YAYASAN MASJID NURUL ABROR MEJASEM BARAT [SK MENTERI Hukum dan HAM No : AHU - 891.AH. 01014. Tahun 2011] alamat email yayasan.masjid.nurul.abror@gmail.com. Office: Jl. Merapi Raya No 17A Mejasem Barat Kramat Kabupaten. TEGAL 52181 CENTRAL JAVA INDONESIA
Jumat, 24 April 2020
khutbah jumat
Rabu, 22 April 2020
Khutbah Jumat: Takabur dan Azab Pedihnya
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/78033/khutbah-jumat-takabur-dan-azab-pedihnya
Selasa, 21 April 2020
YA HANNAN YA MANNAN (al hikam)
“Ya, karena orang itu SUDAH PASTI masuk sorga walau disiksa terlebih dulu, sedang saya… belum tentu….”, maka menangislah seluruh jama’ah pengajian mendengar hal itu. (masyaAllah) wallahua’lam bissawab
YA HANNAN YA MANNAN (Wahai Yang Maha Santun dan Maha Pemberi Anugerah); Kisah Rintihan Penghuni Neraka yang Menggetarkan Jiwa
❤️💚💛💜
Dalam sebuah hadist Qudsy Allah berfirman: ” Keluarkanlah dari neraka semua orang yang didalam hatinya ada iman walau sekedar biji zarrah ” (Shohih, Bukhory dan Muslim)
YA HANNAN YA MANNAN (Wahai Yang Maha Santun dan Maha Pemberi Anugerah); Kisah Rintihan Penghuni Neraka yang Menggetarkan JiwaMaka malaikat Malik si penjaga neraka segera menindak lanjuti perintah Allah itu dengan mengelilingi seluruh penjuru neraka. Sayup- sayup nun jauh disana ada suara rintihan dan rantapan dengan menggunakan nama Allah Yang Agung:
” YA HANNAN YA MANNAN YA DZALJALALI WAL IKROM”
(Wahai Yang Maha Santun dan Maha Pemberi Anugerah, wahai Allah Yang memiliki Keagungan dan Kemulya-an)
… demikian berulang- ulang dengan suara pilu, penuh nestapa dan sangat menggetarkan jiwa. Maka malaikat Malik pun mencari sumber suara dari seluruh penjuru neraka yang teramat sangat luas itu dengan amat teliti. Disisirnya lembah demi lembah neraka, gunung demi gunung dan jurang demi jurang dengan tak kenal lelah. Sudah berlalu satu hari… dua hari…. satu tahun… sepuluh tahun.. seratus tahun…bahkan seribu tahun lamanya, tapi sumber suara itu tidak bisa ia temukan saking luasnya neraka dan saking berjubelnya penduduk neraka dari sejak zaman Nabi Adam sampai hari kiamat, dan suara itu terus bergema :
” YA HANNAN YA MANNAN YA DZALJALALI WAL IKROM .
Maka malaikat Malik melapor kepada Allah: ” Ya Rob, sudah saya cari selama seribu tahun, namun tak kunjung ketemu juga, namun suara gema tauhid itu masih menggema di neraka “
Allah berfirman: Kalau begitu, kau harus cari lagi sampai ketemu karena tidak boleh ada seorang yang ber- iman padaku tinggal selamanya dalam neraka!”
Maka malaikat Malik pun segerakembali menyisir neraka denganteliti. Disisirnya lembah demi lembah neraka, gunung demi gunung dan jurang demi jurang dengan tak kenal lelah. Sudah pula berlalu satu hari… dua hari…. Satu tahun…sepuluh.. seratus tahun…bahkan seribu tahun lamanya, tapi sumber suara itu tidak bisa ia temukan saking luasnya neraka dan saking berjubelnya penduduk neraka dari sejak zaman Nabi Adam sampai hari kiamat, dan suara itu terus bergema :
” YA HANNAN YA MANNAN YA DZALJALALI WAL IKROM .
