Jumat, 09 Desember 2022

Mati Syahid dalam Islam

Jenis-jenis Orang Gugur Mati Syahid dalam Islam
Alhafiz Kurniawan
Selasa, 7 Juni 2022 | 19:00 WIB Kedudukan syahid diraih oleh orang yang gugur di medan juang dalam membela agama Islam. Mereka yang meraih derajat syahid di jalan ini akan diperlakukan bebas jenazahnya dari mandi dan shalat jenazah. Sebenarnya derajat syahid yang mulia memiliki banyak jalan atau banyak pintu. Pada hadits berikut ini,
Rasulullah saw menyebutkan tujuh pintu syahid yang memberikan kesempatan bagi banyak orang.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَوْقَعَ أَجْرَهُ عَلَيْهِ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ، وَمَا تَعُدُّونَ الشَّهَادَةَ؟ قَالُوا الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْهَدَمِ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرَقِ شَهِدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدَةٌ
Baca Juga: Mati Membela Diri Melawan Begal Mati Syahid Artinya: “Rasulullah saw bersabda, ‘Sungguh Allah telah memberikan pahala kepadanya sesuai niatnya. Apa yang kalian tahu tentang orang-orang yang gugur sebagai syahid?’ Mereka menjawab, ‘Ya mereka yang gugur di jalan Allah.’ Rasulullah lalu menjelaskan, ‘Mati syahid ada tujuh jenis selain gugur di jalan Allah: (1) korban meninggal karena wabah tha’un (wabah pes) adalah syahid, (2) korban meninggal karena sakit perut juga syahid, (3) korban tenggelam juga syahid, (4) korban meninggal tertimpa reruntuhan juga syahid, (5) korban meninggal karena radang selaput dada (pleuritis) juga syahid, (6) korban meninggal terbakar juga syahid, dan (7) wanita meninggal karena hamil adalah syahid.’” (HR An-Nasa`i). Pada riwayat lain Rasulullah saw menyebutkan lima pintu syahid termasuk orang yang gugur di jalan Allah. Riwayat berikut ini datang dari Imam Bukhari dan Muslim yang menyebutkan lima pintu mati syahid
: وعن أبي هريرة رضي الله عنه، قال قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ المَطْعُوْنُ والمَبْطُوْنُ، والغَرِيْقُ، وصَاحِبَ الهَدْمِ، والشَهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ متفق عليه
Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang mendapat derajat syahid ada lima jenis, yaitu (1) korban meninggal karena wabah tha’un (pes), (2) korban meninggal karena sakit perut, (3) korban tenggelam, (4) korban reruntuhan, dan (5) orang gugur di jalan Allah,’” (HR Bukhari dan Muslim). Pada riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyebutkan derajat syahid bagi orang meninggal karena membela harta bendanya atau kepemilikannya. Baca Juga: Kang Said: Wafat Karena Bela Tanah Air Terhitung Mati Syahid
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya: “Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang gugur karena membela hartanya, maka ia mendapat derajat syahid,’” (HR Bukhari dan Muslim). Adapun pada riwayat berikut ini, Rasulullah menyebutkan derajat syahid bagi mereka yang gugur membela keluarga, membela diri, dan membela agamanya. Dengan demikian, pintu syahid memiliki banyak jalan.
