Selasa, 12 Mei 2020

Cara Cegah Penyakit Autoimun dr Zaidul Akbar


BANGKAPOS.COM - Belakangan ini penyakit autoimun menjadi sangat ramai diperbincangkan. Pasalnya, penyakit ini diderri artis Ashanty yang merupakan istri musisi Anang Hermansyah.

Penyakit autoimun ini merupakan penyakit yang terjadi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel yang sehat dalam tubuh.

Penggagas kampanye Jurus Sehat Rasulullah dr Zaidul Akbar memberikan cara mencegah autoimun.

Ia menceritakan bahwa tetangganya mengalami penyakit autoimun, dengan perjungan pengobatan.

Padahal menurutnya, jika mengerti konsep pengobatannya gampang sekali mengobati autoimun ini.

Saya punya tetangga dekat rumah itu bapak ibu sekalian, subhanallah dia harus ngantri dari jam 3 pagi untuk dapat pengobatan jam 10 pagi coba.

Padahal apa? padahal kalau ngerti konsepnya, Masya Allah autoimun itu gampang sekali ngobatinnya, gampang Inysa Allah

Syaratnya gimana? stop dulu apa yang bikin masalah sama dia, apa yang jadi masalah dari autoimun? 2 yang paling utama

2 hal yang harus anda stop kalau anda mau terhindar dari autoimun.

Yang pertama apa? semua produk yang berbasiskan gluten atau tepung, semuanya

Yang kedua semua produk yang berbasiskan dairy, dairy itu apa? susu sapi, kenapa? dua hal ini bikin kacau beliau usus

Sementara Ashanty belum lama ini mengumumkan kabar mengejutkan tentang penyakit yang ia derita.

Baru-baru ini, istri Anang Hermansyah ini mengungkapkan bahwa dirinya menderita penyakit autoimun.

Autoimun sendiri merupakan kondisi di mana sistem imun mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsi normalnya.

Penyakit tersebut baru diketahui Ashanty saat ikut menjalani cek kesehatan di sebuah rumah sakit, meski awalnya hanya berniat menemani Anang Hermansyah.

Rupanya Ashanty sudah merasakan beberapa gejala aneh, seperti sulit tidur, sakit kepala, mudah lupa, stres dan cemas.

Ashanty pun merasa terkejut dan merinding lantaran penyakit autoimun belum ada obatnya.

"Diagnosa awal kaget banget, aku kena ' autoimun' sesuatu yg ngga pernah saya bayangkan, denger nya aja serem.. googling aja tadi ngeri2 banget," cerita Ashanty dalam postingannya di Instagram pada Selasa (9/10).

Namun Ashanty diminta oleh dokter untuk tak khawatir lantaran dirinya bisa sembuh jika melakukan terapi secara rutin.

Penyanyi berusia 34 tahun tersebut pun berharap penyakit autoimun yang ia derita belum serius sehingga lebih mudah disembuhkan.

"Tapi semua dokter disini sangat2 menenangkan, meyakinkan bahwa bisa sembuh dengan terapi. 3 hari lagi hasil darah aku keluar.. semoga masih tahap awal yaa, supaya penyembuhan nya ngga susah," tambahnya.

Usai mengabarkan tentang penyakitnya, Ashanty menerima banyak doa dan dukungan, termasuk dari kedua anak sambungnya, Aurel Hermansyah dan Azriel Hermansyah.

Hal ini ditunjukkan Aurel dan Azriel dengan mengunggah foto sekaligus pesan menyentuh untuk Ashanty di Instagram Story.

Ashanty Derita Penyakit Autoimun, Azriel Dan Aurel Hermansyah Beri Dukungan

"Semangat mom!! I love u sooo much (emoji hati) @ashanty_ash," bunyi pesan Aurel sembari menunjukkan foto keakrabannya dengan Ashanty di Instagram Story belum lama ini.

"@ashanty_ash Semangatt bunda (emoji hati)," ungkap Azriel dengan mengunggah foto Ashanty di Instagram Story miliknya.