Malaikat Malik pun melapor kembali kepada Allah: : ” Ya Rob, sudah saya cari selama seribu tahun lagi, berarti sudah dua ribu tahun lamanya aku mencari, namun tak kunjung ketemu juga, namun suara dzikir itu masih menggema di neraka”.
Allah Berfirman “Kalau begitu, kau harus terus cari lagi sampai ketemu karena tidak boleh ada seorang yang ber-iman padaku tinggal selamanya dalam neraka!
” Maka malaikat Malik pun segera kembali menyisir neraka dengan lebih teliti. Disisirnya lembah demi lembah neraka, gunung demi gunung dan jurang demi jurang dengan tak kenal lelah. Sudah pula berlalu satu hari… dua hari…. Satu tahun… seratus tahun…bahkan seribu tahun lamanya, padahal satu tahun akherat itu setara dengan 50.000 tahun didunia!!! Tapi sumber suara itu tetap saja tidak bisa ia temukan, saking luasnya neraka dan saking berjubelnya penduduk neraka dari sejak zaman Nabi Adam sampai hari kiamat, dan suara itu terus bergema :
” YA HANNAN YA MANNAN YA DZALJALALI WAL IKROM .
Maka untuk ketiga kalinya malaikat Malik melapor setelah dua ribu tahun dia mencari. Allahpun berfirman: “Kau harus terus berusaha cari sampai ketemu, karena orang yang memiliki iman walau sebiji sawi tak boleh ia tinggal selamanya dalam neraka!!!”. Malaikat Malik pun patuh melaksanakan perintah Rob nya tanpa reserve dan tanpa banyak alasan, karena para malaikat tidak akan pernah mendurhakai Robb nya dan selalu akan mematuhi segala perintah Nya. Disisirnya lembah demi lembah neraka, gunung demi gunung dan jurang demi jurang dengan tak kenal lelah. Sudah pula berlalu satu hari… dua hari…. satu tahun… seratus tahun…bahkan seribu tahun lamanya, berarti sudah 3000 tahun x 50.000 tahun = 150.juta tahun dunia- orang itu tersiksa di neraka, duhai….betapa sengsaranya dia…. Tapi sumber suara itu tetap saja tidak bisa ia temukan saking luasnya neraka dan saking berjubelnya penduduk neraka dari sejak zaman Nabi Adam sampai hari kiamat, dan suara itu terus bergema:” YA HANNAN YA MANNAN YA DZALJALALI WAL IKROM .
Maka malaikat Malik pun akhirnya memutuskan untuk melapor kembali kepada Rob nya, Maka Allah berfirman: ”Baiklah, kalau begitu akan AKU jelaskan kepadamu karena Aku Maha Tahu. Carilah manusia ber- iman itu disini dan disini… di gunung ini dan dilembah ini… dibukit ini dan dijurang ini… di gedung tahanan nomor sekian dan kamar tahanan nomor sekian….”
Maka malaikat Malik segera mengerjakan perintah sesuai petunjuk Rob nya, dan ia temukan se- onggok arang hitam legam tak berbentuk yang terbelenggu disebuah tiang dengan dikelilingi ular, kelabang, kalajengking, dan sarana penyiksaan yang lain.
Yang membuat takjub malaikat Malik, mulut orang tersebut utuh tak terbakar api neraka dan lidahnya selalu bergetar: ” YA HANNAN YA MANNAN YA DZALJALALI WAL IKROM . Tatkala malaikat Malik mendekat, berteriaklah mulut yang berdzikir itu dengan amat sangat ketakutan:” Siksaan apalagi yang akan kau bawa untukku wahai malaikat Malik!!! Aku sudah tidak tahan lagi, tidak sanggup lagi aku menerima adzab yang demikian pedih karena dosa- dosaku tatkala aku hidup dahulu didunia ini…….
” Malaikat Malik menjawab: ” Aku datang bukan untuk menambahkan siksa, namun untuk memenuhi perintah Tuhanku membebaskanmu dari siksaan ini karena lisanmu terus bergetar berdzikir menandakan masih adanya iman dalam dadamu…”.