فَقَالَ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya: “Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang gugur karena membela keluarga, membela diri, atau membela agamanya, maka ia mendapat derajat syahid.’” Derajat syahid memang memiliki banyak pintu. Pada riwayat Imam At-Thabarani, Rasulullah menyebutkan secara jelas bahwa pintu syahid tidak tunggal. Kalau tunggal, niscaya umat Nabi Muhammad saw yang mencapai derajat akan berjumlah sedikit.
عن ابنِ عَبَّاسً أَنَّ النَبِيَّ صلى الله عليه وسلم قال يَوْمًا لِأَصْحَابِهِ مَا تَعُدُّوْن الشُّهَدَاءَ فِيْكُمْ قَالُوْا مَنْ يَقْتُلْ فِي سَبِيْلِ اللهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا مُقْبِلًا غَيْرَ مُدْبِرٍ شَهِيْدٌ قال إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذَنْ لَقَلِيْلٌ المَقْتُول فِي سَبِيْلِ الله شَهِيْدٌ والمَرْءُ يَمُوْتُ عَلَى فِرَاشِه فِي سَبِيْلِ اللهِ شَهِيْدٌ والمَبْطُوْنُ شَهِيْدٌ واللَّدِيْغُ شَهِيْدٌ والغَرِيْقُ شَهِيْدٌ والشَّرِيْقُ شَهِيْدٌ والذي يَفْتَرِسُه السَّبُعُ شَهِيْدٌ والخَارُّ عَنْ دَابَّتِه شَهِيْدٌ وصَاحِبُ الهَرِمِ شَهِيْدٌ وصَاحِبُ ذَاتِ الجَنْبِ شَهِيْدٌ والنُّفَسَاءُ يَقْتُلُهَا وَلَدُها يَجُرُّهَا بِسُرُرِه إِلَى الجَنَّةِ الطبراني
Artinya: “Dari sahabat Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw suatu hari menguji sahabatnya, ‘Apa yang kalian tahu tentang orang-orang yang gugur sebagai syahid di antara kalian?’ Mereka menjawab, ‘Ya mereka yang gugur di jalan Allah, sabar, ikhlas, dan tidak mundur, adalah syahid.’ Rasulullah lalu menjelaskan, ‘Kalau begitu, sedikit sekali orang mati syahid di kalangan umatku. Orang yang gugur di jalan Allah, orang gugur di pembaringan saat di jalan Allah, korban meninggal sakit perut, korban tersengat (ular), korban tenggelam, korban meninggal karena tenggorokan tersedak, korban diterkam binatang buas, korban jatuh dari kendaraan, orang meninggal saat lansia, korban meninggal karena radang selaput dada (pleuritis) adalah orang yang mendapat derajat syahid, dan juga perempuan nifas yang meninggal karena mengurus balitanya. Kelak sang balita menuntun ibunya ke surga". (HR At-Thabrani). Hadits riwayat Abu Dawud menyebutkan bahwa korban sengatan serangga dan korban jatuh meninggal dari kendaraan (kuda atau unta) juga mendapat derajat syahid yang memiliki ganjaran begitu mulia.
أبو مالك الأشعري رضي الله عنه أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قال مَنْ فَصَلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ، فمَاتَ أَوْ قُتِلَ، فَهُوَ شَهِيْدٌ، أَوْ وَقَصَه فَرَسُه أَوْ بَعِيْرُه، أَوْ لَدَغَتْه هَامَّةٌ، أَوْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِه، بِأَيِّ حَتْفٍ شَاءَ اللهُ، فإِنَّهُ شَهِيْدٌ، وَإِنَّ لَهُ الجَنَّةَ أخرجه أبو داود
Artinya: “Dari Abu Malik Al-Asyari ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang memutuskan berjuang di jalan Allah, lalu meninggal atau gugur; siapa terjatuh meninggal karena dilempar oleh kuda atau untanya; siapa yang disengat serangga; siapa yang meninggal di pembaringannya dengan wajar sesuai kehendak Allah; niscaya ia terhitung mati syahid dan ia berhak mendapat surga.’” (HR Abu Dawud). Demikian sejumlah keterangan hadits Nabi Muhammad saw perihal banyak pintu syahid yang dilalui oleh umatnya. Meski demikian tentu ada perlakuan berbeda terkait pengurusan jenazah orang-orang melalui jalan syahid selain gugur di jalan Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