(bangkapos.com/evan saputra)
selesai

© 2020 TRIBUNnews.com All Right Reserved

Minuman Kesehatan Autoimun ala dr. Zaidulakbar

Minuman Kesehatan Autoimun ala dr. Zaidulakbar

Resep by dr. Zaidulakbar

Bahan-bahan

  1. 300 ml Air
  2. 2 batang sereh dipotong-potong
  3. 1 buah jeruk nipis
  4. 2 sdm madu

Langkah

  1. Masukkan potongan sereh ke air matang, rebus hingga berubah warna kekuningan jangan sampai mendidih bgt

  2. Biarkan air rebusan hingga hangat, setelah hangat campurkan dengan air perasan jeruk nipis dan madu.

  3. InsyaAllah minuman ini bila untuk autoimun sehari bisa diminum 3-5 kali.

  4. Selamat mencoba


Kamis, 07 Mei 2020

Berapa lama kita bersama orangtua?

Berapa lama kita bersama orangtua?
🤔🤔🤔
1. masa balita bersama ibu (5th)
2. masa anak anak lebih banyak bermain (TK-SD 6-12=6th)
3. masa remaja bersama teman (SMP+SMA=13-18=6th)
4. masa kuliah 19-25th=4-6th jauh dirantau luar kota
5. masa berkeluarga 25-75th (= ±50 th bersama suami/istri)
Pintu surga terdekat kita adalah ridho kedua orangtua

Pintu surga terdekat kita ada pada kedua orangtua

upayakan jangan sampai kedua orangtua kita susah, sedih, apalagi menangis, lebih parah lagi kalau sampai marah,
  upayakan keduanya senang, bahagia, gembira, tertawa 
😍🤩😁
وَاَ نَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَ بْكٰى ۙ 
"dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis (An Najm:43)

imam abu hanafi madzhab hanafi

Mengenal Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi



Imam Abu Hanifah (80-150 H) lahir dari keluarga pedagang. Ayahnya bernama Tsabit, pedagang sutra yang masuk Islam masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Kakek Abu Hanifah, Zuthi, adalah tawanan pasukan muslim saat menaklukan Irak. Setelah dibebaskan, Zuthi mendapatkan hidayah dan masuk Islam.

Semasa hidupnya, Zuthi menjalin hubungan baik dengan Ali bin Abu Thalib, sahabat Nabi yang menetap di Kufah. Hubungan baik ini kemudian diteruskan oleh anaknya, Tsabit. Bahkan dikisahkan, Ali bin Abu Thalib mendoakan keturunan Tsabit agar selalu diberkahi Allah SWT.

Tidak lama kemudian, Abu Hanifah lahir. Dia tumbuh seperti halnya anak kecil pada umumnya. Sejak kecil dia sudah hafal al-Qur'an dan menghabiskan waktunya untuk terus-menerus mengulangi hafalan agar tidak lupa. Pada bulan Ramadan, Abu Hanifah bisa mengkhatamkan al-Qur'an berkali-kali berkat hafalannya.

Abu Hanifah awalnya tidak terlalu serius belajar agama. Belajar agama hanyalah sambilan, bukan tujuan utama. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdagang di pasar. Maklum, beliau memang keturunan pedagang. Keseriusannya belajar agama timbul setelah bertemu al-Sya'bi, seorang ulama besar saat itu.

Al-Sya'bi menyarankan agar Abu Hanifah memperdalam ilmu agama dan mengikuti halaqah (pengajian) para ulama. "Kamu wajib memperdalam ilmu dan mengikuti halaqah para ulama. Karena kamu cerdas dan memiliki potensi yang sangat tinggi," tutur al-Sya'bi.

Nasihat ini sangat berbekas dalam hati Abu Hanifah. Dia menunjuk orang lain untuk mengurusi dagangannya. Sesekali dia mengontrol dan memastikan usahanya lancar. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk belajar dan menghadiri halaqah ulama.