Malaikat Malik pun membawa orang tersebut ke Nahrul Haya (atau Nahrul hayat/ si perowi ragu). Orang itu pun dimandikan dalam “Sungai Kehidupan” itu. Seketika segala penderitaannya hilang dan seluruh badan jasmaninya kembali utuh bahkan lebih bagus dan cantik disbanding aslinya.
Orang itu pun kemudian datang merangkak menghadap Allah. Allah pun berfirman: ” Wahai hambaku, carilah tempatmu di sorga, karena sorga disediakan bagi siapapun yang memiliki iman!” Maka orang itupun masuk kesorga dan mencari tempatnya disana, tapi ia tak mampu menemukannnya. Yang ia lihat sorga sudah penuh terisi dengan penghuninya. Maka iapun kembali menghadap Allah dan berkata:”Ya Rob, sorga telah penuh”. Allah menjawab: ”Ada bagian kamu disana, carilah olehmu!”
Demikian bolak balik sampai tiga kali dan tetap orang tersebut melihat bahwa sorga telah penuh, maka iapun untuk ketiga kalinya menghadap Allah seraya mengatakan bahwa sorga telah penuh. Maka Allah kemudian berfirman: ” Baiklah kalau begitu, sekarang pikirkan olehmu, seandainya kamu memperoleh sorga, apa yang kamu pikirkan dan apa yang ada dalam angan- anganmu! Maka orang itu segera mematuhi perintah Rob nya dan segera berangan- angan, kepingin ini dan ingin itu, membayangkan ini dan membayangkan itu, ingin memiliki ini dan ingin memiliki itu…
Kemudian Allah berfirman: ”Sudahkah engkau berangan-angan?”. “Sudah, ya Rob”. Allahpun berfirman:”Untuk kamu dua kali lipat yang kau angan- angankan”. Itulah makna : “A’dadtu li ibaadii maa laa ainun ro’at walaa udzunun sami’at wala khothoro ‘ala qolbin basyar = Aku telah sediakan untuk hamba-hambaku besok disorga, apa yang mata belum pernah lihat, yang telinga belum pernah mendengar dan belum terpikir oleh angan- angan seorang manusia”
_________
Tatkala membacakan hadist ini dalam pengajian, Imam Hasan Al-Bashry menutup kajiannya dengan memanjatkan do’a: ”Semoga orang yang dimaksud dalam hadist tersebut adalah saya. Amiin…….”
Semua hadirin terkejut atas pernyatan beliau. Tatkala hal ini ditanyakan oleh jama’ah pengajiannya, beliau menjawab:
“Ya, karena orang itu SUDAH PASTI masuk sorga walau disiksa terlebih dulu, sedang saya…
belum tentu….”,
maka menangislah seluruh jama’ah pengajian mendengar hal itu.
(masyaAllah)
wallahua’lam bissawab
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=539985893107358&id=138569006582384
Rabu, 11 Desember 2019
Perbedaan Pemikiran antara Aliran Asy'ariyah dengan Aliran Maturidiyah
Perbedaan Pemikiran antara Aliran Asy'ariyah dengan Aliran Maturidiyah
Minggu, 01 Desember 2019
kekuasaan Allah tanpa batas
Allah mengharamkan pada diri-Nya berbuat zalim, manusia pun tidak boleh berbuat zalim.
Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah #24
الحَدِيْثُ الرَّابِعُ وَالعِشْرُوْنَ
عَنْ أَبِى ذَرٍّ الغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Hadits Ke-24
عَنْ أَبِى ذَرٍّ الغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ:
Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.
يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ
Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.
يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ
Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya.
يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ
Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.
يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.
يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku.
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا
Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا
Wahai hamba-Ku, jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.
يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.
يَاعِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.
Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 6737]
Keutamaan hadits di atas
Dalam lanjutan lafaz hadits di atas,
قَالَ سَعِيدٌ كَانَ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِىُّ إِذَا حَدَّثَ بِهَذَا الْحَدِيثِ جَثَا عَلَى رُكْبَتَيْه
“Sa’id berkata bahwa dulu ketika Abu Idris Al-Khawlaniy (yang meriwayatkan hadits ini) jika dia membacakan hadits ini dia langsung tersungkur untuk berlutut.” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:33.