Sumber: https://islam.nu.or.id/ubudiyah/jenis-jenis-orang-gugur-mati-syahid-dalam-islam-SWSu8

Sabtu, 03 Desember 2022

al-tadbir

al-tadbir 

Arih nafsaka min al-tadbir. Fa-ma qama bihi ghairuka ‘anka la taqum bihi anta li-nafsika. Buatlah dirimu santai dan istirahat, tak dirisaukan oleh urusan tadbir (bekerja/berusaha). Sebab apa yang sudah dikerjakan oleh orang lain, tak ada gunanya engkau mengerjakannya sendiri untuk dirimu.

Pengertian Umum

Dalam bagian ini, kita berhadapan dengan masalah tadbir.

Tadbir adalah lawan dari tajrid. Jika tajrid artinya membuat diri Anda sepenuhnya mengabdi untuk kehidupan kontemplatif, beribadah kepada Tuhan, maka tadbir adalah kehidupan yang penuh dengan kerja kerja, dan kerja. Tadbir adalah Anda berusaha dengan mengikuti hukum sebab-akibat.

Apa yang diungkapkan oleh Ibnu Ataillah di sini semacam nasihat untuk orang-orang yang masuk dalam kategori manusia-sebab; manusia yang bekerja dengan menuruti hukum sebab akibat; manusia yang melakukan ikhtiar untuk melakukan perubahan dalam dunia ini.

Mayoritas manusia ada pada maqam ini. Nasihat Ibnu Ataillah: Ketika Anda sibuk melakukan usaha, bekerja keras untuk meraih atau mengubah sesuatu, maka sekali-kali Anda perlu istirahat sebentar. Buatlah semacam jeda untuk dirimu sendiri. Semacam “sabbatical leave”. Ada saat-saat tertentu seseorang perlu melupakan segala pekerjaan dan memberikan istirahat kepada jiwa dan pikirannya.

Pada saat Anda berada dalam pause mode atau istirahat semacam itu, jangan berpikir apapun. Lupakan segala bentuk tadbir atau usaha. Sebab, jika seluruh hidup Anda dihabiskan untuk memikirkan urusan tadbir, Anda bisa mengalami stres dan tekanan batin.

Baca juga:  Sabilus Salikin (135): Macam-macam Zikir Tarekat Naqsyabandiyah

Sesekali, di tengah-tengah kesibukan usaha Anda, arih nafsaka, buatlah dirimu santai, rileks. Pada momen istirahat seperti itu, filosofi yang harus Anda pegang adalah berikut ini: fa-ma qama bihi ghairuka ‘anka la taqum bihi anta li-nafsika.

Anda tak bisa menyelesaikan segala soal dalam hidup ini sendirian. Kerapkali masalah dalam kehidupan ini, baik personal atau sosial, sangat kompleks. Satu orang saja, sendirian, tak akan bisa memecahkannya. Pemecahan harus dilakukan secara gotong-royong. Jika Anda tak bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan, maka katakan pada diri Anda: Barangkali ada orang lain yang lebih kompeten dari saya, dan bisa memecahkan masalah ini.

Jangan sekali-kali Anda merasa bahwa Anda bisa memborong sendirian seluruh pemecahan masalah tanpa melibatkan orang lain, sehingga akhirnya Anda sendiri kerepotan dan mengalami tekanan mental. Ringankan diri Anda.

Ahmad ibnu Masruq (w. 910 M), seorang tokoh sufi Baghdad, berkata:

Man taraka al-tadbir fa-huwa fi rahah. Barangsiapa meninggalkan tadbir, usaha, dia akan tenang, tidak mengalami tekanan.”

Yang dimaksud dengan tadbir yang harus ditinggalkan ini tentunya adalah tadbir yang dibarengi dengan sikap kemrungung semacam itu. Ini tadbir yang menimbulkan tekanan batin.

Tadbir yang diperinthakan (matlub) ialah usaha yang berkaitan dengan kewajiban kita sebagai hamba Tuhan. Kita, misalnya, wajib terlibat dalam tadbir atau usaha untuk melakukan perintah-perintah Tuhan, seperti ibadah wajib. Tadbir semacam ini tak bisa dihindarkan.