Salah satu halaqah yang sering dihadiri Abu Hanifah adalah halaqah Hammad bin Abu Sulaiman. Beliau adalah guru yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Abu Hanifah. Dia belajar selama 18 tahun kepada Hammad. Andaikan beliau tidak wafat tahun 120 H, tentu Abu Hanifah masih terus belajar kepadanya. Setelah Hammad meninggal, Abu Hanifah diminta mengisi halaqah keagamaan di Kufah.

Pergulatan Intelektual Abu Hanifah

Sebelum Islam datang, di Irak tradisi keilmuan sudah berkembang dan peradabannya sudah mapan. Ada banyak sekolah dan tempat diskusi. Filsafat termasuk salah satu disiplin keilmuan yang cukup diminati kala itu.

Maraknya kajian filsafat ini berdampak terhadap berkembangnya kajian ilmu kalam (teologis) dalam Islam. Para intelektual muslim saat itu lebih banyak memperdalam ilmu kalam, logika, dan debat (jidal). Ketiga ilmu ini harus dikuasai untuk merespons pertanyaan dan permasalahan teologis yang dilontarkan oleh para filsuf.

Abu Hanifah pada mulanya memperdalam ilmu kalam. Beliau turut serta meramaikan perdebatan teologis pada waktu itu. Kitab Fiqhul Akbar menjadi bukti kepiawaian Abu Hanifah dalam ilmu kalam. Hingga akhirnya, dia menyadari bahwa ilmu ini tidak ada manfaatnya dan tidak berdampak terhadap generasi berikutnya.

Dalam pandangan beliau, ilmu fikih adalah ilmu yang paling bermanfaat dan sangat berguna bagi masyarakat. Sejak itu, Abu Hanifah mulai memperdalam ilmu fikih dan belajar langsung kepada ulama yang ahli di bidang fikih di Irak.

Abu Hanifah termasuk ulama yang terbuka. Dia mau belajar dengan siapapun. Sejarah menunjukan bahwa beliau pernah belajar dengan tokoh muktazilah dan Syi'ah. Meskipun demikian, Abu Hanifah tidak fanatik dengan pemikiran gurunya. Sekalipun pernah belajar dengan pembesar Syi'ah, Abu Hanifah tidak pernah mencaci-maki dan menjelekkan sahabat Nabi.

Sa'id bin Abi 'Arubah (w. 156 H) mengatakan, "Saya pernah menghadiri kajian Abu Hanifah dan dia memuji Utsman bin Affan. Saya tidak pernah sebelumnya mendengar orang memuji Utsman di Kufah".

Keterbukaan Abu Hanifah terhadap berbagai macam aliran ini tidak lepas dari pengaruh kondisi sosial keagamaan yang mengitari hidupnya. Beliau hidup di tengah masyarakat yang plural dan beragam. Di sana tumbuh berbagai macam aliran keagamaan dan keilmuan. Ada Syi'ah, Muktazilah, dan Khawarij.

Karena sudah terbiasa hidup dengan kelompok yang berbeda, Abu Hanifah selalu berpesan kepada murid-muridnya agar selalu menjaga adab dan tutur kata ketika berhadapan dengan masyarakat, terutama orang yang berilmu. Pesan ini selalu disampaikan agar masyarakat bisa dekat dan tidak resah dengan pendapat yang disampaikan.

Abu Hanifah menyatakan, "Kalau kalian berada di tengah masyarakat dan dihadapkan sebuah permasalahan, jawablah sesuai dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Setelah itu, baru kemukakan pendapat pribadimu beserta argumentasinya".

Mengetahui aliran dan mazhab yang berkembang dalam sebuah masyarakat sangatlah penting, supaya bijak dalam berpendapat. Jangan sampai memaksakan pendapat pribadi terhadap masyarakat yang juga memiliki pandangan keagamaan tersendiri. Misalnya, kalau berada di tengah masyarakat mayoritas madzhab Syafi'i, jangan paksakan pendapat Mazhab Hanafi. Begitu pun sebaliknya.