Kami katakan: Suatu pelajaran penting dari kisah ini. Lihatlah bahwa para salaf dahulu, hati-hati mereka lebih terpengaruh dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kandungannya yang sangat mendalam dan begitu mengena. Mereka tidaklah terpengaruh dengan cerita-cerita bualan dan fiktif seperti kebiasaan orang saat ini. Orang-orang saat ini hanya bisa terpengaruh jika membaca novel yang menyedihkan yang sebenarnya ditulis atas dasar bualan. Dan inilah tipu daya iblis terhadap mereka. Novel-novel saat ini membuat mereka menjauh dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta jalan hidup salaf (generasi terbaik umat ini) yang sebenarnya penuh dengan lautan ilmu dan terdapat kisah-kisah/ pelajaran-pelajaran yang amat menyentuh hati. Tetapi saat ini banyak yang melalaikannya. Hati siapakah yang rusak? Hati ulama terdahulu ataukah orang saat ini?
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Allah mengharamkan tindak zalim
Dalam hadits ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
Berikut adalah perkataan Syaikh Abdul Muhsin dalam Fath Al-Qawi, “Kezaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Allah telah mengharamkan kezaliman atas dirinya dan menghalanginya dari dirinya. Padahal Allah itu memiliki qudrah (kemampuan), namun tidak ada kezaliman dari Allah selamanya. Hal ini disebabkan kesempurnaan keadilan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ
“Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Mukmin: 31)
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menzalimi hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat: 46)
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun.” (QS. Yunus: 44)
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An Nisaa’: 40)
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا
“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thaha: 112). Maksudnya adalah tidak perlu takut (gusar) dengan kebaikan yang berkurang ataupun kejelekan yang bertambah atau pula akan ditimpakan kejelekan dari orang lain.
Ayat-ayat di atas dijelaskan tentang dinafikannya (ditiadakannya) kezaliman dari Allah Ta’ala, maka ini mengandung adanya penetapan sifat keadilan yang sempurna dari Allah Ta’ala.
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,“Allah menciptakan perbuatan hamba, di dalamnya terdapat suatu bentuk kezaliman yang dilakukan oleh hamba tersebut, maka ini tidaklah berarti Allah juga bersifat zalim. Sebagaimana Allah juga tidak disifati dengan sifat-sifat jelek lainnya yang dilakukan oleh hamba, walaupun setiap perbuatan hamba adalah makluk dan takdir (ketetapan) Allah. Allah tidaklah disifati kecuali dengan perbuatan-Nya saja dan tidak disifati dengan perbuatan hamba-Nya. Setiap perbuatan hamba adalah makhluk dan ciptaan-Nya. Namun, Allah tidaklah disifati dengan sesuatu dari perbuatan hamba tersebut. Allah hanyalah disifati dengan sifat dan perbuatan yang Dia melakukannya sendiri. Wallahu a’lam.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:36)
Kezaliman itu ada dua. Pertama, menzalimi diri sendiri, yang paling parah adalah berbuat syirik. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)
Kedua, seorang hamba menzalimi orang lain. Dalam hadits disebutkan,
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah, harta, kehormatan di antara kalian itu haram sebagaimana haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini, dan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)
Semua hamba dalam keadaan tak tahu arah
Dalam lanjutan hadits ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.”
Disebutkan dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (2:39), sebagian orang mungkin ada yang mengatakan bahwa hadits ini bertentangan dengan hadits ‘Iyadh bin Himar di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ
“Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan berada di jalan yang lurus.” (HR. Muslim, no. 2865). Dalam riwayat lainnya dikatakan, “Dalam keadaan muslim lalu setan mengalihkannya dari jalan yang lurus.”