Adapun tadbir yang diperbolehkan adalah tadbir dalam bidang duniawi. Anda butuh menafkahi keluarga Anda, dan karena itu harus melakukan usaha/ikhtiar. Itulah tadbir yang di-mubahkan, diperbolehkan

https://alif.id/read/ulil-abshar-abdalla/ngaji-hikam-sumeleh-jangan-kemrungsung-b209658p/

Sabtu, 19 November 2022

Sifat Wali Yang Jarang Dibahas

1. Wali tidak suka meneliti sifat manusia sbg mahluq: manusia, jin, surga, kedahsyatan neraka, ancaman meteor jatuh dari langit, gempa bumi, tsunami dsb, semuanya mahluk, Hanya dzat Allah yg patut disifati, Allah maha perkasa, dzat maha pengampun, dzat yg menghinakan, dzat yg memuliakan, dzat yg bisa memuliakan orang biasa bisa ditaqdir bisa jadi presiden

2.Wali dalam dakwah nampak cair bukan ciri wali orang yg diawal khutbahnya selalu bawakan hadits: "Kuulu bidah dholalah wa kullu dholalah fin nar" kadang suka yg ektreem, kadang disamarkan sangat mudah sumpah "demi Allah demi rasulullah" atau "sesuai al quran sesuai sunah" dalam dakwahnya merasa mereka pemilik surga, penumpas kemungkaran, padahal zalim ada kafir kersane Allah. Allah pernah ngutus orang lebih alim dari ustadz manpun yaitu nabi musa as terhadap seorang paling zalim di muka bumi yaitu fira'un, itupun disuruh Allah berdakwah dgn kalimat yg santun "qaulallayina"

3.  wali tidak akan mengatakan "jangan urusui orang lain urus aja diri sendiri"
Hati orang kadang sulit terima kebenaran dari orang lain. Tugas seorang hanya menyampaikan, perkara menerima atau tidak terserah Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا عَلَيْنَاۤ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ
wa maa 'alainaaa illal-balaaghul-mubiin
"Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.""
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 17)

4. Wali mudah syukur dari hal yg kacil, sesuap nasi, seteguk air, suka tertawa karena luasnya rahmat Allah, selalu ramah dgn orang lain bahkan semua orang sekalipun dengan non muslim 

5. Khawarij bisa muncul dari kelompok manapun menyamarkan kebenaran bukan dari guru, sedang ambil ilmu dari kertas (suhuf, sangat jelek) umumnya mereka ambil ilmu dari baca literasi, studi pustaka, tanpa guru, hanya standar sahih, hasan, dhaif dan kadang ambil kesimpulan merasa dipengaruhi dari gelar agama, atau gelar jabatan 

6. Mahluq niku lemah, butuh mangan, kadang sakit, ora bisa nahan mati, Allah yg maha perkasa 

7. Wali dipisohi ngguyu gpp ora wani misohi nang ngarepanku, tetep khusnu dzone karo wong sing misohi, ora kenal tetep untung ora wani utang (ha ha ha) 


Kamis, 27 Oktober 2022

meminta pertolongan kepada Allah agar tidak disiksa lantaran lupa atau keli

Salah satu riwayat dari Abu Mas’ud Al-Badri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Artinya: "Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (ayat 285 dan 286) di waktu malam, dia akan diberikan kecukupan," (HR. Bukhari No 5009 dan Muslim No 808).

Selain itu, dua ayat terakhir surah Al-Baqarah juga memiliki kandungan bahwa iman seseorang akan selalu diperbarui apabila selalu mengamalkannya karena terdapat sikap pasrah kepada Sang Maha Pencipta.

Hikmah lain dalam dua ayat tersebut ialah agar manusia selalu meminta pertolongan kepada Allah agar tidak disiksa lantaran lupa atau keliru.

Dalam sebuah hadis, dituliskan bahwa:

"Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku ketika ia keliru, lupa atau dipaksa," (HR. Ibnu Majah No 2045).

Sementara dikutip laman NU Online, sejumlah keutamaan lain juga dimiliki surah Al-Baqarah. Salah satunya ialah rumah yang tidak dimasuki oleh setan.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan (tanpa lantunan Al-Qur’an) karena setan akan lari dari rumah yang dibacakan Surat Al-Baqarah," (HR Ahmad, Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’I).

Dalam hadis versi lain, juga dituliskan:

"Setiap hal memiliki punuk. Punuk Al-Qur’an adalah Surat Al-Baqarah. Siapa saja yang membaca surat ini pada malam hari di rumahnya, niscaya setan tidak akan memasukinya selama tiga malam. Sedangkan Siapa saja yang membaca surat ini pada siang hari, niscaya setan tidak akan memasukinya selama tiga siang," (HR Ad-Darimi dan Ibnu Hibban).

Bacaan Surah Al-Baqarah ayat 285-286

Berikut bacaan surah Al-Baqarah ayat 285-286 dalam bentuk tulisan bahasa Arab, latin, dan terjemahan.

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ - ٢٨٥

Latin:

āmanar-rasụlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-mu`minụn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih, wa qālụ sami'nā wa aṭa'nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr

Artinya:

"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali".

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ - ٢٨٦

Latin:

lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā, lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ 'alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa'fu 'annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā 'alal-qaumil-kāfirīn

Artinya:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir".

Sabtu, 15 Oktober 2022

Gus Baha Sebut Kriminal Tindakan Mewajibkan yang Tidak Wajib,

1. Sodaqoh makanan di suatu tempat dan waktu tertentu saat kebiasaan terjadi mungkin akan muncul fakir miskin baru lainya. 

2. Nabi ajarkan rutin bersodaqoh mekipun sebiji kurma tidak berarti wajib, akan jadi masalah bagi umatnya yg sangat miskin

3. Umroh rutin tiap tahun sekalipun mampu, akan jadi masalah bagi umatnya tujuan trending umroh, mengejar religi wisata, dikhawatirkan munculnya standar sosialitas. 

4. Nabi hampir setiap malam salat tahjud tidak berarti wajib, akan jadi masalah bagi umatnya yg dinas malem, satpam, pegawai shiff malam dsb. 

5. Nabi sering Puasa senin kamis tidak berarti wajib bagi umatnya, akan jadi masalah bagi umatnya terutama pekerja keras lapangan seperti proyek jalan tol, jembatan, kuli songgol pasar, kuli bangunan dsb

6. Dzikir dengan jumlah tertentu akan dapat kejaiban atau kekayaan tertentu. Akan jadi masalah jika tidak terkabul

7. salat dhuha setiap hari bisa jadi tersangka, bisa jadi masalah orang tidak maqbul doanya 

8. Mafhum Konsesus kedepakatan jamaah tiba tiba dalam pelaksanaan ada yg mengatakan saya tidak ikut ikutan dalam masalah itu
9 dunia sudah ada yg ngatur ditinggal wali sanga islam tetep jalan, ditinggal nabi 1443 th islam tetap jalan, tanpa kamu islam tetep jalan
 

https://portaljember.pikiran-rakyat.com/khazanah/pr-162368669/gus-baha-sebut-kriminal-tindakan-mewajibkan-yang-tidak-wajib-simak-penjelasan-lengkapnya

Jumat, 09 September 2022

10 dosa besar wisata hati yusuf mansur

1. Syirik, menyekutukan Allah 
2. Meninggalkan shalat 
3. Durhaka terhadap orang tua 
4. Zina 
5. Harta haram, rezeki haram 
6. Minum minuman keras, mabuk mabukan 
7. memutuskan tali silaturahim 
8. Berbuat kebohongan, saksi palsu 
9. Kikir, pelit 
10. Bergunjing

Rabu, 31 Agustus 2022

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ




wiridane dikei solusi nabi

 سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridhoan-Nya, menurut arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya”

 “