Penolakan yang berujung kematian

Abu Hanifah termasuk salah satu ulama yang tidak mau menerima bantuan pemerintah. Seluruh biaya hidupnya ditanggung sendiri dan diperoleh dari hasil usaha dagangannya. Hal inilah yang membedakan Abu Hanifah dengan Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki, di mana biaya hidupnya ditanggung seluruhnya oleh baitul mal.

Abu Hanifah pernah hidup dalam dua kekuasaan dinasti Islam terbesar, Umawiyah dan Abasiyah. Beliau memiliki pengalaman hidup di bawah kekuasaan Umawiyah selama 5 tahun dan 18 tahun dengan Abasiyah.

Saat Bani Umawiyah menguasai Irak, Abu Hanifah pernah ditawari jabatan hakim oleh Ibnu Hubayrah, penguasa Irak saat itu. Tapi, Abu Hanifah menolak. Beliau tidak mau menjadi hakim pemerintahan Umawiyah.

Ibnu Hubayrah tetap memaksa Abu Hanifah dan mengancam jika tak dipenuhi keinginannya. Abu Hanifah tetap tegar dengan pendiriannya, sehingga dia dihukum cambuk dan dipenjarakan. Saking kuatnya pendirian Abu Hanifah, bekas cambukan itu tidak membuat hatinya luntur dan sedih. Malahan, tukang cambuknya letih sendiri dan merasa kasihan dengan kondisi Abu Hanifah. Tidak lama setelah itu, Abu Hanifah dibebaskan.

Setelah Dinasti Umawiyah digantikan Abasiyah, penguasa Abasiyah menawarkan jabatan serupa kepada Abu Hanifah. Khalifah Abu Ja'far langsung menemui dan memintanya menjadi hakim. Abu Hanifah tetap seperti semula. Dia menolak jabatan itu.

Abu Ja'far pun marah dan menghukum Abu Hanifah. Dia dipenjara dan dicambuk berkali-kali. Ada yang mengatakan, Abu Hanifah dicambuk 10 kali tiap hari. Kondisi Abu Hanifah makin lama menyedihkan. Dia dikeluarkan dari penjara dan dilarang mengajar dan berfatwa. Tidak lama setelah dikeluarkan dari penjara, Abu Hanifah dipanggil Sang Pencipta.

Abu Hanifah meninggal tahun 150 H, pada tahun itu pula pendiri Mazhab Syafi'i, Muhammad bin Idris al-Syafi'i, lahir. Ribuan orang mengantarkan Abu Hanifah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Konon ada sekitar 50 ribu orang yang ikut mensalati Abu Hanifah, termasuk Khalifah Abu Ja'far. (drs)


https://www.google.com/amp/s/beritagar.id/artikel-amp/ramadan/mengenal-abu-hanifah-pendiri-mazhab-hanafi

Rabu, 06 Mei 2020

Imam al-Syafii wafat pada 30 Rajab 204 H

Berkenalan dengan Imam al-Syafi'i, pendiri Mazhab Syafi'i


Sebagai muslim Indonesia, tentu mayoritas kita tidak asing dengan Imam al-Syafi'i. Ia merupakan pendiri Mazhab Syafii. Mazhab ini cukup banyak dianut di Indonesia, bahkan bisa dibilang mayoritas di Indonesia.

Nama lengkap pendiri mazhab ini adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi' bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib. Nama terakhir adalah kakek dari Rasulullah.

Imam Syafii lahir dari rahim seorang ibu yang salehah, serta dari ayah yang terkenal kesabaran dan keikhlasannya. Bahkan Syafi' bin Saib, kakek buyutnya, merupakan sahabat Rasulullah SAW. Nama al-Syafi'i, yang akrab di telinga kita, diambil dari nama kakek buyutnya tersebut. Sedangkan ibunya merupakan perempuan keturunan Ali bin Abi Thalib RA dari jalur Sayyidina Husein RA.

Idris, ayah Imam al-Syafi'i adalah seorang pemuda asal Makkah yang merantau ke Gaza, Palestina. Di Gaza ia bertemu dengan Fatimah binti Ubadillah, seorang perempuan salehah dari kaum Azdi. Idris menikah dengan Fatimah binti Ubaidillah, dengan tanpa sengaja. Pasalnya, saat itu Idris sedang dihukum ayah Fatimah karena tidak sengaja memakan buah delima milik ayah Fatimah yang hanyut di sungai.

Harapannya, kelak, agar ayah Fatimah mau mengikhlaskan buah tersebut, Idris rela menjadi buruh ayah Fatimah hingga beberapa tahun tanpa digaji. Keikhlasan Idris inilah yang membuat ayah Fatimah menjatuhkan pilihan kepadanya sebagai menantu.

Buah cinta dari keduanya lahir pada tahun 150 H. Saat itu, bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar: Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit, pendiri Mazhab Hanafi yang wafat di Irak dan Imam Ibn Jureij al-Makky, seorang mufti Hijaz yang wafat di Makkah. Hal ini disebut sebagai salah satu firasat bahwa bayi yang lahir tersebut akan menggantikan dua ulama yang telah meninggal, baik dalam keilmuan dan kesalehan.

Kehidupan bahagia Idris, Fatimah dan jabang bayi tidak berjalan bahagia. Idris, ayah Imam al-Syafi'i meninggal dunia dalam usia yang relatif muda. Fatimah harus berjuang sendiri mengasuh buah hati dalam kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan.

Sadar dengan kondisi dirinya saat itu, Fatimah kemudian membawa bayinya yang masih berumur dua tahun ke Makkah, kota asal ayahnya. Ia ingin putra semata wayangnya tumbuh besar di tanah kelahiran ayahnya.

Minat Keilmuan Imam al-Syafi'i: dari Sastra, Fikih hingga Hadis.

Jika keilmuan yang berkembang di Irak adalah filsafat dan melahirkan para tokoh yang beraliran rasionalis seperti Abu Hanifah, beda halnya dengan Makkah, tempat Imam al-Syafii tumbuh remaja. Di Makkah justru sedang berkembang ilmu kesusasteraan. Bahkan Makkah menjadi salah satu tujuan favorit bagi para penuntut ilmu sastra Arab.

Tinggal di lingkungan yang dihuni para ulama sastra, tidak disia-siakan oleh Imam al-Syafii. Ia sangat menggandrungi prosa dan syair-syair Arab klasik. Masa mudanya di Makkah ia habiskan untuk mencari naskah-naskah sastra, berkeliling ke kabilah-kabilah badui padang pasir, seperti kabilah Hudzel (salah satu kabilah yang terkenal sebagai ahli sastra) untuk belajar sastra. Bahkan ia rela menetap beberapa hari di kabilah-kabilah tersebut demi mempelajari sastra Arab.

Hobinya belajar sastra Arab ini secara tidak langsung memudahkan ia memahami Alquran dan hadis. Kedua hal ini penting sekali dalam proses berijtihad dan menggali hukum syariat. Karena memahami Alquran maupun hadis dibutuhkan kepiawaian dalam memahami Alquran yang diturunkan dalam bahasa Arab yang fasih dan murni.


Kepiawaian al-Syafii dalam bidang sastra ini akhirnya menjadikannya mahir dalam menggubah syair-syair Arab. Syair-syair karya Imam al-Syafii tersebut kemudian dikumpulkan oleh Syekh Yusuf Muhammad al-Biqa'i dan jadilah buku kecil berjudul Diwan al-Syafi'i yang memuat sekitar 150an syair karya al-Syafii yang terserak dalam karya-karyanya.

Menurut al-Hamawi dalam Irsyad al-Arib fi Ma'rifah al-Adib, ketertarikan Imam al-Syafii terhadap sastra Arab nyatanya hanya menjadikannya bersyair dan berdendang sehari-harinya. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan Mus'ab bin Abdullah bin Zubair dan menganjurkannya untuk belajar fikih dan hadis.

Tidak hanya Mus'ab, Imam Muslim bin Khalid, guru Imam al-Syafi'i yang lain juga menganjurkannya untuk belajar fikih.

"Alangkah baiknya jika kecerdasanmu itu digunakan untuk mempelajari ilmu fikih, hal ini lebih baik bagimu," nasihat Imam Muslim bin Khalid kepada Imam al-Syafi'i.

Ucapan tersebut diakui sendiri oleh al-Syafii sebagai pelecut semangatnya untuk belajar ilmu fikih dan hadis. Ia pun belajar kepada dua ulama besar Makkah saat itu: Imam Sufyan bin Uyainah, pakar hadis dan Muslim bin Khalid al-Zanji, pakar fikih Mekkah.

Hijrah demi Ilmu

Hijrah yang dimaksud dalam hal ini bukan hijrah dalam arti tobat, sebagaimana yang sering digunakan saat ini. Hijrah dalam hal ini adalah berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Sebagaimana hijrahnya nabi dari Makkah ke Yatsrib, Madinah.

Selain hijrah ke Madinah pada tahun 170 H untuk belajar langsung kepada Imam Dar al-Hijrah, yakni Imam Malik bin Anas, Imam al-Syafii juga berkunjung ke Irak dan Kufah untuk belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah, sebelum akhirnya kembali lagi ke Madinah menemani Imam Malik hingga wafat pada tahun 179 H.

Bahkan Imam al-Syafi'i terhitung berkunjung ke Irak sebanyak tiga kali. Selain Irak, Ia juga pernah berkunjung ke Persia, Turki dan Ramlah (Palestina), hingga akhirnya menetap dan wafat di Mesir.

Kesempatan Imam al-Syafii untuk berkunjung ke berbagai kota ini tak ayal membantunya mengetahui budaya serta adat istiadat yang berlaku di kota-kota tersebut. Hal ini secara tidak langsung menjadi referensi Imam al-Syafii untuk membangun fatwa-fatwa dalam mazhabnya kelak.

Kegemaran Imam al-Syafi'i dalam berhijrah dari kota ke kota ini didokumentasikannya dalam beberapa bait syair tentang anjuran untuk berhijrah, di antaranya:

"Musafirlah! Engkau akan menemukan sahabat baru pengganti sahabat-sahabat lama yang engkau tinggalkan. Dan bekerjalah yang giat! Karena kenikmatan hidup akan tercapai dengan bekerja keras."

"Singa jika tidak keluar dari sarangnya, ia tidak akan mendapatkan makanan. Begitu juga dengan anak panah, jika tidak meluncur dari busurnya, anak panah tersebut tidak akan mengenai sasaran."

Rangkaian hijrah Imam al-Syafii tersebut menghasilkan 'permata' yang tidak ternilai harganya. Menurut Syekh Ali Jum'ah, Imam al-Syafii menulis lebih dari 30 karya monumental. Sayangnya, tidak semuanya sampai di tangan kita. Beberapa kitab hilang dan beberapa kitab masih dalam proses pengetikan dan pentahqiqan (koreksi).

Salah satu karya hebatnya adalah kitab al-Risalah, yang disebut-sebut sebagai kitab ushul fikih pertama yang ditulis secara sistematis. Berkat al-Risalah juga, Imam al-Syafi'i dijuluki sebagai Nasir al-Sunnah (pembela sunnah).

Dituduh sebagai pengikut dan penyebar faham Syiah

Ketika Imam al-Syafi'i menjadi mufti di Yaman, fitnah kejam melanda dirinya. Saat itu ia difitnah sebagai pendukung partai Syiah yang sedang gencar-gencarnya mengancam eksistensi negara dan khalifah saat itu.

Hal ini tentu maklum, karena khalifah saat itu adalah Harun al-Rasyid adalah bagian dari Dinasti Abbasiyah, dinasti yang berseteru dengan kelompok Syiah. Imam al-Syafii pun dijebloskan ke dalam penjara dan hampir dihukum mati, karena diisukan berkomplot untuk menumbangkan khalifah.

Namun Imam al-Syafii mencoba berdiskusi dengan Khalifah Harun al-Rasyid. Sebagaimana dikisahkan oleh al-Hamawi, Imam al-Syafii ditanya tiga hal, meliputi pemahaman terhadap Alquran, keilmuan astronomi dan nasab kaum Arab.

Tak disangka, jawaban yang diberikan oleh Imam al-Syafi'i cukup mengena di hati khalifah, sekaligus menjadi bantahan atas tuduhan sebagai pengikut Syiah yang dialamatkan kepadanya. Ia dibebaskan dan diberi hadiah 5 ribu dinar, bahkan khalifah memintanya secara khusus untuk mengajarnya.

Imam al-Syafi'i menghabiskan waktunya untuk mengajar di Mesir. Menurut al-Dzahabi dalam Siyar A'lam al-Nubala' dengan mengutip kaul al-Rabi' bin Sulaiman, Imam al-Syafii membagi malamnya menjadi tiga: sepertiga pertama digunakan untuk menulis, sepertiga kedua digunakan untuk shalat malam, dan sepertiga terakhir digunakan untuk tidur. Imam al-Syafii wafat pada 30 Rajab 204 H. dalam usia 54 tahun. (drs)


Artikel ini ditulis oleh M. Alvin Nur Choironi, Lc. Penulis adalah editor keislaman di islami.co dan alumnis Pesantren Darussunnah, Jakarta.

generasi halaf

Generasi yg lahir *setelah tahun 200 H disebut khalaf*:

imam bukhori 210H, imam muslim tirmidzi, imam abu dawud, imam nasai, imam ibnu taimiyyah, ibnu jauzy. 

*Generasi salafi lahir antara th 2H-200H*

Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), (Bahasa Arab: مالك بن أنس),lahir di (Madinah pada tahun 714M / 93H), dan meninggal pada tahun 800M / 179H). 

imam syafii lahir 150H, Imam ahmad lahir164H, wafat pada 30 Rajab 204 H. dalam usia 54 tahun. ( ust adi hidayat)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah [30] (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, As-Sunnah: “Inilah madzhab ahlul ‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, dari semenjak zaman para Sahabat Radhiyallahu anhumg hingga pada masa sekarang ini…” (1)

(1)Referensi pendukung: https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

Selasa, 05 Mei 2020

Ustadz Adi Hidayat , Dai Muhammadiyah Yang Ditahdzir Salafi Rodja

 Ustadz Adi Hidayat , Dai Muhammadiyah Yang Ditahdzir Salafi Rodja

Penulis

sangpencerah.id – Akhir-akhir ini di nama Ustadz Adi Hidayat mulai naik daun di kalangan netizen muslim. Ustadz Adi sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas melalui ceramah-ceramahnya di youtube, ceramahnya runtun sistematis dan ilmiah serta yang paling utama beliau menitikberatkan pada persatuan ummat islam dan saling tasamuh terhadap perbedaan yang bersifat furu’iyah

Jika kita menyimak ceramahnya, maka kita akan kagum dengan kuatnya hafalan beliau serta penyampaiannya yang santun. Ayat-ayat Al Quran dan kitab hadits seolah sudah tersimpan rapi dalam memori otaknya. Bukan hanya hafal Ustadz Adi bahkan hafal nomor-nomor hadits ,halaman serta letak posisi sebuah hadits di dalam kitab. Inilah keistimewaan beliau yakni otaknya yang jenius. Menurut penuturan beliau, tesis S2 nya hanya diselesaikan dalam waktu 4 hari.

Bagaimana latar belakang kehidupan Ustadz Adi Hidayat? Beliau mulai menekuni ilmu agama di Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Selama di ma’had beliau sudah terbiasa bercakap-cakap dengan bahasa Arab dalam kesehariannya. Beliau sempat menjadi ketua umum PR. Ikatan Remaja Muhammadiyah Darul Arqam periode 2001-2002 saat menginjak tingkat 2 aliyah.

Kisah Ustadz Adi Hidayat Ketika di Pesantren Muhammadiyah Garut

Selepas tamat dari Ma’had beliau melanjutkan ke Kulliyah Dakwah Islamiyah Libya perguruan tinggi ilmu dakwah internasional. Saat di Libya beliau aktif di PCI. muhammadiyah Libya sebagai penasehat. Dikarenakan kondisi Libya yang tak kondusif karena Arab Spring, beliau kembali ke Indonesia dan mengasuh pesantren Al Quran di Lebak Bulus. Beliau rutin mengisi pengajian di Mesjid Jaka Permai Bekasi dan videonya diunggah ke youtube. Hari ini jadwal beliau ceramah selama setahun sudah penuh dari mulai ceramah di mesjid, instansi atau rumah.

Belakangan ini ada pihak-pihak yang mentahdzir beliau Tersebar rekaman suara/audio Ustadz Abdullah Taslim,Lc.MA , salah seorang pemateri Radio/TV Rodja yang menyatakan agar para akhwat & ummat menjauhi dan tidak mengambil ilmu dari Ustadz Adi Hidayat, dengan alasan bahwa yang bersangkutan adalah orang yang MANHAJNYA BERMASALAH DAN PEMAHAMANNYA RUSAK meskipun pintar dan memilki hafalan Al-Qur’an & Hadits yang kuat berikut halaman dan nomor-nomornya sebab orientalis pun hafal qur’an dan hadits berikut halaman dan nomor-nomornya.

rekaman suara lengkapnya rekaman suara Ust Abdullah Taslim

Pernyataan orang ini (Abdullah Taslim) terhadap Ustad Adi Hidayat masih bersifat prematur karena tidak dilandasi oleh hujjah yang ilmiah. Contohnya, ia tidak menyebutkan prnyimpangan Ustad Adi Hidayat kecuali hanya karena beliau menghafal nomor dan nama surat dengan benar dan tepat. Tidak disebutkan penyimpangan Manhaj apa yang esensi dan substansial dari Ustad Adi Hidayat. Hanya dikatakan tidak jelas asal usul keilmuannya.

Ustadz Adi dituduh tidak berada pada manhaj yang benar. Menanggapi hal tersebut melalui status fbnya Ustadz Adi meminta agar mendoakan yang mentahdzir beliau menyampaikan dua hal, pertama mohon tidak saling berselisih karena hal (tahdzir) ini, karena yg tidak mudah diperbaiki ialah membangun ukhuwah, disamping menutup dosa yang mungkin banyak terjadi. Kedua, Kami mengajak pada asatidz yg mentahdzir (Alhamdullilah kami sudah mendapat rekamanan audionya) untuk  duduk bersama menjalin silaturahim, mudzakarah syar’i yyah (diskusi ilmiah Diniyyah) bila ada hal yg tidak sependapat. Ini akan lebih bijak dan mengecilkan resiko pecahnya ummat dan melahirkan dosa yg tidak ringan.

Menanggapi hal itu netizen pun berbondong-bondong membela Ustadz Adi Hidayat. Yang seperti ini sudah ada dari zaman dulu. Dan ustadz Adi bukanlah yang pertama. Sudah banyak ustadz lain yg kena tahdzir bahkan lebih parah. Akar masalahnya karena ada golongan yg merasa benar sendiri dan intoleran terhadap persoalan – persoalan  furu’iyah. Persoalan furu’ dianggap bagian dari manhaj.

Ketika semua pihak mengupayakan titik temu dan tasamuh dalam perbedaan anatara ummat islam namun masih ada kelompok yang intoleran terhadap pemahaman saudara umat islam lainnya yang berbeda, Biar bagaimanapun Ustadz Adi adalah aset umat Islam yang mesti kita manfaatkan keluasan ilmu dan kesantunan budi pekertinya. (robby/redaksi)

© Tim Sang Pencerah
https://www.google.com/amp/s/sangpencerah.id/2017/03/ustadz-adi-hidayat-dai-muhammadiyah-ditahdzir-salafi-rodja/%3famp