Hal ini tidaklah demikian. Tetapi yang dimaksudkan adalah bahwa Allah menciptakan Bani Adam (keturunan Adam) dalam keadaan menerima Islam dan condong kepadanya, bukan pada yang lainnya. Namun, setiap orang tidaklah bisa tetap dalam fitrah ini kecuali dengan adanya kekuatan. Yaitu seseorang harus mempelajari Islam. Karena seseorang sebelum belajar, dia berada dalam keadaan jahil (bodoh), tidak mengetahui apa-apa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.” (QS. An-Nahl: 78)
Allah juga mengatakan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang sesat, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS. Adh-Dhuha: 7). Dan yang dimaksudkan adalah Allah mendapatimu dalam keadaan tidak mengetahui apa yang ia ajarkan dari Al-Kitab dan Al-Hikmah.
Hal ini juga semakna dengan firman Allah Ta’ala,
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu.” (QS. Asy Syuura: 52)
Oleh karena itu, manusia pada asalnya dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu menerima kebenaran. Jika Allah memberi petunjuk pada seseorang, Allah akan memberinya sebab dengan diajarkan mengenai petunjuk. Jadilah, dia orang yang mendapatkan petunjuk dengan perbuatan setelah sebelumnya dia menjadi orang yang mendapatkan petunjuk dengan kekuatan pada dirinya (usahanya). Namun, jika Allah ingin menelantarkan seseorang, Allah akan menakdirkan baginya dengan diajarkan berbagai hal yang menyebabkan seseorang keluar dari fitrah. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap bayi yang lahir berada di atas fitrahnya. Lalu ayahnya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari, no. 1385 dan Muslim, no. 2658)
Dalam hadits ini terdapat perintah untuk meminta hidayah kepada Allah. Hidayah di sini meliputi hidayah petunjuk berupa pemberian penjelasan ilmu (hidayah ad-dalalah wal irsyad) dan hidayah taufik untuk beramal dan menerima dakwah (hidayah at-tawfiq wa at-tasydid). (Ingatlah), kebutuhan hamba pada hidayah melebihi kebutuhannya pada makan dan minum. Sebagaimana terdapat dalam surah Al-Fatihah. Dalam ayat itu, kita selalu meminta kepada Allah Ta’ala hidayah yang baru dan menambahkan kita hidayah dari hidayah yang sudah ada.
Sangat butuh pada-Nya
Dalam lanjutan hadits ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.”
Dalam dua kalimat ini menunjukkan bahwa hamba sangat butuh kepada Rabbnya. Kebutuhan mereka kepada Rabbnya adalah dalam memperoleh rezeki dan pakaian. Mereka sebagai hamba-hamba Allah haruslah hanya meminta kepada-Nya baik dalam masalah makanan dan pakaian.
Faedah Hadits
Pertama: Riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabb-nya memiliki tingkatan sanad yang paling tinggi. Sebab puncak sanad bisa kepada Allah Ta’ala dan ini yang disebut dengan hadits Qudsi.
Kedua: Hadits qudsi adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabb-nya.
Ketiga: Allah memiliki sifat kalam (berbicara).
Keempat: Allah mampu untuk berbuat zalim (bersikap sewenang-wenang). Akan tetapi Allah telah mengharamkan atas diri-Nya untuk berbuat zalim disebabkan keadilan-Nya yang sempurna.
Kelima: Ada sifat Allah yang berupa peniadaan, misal peniadaan Allah dari sifat zalim.
Keenam: Hak Allah untuk mengharamkan atas diri-Nya apa pun yang dikehendaki-Nya, sebab segala hukum kembali pada-Nya. Sementara kita tidak bisa mengharamkan atas Allah Ta’ala, Allah-lah yang mengharamkan atas diri-Nya, sebagaimana ia telah mewajibkan atas diri-Nya sekehendak-Nya.
Ketujuh: Dilarang berbuat zalim pada orang lain, itulah zalim yang dimaksudkan dalam hadits.
Kedelapan: Manusia itu tersesat kecuali yang Allah berikan petunjuk padanya. Dari faedah ini kita menyimpulkan bahwa kita wajib untuk senantiasa memohon hidayah kepada-Nya supaya tidak tersesat.
Kesembilan: Karena kita dikatakan semuanya sesat, maka kita diperintahkan untuk menuntut ilmu.
Kesepuluh: Hidayah tidaklah diminta kecuali dari Allah Ta’ala.
Kesebelas: Pada dasarnya manusia dalam keadaan lapar, sebab mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu yang bisa menahan jasad mereka tetap hidup.
Kedua belas: Maksud kalimat “mintalah makan kepada-Ku” yaitu meminta makanan, berusaha mencari rezeki, dan mengharap keutamaan-Nya. Tentu saja hal ini diperoleh dengan disertai usaha.
Ketiga belas: Manusia pada dasarnya berada dalam keadaan telanjang, hingga Allah memberinya pakaian. Bisa jadi manusia itu telanjang secara fisik, bisa jadi pula telanjang secara maknawi (tidak ada ruh).
Keempat belas: Kemurahan Allah yang telah menjelaskan kepada hamba-Nya tentang keadaan dan kebutuhan mereka kepada-Nya, kemudian Allah mengajak mereka untuk memohon kepada-Nya supaya keadaan mereka yang diliputi oleh kekurangan dan kebutuhan itu hilang.
Kelima belas: Setiap manusia banyak kesalahannya.
Keenam belas: Betapa pun banyak dosa dan kesalahan, Allah Ta’ala akan mengampuninya, akan tetapi Allah menuntutnya untuk beristighfar.
Ketujuh belas: Beristighfar bisa dilakukan dengan dua acara yaitu (1) memohon ampunan dengan ucapan seperti ucapan ‘astaghfirullah’; (2) memohon ampun dengan amal saleh yang menjadi sebab tercapainya ampunan Allah.
Kedelapan belas: Allah akan menghapuskan seluruh dosa bagi yang meminta ampun kepada-Nya. Adapun yang tidak mengucapkan istighfar, dosa kecil akan terhapus dengan amal saleh. Sedangkan dosa besar harus disertai taubatan nasuha, tidak bisa dihapuskan oleh amal saleh (menurut jumhur ulama). Adapun masalah kufur, harus disertai taubatan nasuha, berdasarkan ijmak para ulama.
Kesembilan belas: Sempurnanya kekuasaan Allah dan Dia tidak butuh pada hamba-Nya.
Kedua puluh: Tempat ketakwaan dan kejahatan adalah hati.
Kedua puluh satu: Sempurnanya dan luasnya kekayaan Allah.
Kedua puluh dua: Manusia berkumpul pada satu tempat lebih dekat pada dikabulkannya doa daripada manusia dalam keadaan berpecah belah.
Kedua puluh tiga: Allah Ta’ala menghitung amalan hamba, artinya menetapkan dengan bilangannya, sehingga tidak ada seorang pun yang dikurangi haknya sedikit pun. Yang beramal sebesar dzarrah akan dibalas.
Kedua puluh empat: Siapa saja yang beramal niscaya akan dibalas oleh Allah, tanpa Allah berbuat zalim sedikit pun.
Kedua puluh lima: Wajib memuji Allah bagi yang mendapatkan kebaikan, hal itu dikarenakan dua hal: (1) Allah memudahkannya untuk beramal; (2) Allah membalasnya dengan pahala.
Kedua puluh enam: Siapa yang telat dalam beramal saleh dan ia tidak mendapatkan kebaikan, maka celaannya kepada dirinya sendiri.
Wallahul muwaffiq. Semoga Allah memberi taufik.
Referensi:
Fath Al–Qawi Al-Matin fi Syarh Al-Arba’in wa Tatimmat Al-Khamsin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr.Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam fii Syarh Khamsiin Hadiitsan min Jawami’ Al-Kalim. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H.Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya.
Disusun @ Darush Sholihin, 10 Dzulqo’dah 1440 H (13 Juli 2019)
Kamis, 28 November 2019
bantahan ulama ibnu taimiyah
28 November 2019
repost
Luqman Firmansyah
Khusus 99 Anti Teror Aqid
Bantahan Para Ulama Terhadap Ibn Taimiyah
15 Desember 2010 20:12 |
Diperbarui: 26 Juni 2015 10:42
Ibn Taimiyah (w 728 H) adalah sosok kontroversial yang menjadi rujukan salafy wahabi yang mana segala kesesatannya telah dibantah oleh berbagai lapisan ulama dari empat madzhab; ulama madzhab Syafi'i, ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan oleh para ulama madzhab Hanbali. Bantahan-bantahan tersebut datang dari mereka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri maupun dari mereka yang datang setelahnya. Berikut ini adalah di antara para ulama tersebut dengan beberapa karyanya masing-masing : 1. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama'ah asy-Syafi'i (w 733 H). 2. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi. 3. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki. 4. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali. Ibn Taimiyah di masa hidupnya dipenjarakan karena kesesatannya hingga meninggal di dalam penjara dengan rekomedasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab ini, yaitu pada tahun 726 H. Lihat peristiwa ini dalam kitab 'Uyûn at-Tawârikh karya Imam al-Kutubi, dan dalam kitab Najm al-Muhtadî Fî Rajm al-Mu'tadî karya Imam Ibn al-Mu'allim al-Qurasyi. 5. Syekh Shaleh ibn Abdillah al-Batha-ihi, Syekh al-Munaibi' ar-Rifa'i. salah seorang ulama terkemuka yang telah menetap di Damaskus (w 707 H). 6. Syekh Kamaluddin Muhammad ibn Abi al-Hasan Ali as-Sarraj ar-Rifa'i al-Qurasyi asy-Syafi'i. salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. * Tuffâh al-Arwâh Wa Fattâh al-Arbâh 7. Ahli Fiqih dan ahli teologi serta ahli tasawwuf terkemuka di masanya; Syekh Tajuddin Ahmad ibn ibn Athaillah al-Iskandari asy-Syadzili (w 709 H). 8. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) di seluruh wilayah negara Mesir; Syekh Ahmad ibn Ibrahim as-Suruji al-Hanafi (w 710 H) • I'tirâdlât 'Alâ Ibn Taimiyah Fi 'Ilm al-Kalâm. 9. Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; Syekh Ali ibn Makhluf (w 718 H). Di antara pernyataannya sebagai berikut: "Ibn Taimiyah adalah orang yang berkeyakinan tajsîm, dan dalam keyakinan kita barangsiapa berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir yang wajib dibunuh". 10. Syekh al-Faqîh Ali ibn Ya'qub al-Bakri (w 724 H). Ketika suatu waktu Ibn Taimiyah masuk wilayah Mesir, Syekh Ali ibn Ya'qub ini adalah salah seorang ulama terkemuka yang menentang dan memerangi berbagai faham sesatnya. 11. Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi'i (w 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara. 12. Imam al-Hâfizh al-Mujtahid Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H). • al-I'tibâr Bi Baqâ' al-Jannah Wa an-Nâr. • ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah. • Syifâ' as-Saqâm Fî Ziyârah Khair al-Anâm. • an-Nazhar al-Muhaqqaq Fi al-Halaf Bi ath-Thalâq al-Mu'allaq. • Naqd al-Ijtimâ' Wa al-Iftirâq Fî Masâ-il al-Aymân Wa ath-Thalâq. • at-Tahqîq Fî Mas-alah at-Ta'lîq. * Raf'u asy-Syiqâq Fî Mas'alah ath-Thalâq. 13. Al-Muhaddits al-Mufassir al-Ushûly al-Faqîh Muhammad ibn Umar ibn Makki yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Murahhil asy-Syafi'i (w 716 H). Di masa hidupnya ulama besar ini telah berdebat dan memerangi Ibn Taimiyah. 14. Imam al-Hâfizh Abu Sa'id Shalahuddin al-'Ala-i (w 761 H). Imam terkemuka ini mencela dan telah memerangi Ibn Taimiyah. Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ' al-'Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33. • Ahâdîts Ziyârah Qabr an-Naby. 15. Pimpinan para hakim (Qâdlî al-Qudlât) kota Madinah Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al-Hanbali (w 726 H). 16. Imam Syekh Ahmad ibn Yahya al-Kullabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. • Risâlah Fî Nafyi al-Jihah. 17. Al-Qâdlî Kamaluddin ibn az-Zamlakani (w 727 H). Ulama besar yang semasa dengan Ibn Taimiyah ini telah memerangi seluruh kesesatan Ibn Taimiyah, hingga beliau menuliskan dua risalah untuk itu. Pertama dalam masalah talaq, dan kedua dalam masalah ziarah ke makam Rasulullah. 18. Al-Qâdlî Shafiyuddin al-Hindi (w 715 H), semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri. 19. Al-Faqîh al-Muhaddits Ali ibn Muhammad al-Baji asy-Syafi'i (w 714 H). Telah memerangi Ibn Taimiyah dalam empat belas keyakinan sesatnya, dan telah mengalahkan serta menundukannya. 20. Sejarawan terkemuka (al-Mu-arrikh) al-Faqîh al-Mutakallim al-Fakhr ibn Mu'allim al-Qurasyi (w 725 H). * Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu'tadî 21. Al-Faqîh Muhammad ibn Ali ibn Ali al-Mazini ad-Dahhan ad-Damasyqi (w 721 H). • Risâlah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah ath-Thalâq. • Risâlah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah Fî Mas-alah az-Ziayârah 22. Al-Faqîh Abu al-Qasim Ahmad ibn Muhammad ibn Muhammad asy-Syirazi (w 733 H). • Risâlah Fi ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah 23. Al-Faqîh al-Muhaddits Jalaluddin al-Qazwini asy-Syafi'i (w 739 H). 24. As-Sulthan Ibn Qalawun (w 741 H). Beliau adalah Sultan kaum Muslimin saat itu, telah menuliskan surat resmi prihal kesesatan Ibn Taimiyah. 25. Al-Hâfizh adz-Dzahabi (w 748 H) yang merupakan murid Ibn Taimiyah sendiri. • Bayân Zaghl al-'Ilm Wa ath-Thalab. * an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah. 26. Al-Mufassir Abu Hayyan al-Andalusi (745 H). * Tafsîr an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth 27. Syekh Afifuddin Abdullah ibn As'ad al-Yafi'i al-Yamani al-Makki (w 768 H). 28. Al-Faqîh Syekh Ibn Bathuthah, salah seorang ulama terkemuka yang telah banyak melakukan rihlah (perjalanan). 29. Al-Faqîh Tajuddin Abdul Wahhab ibn Taqiyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 771 H). • Thabaqât asy-Syâfi'iyyah al-Kubrâ 30. Seorang ulama ahli sejarah terkemuka (al-Mu-arrikh) Syekh Ibn Syakir al-Kutubi (w 764 H). • 'Uyûn at-Tawârikh. 31. Syekh Umar ibn Abi al-Yaman al-Lakhmi al-Fakihi al-Maliki (w 734 H). • at-Tuhfah al-Mukhtârah Fî ar-Radd 'Alâ Munkir az-Ziyârah 32. Al-Qâdlî Muhammad as-Sa'di al-Mishri al-Akhna'i (w 750 H). • al-Maqâlât al-Mardliyyah Fî ar-Radd 'Alâ Man Yunkir az-Ziyârah al-Muhammadiyyah, dicetak satu kitab dengan al-Barâhîn as-Sâthi'ah karya Syekh Salamah al-Azami. 33. Syekh Isa az-Zawawi al-Maliki (w 743 H). * Risâlah Fî Mas-alah ath-Thalâq. 34. Syekh Ahamad ibn Utsman at-Turkimani al-Jauzajani al-Hanafi (w 744 H). • al-Abhâts al-Jaliyyah Fî ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah. 35. Imam al-Hâfizh Abdul Rahman ibn Ahmad yang dikenal dengan Ibn Rajab al-Hanbali (w 795 H). • Bayân Musykil al-Ahâdîts al-Wâridah Fî Anna ath-Thalâq ats-Tsalâts Wâhidah. 36. