku Islamist Parties and Political Normalization in the Muslim World yang diedit oleh Quinn Mecham dan Julie Chernov Hwang, terbitan tahun 2014 oleh University of Pennsylvania Press. Di dalamnya, disebutkan bahwa akar PKS adalah Gerakan Tarbiyah yang marak di masjid-masjid kampus jelang akhir rezim Orde Baru. Para pegiatnya menyebarkan ide-ide Sayyid Qutb dan Hassan al Banna sebagai tahap pertama dari resolusi jangka panjang, yakni mengislamisasi kehidupan umat muslim Indonesia dalam bingkai syariat. Pola ini masih ditemukan dalam pergerakan politik Islam di Indonesia era kontemporer. 
Demikian pula dalam buku Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen karya M. Idadun Rahmat atau Islamism and Democracy in Indonesia: Piety and Pragmatism karya Masdar Hilmy, PKS disebut banyak mengadopsi pemikiran maupun gerakan IM yang dimotori oleh duo Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna. 
Sementara itu, dalam versi ekstrem, pemikiran jihad Qutb memberi api bagi pergerakan kelompok Al-Qaeda. Kaitannya bisa ditelusuri dari sosok Muhammad Qutb, adik Sayyid Qutb. Usai huru-hara akibat kegagalan upaya pembunuhan Nasir, Muhammad Qutb termasuk salah satu anggota IM yang dipenjara rezim. Usai dibebaskan, ia pindah ke Arab Saudi dan menjadi profesor di Studi Islam untuk terus menyebarkan pemikiran-pemikiran kakaknya. Salah satu muridnya adalah Ayman Al-Zawahiri, mantan anggota kelompok Jihad Islam Mesir atau Egyptian Islamic Jihad yang sejak akhir 1970-an digolongkan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah Mesir, pemerintah Inggris, hingga PBB. Sebelumnya Zawahiri pernah dikenaalkan kepada Sayyid Qutb oleh pamannya, Mafouz Azzam. Kekaguman Zawahiri pada Sayyid Qutb ia tuangkan dalam buku Knight under the Prophet's Banner (Ksatria di Bawah Spanduk Sang Nabi). Zawahiri pun menurunkan pemikiran Qutb kepada murid-muridnya. Salah satunya adalah Osama bin Laden. Osama dilaporkan rutin menghadiri kuliah mingguan Muhammad Qutb di Universitas King Abdul Aziz dan telah menjadi pengagum Qutb sejak lama. Osama dan beberapa tokoh Suni militan lain kemudian membentuk organisasi yang punya reputasi teror mulai dari Timur Tengah hingga Amerika Utara: Al-Qaeda. Osama boleh mati pada 2011, tapi Al-Qaeda masih hidup hingga hari ini di bawah kepemimpinan Zawahiri.
 
 Reporter: Akhmad Muawal Hasan Penulis: Akhmad Muawal Hasan Editor: Maulida Sri Handayani Pemikiran Qutb menginspirasi berbagai gerakan mulai yang lunak seperti PKS hingga yang ekstrim seperti Al-Qaeda 

Baca selengkapnya di artikel "Sayyid Qutb Mati, Tapi Idenya Abadi bagi Kaum Islam-Politik", https://tirto.id/cvvc.

Selasa, 29 Oktober 2019

keutamaan Majlis ilmu


EMPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERTEMUAN

Mengapa kami rajin menghadiri liqa? Karena sangat banyak keutamaan yang bisa kami dapatkan darinya.
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” Hadits Riwayat Muslim, no. 2699.
Dalam hadits tersebut, Nabi Saw menyebutkan empat kebaikan yang akan diberikan Allah kepada mereka yang berada dalam majelis ilmu.
1. Mendapatkan Sakinah atau Ketenangan
“Nazalat ‘alaihim as sakinah”, akan turun kepada mereka ketenangan.
Demikianlah yang selalu kita rasakan, apabila mengikuti forum dimana kita membaca kitab Allah dan mengkaji ilmu syar’i.
Suasana ketenangan ini membuat kita semua betah berlama-lama dalam majelis ilmu.
Bahkan sebagian ---saking tenangnya--- menjadi mengantuk dan tertidur di majelis ilmu. Hal ini menjadi fenomena yang sering kita jumpai di berbagai majelis ilmu, termasuk ketika mendengarkan khutbah Jumat.
Sepulang dari majelis ilmu, hati kita diliputi oleh suasana tenang, tenteram, damai dan ingin hadir lagi dalam majelis ilmu berikutnya.
2. Mendapatkan Naungan Rahmat Allah
Tatkala ada sahabat yang berdzikir kepada Allah, Nabi Saw melewat majelis mereka, maka beliau bersabda, “Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.”
Hadits Riwayat Al Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Imam Al Hakim mensahihkan hadits ini, dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi.
Demikianlah, majelis ilmu yang dibacakan kitab Allah dan diajarkan ilmu di dalamnya, akan mendapatkan curahan rahmat Allah Ta’ala.
3. Dikelilingi Para Malaikat
Majelis ilmu akan dikelilingi oleh para malaikat Allah.
Dalam hadits dinyatakan, tanda malaikat ridha terhadap para penuntut ilmu adalah, mereka meletakkan sayapnya.
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.”
Hadits Riwayat Abu Dawud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; At Tirmidzi, no. 2682. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun Syaikh Al Albani mensahihkan hadits ini.
Para malaikat benar-benar menghormati para penuntut ilmu. Bahkan malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu tersebut. (Tuhfatul Ahwadzi, 7: 493)
4. Disebut oleh Allah di Hadapan MakhlukNya yang Mulia
Orang-orang yang berada dalam majelis ilmu, akan disebut oleh Allah Ta’ala di hadapan para makhluk yang mulia.
Dalam hadits qudsi Nabi Saw bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman:
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu.”
Hadits Riwayat Muslim, no. 2675.
Masyaallah, betapa keren mereka yang berada dalam majelis ilmu.
Mereka disebut oleh Allah di hadapan makhlukNya yang mulia.
https://ruangkeluarga.id/empat-kebaikan-dalam-setiap-pertemuan/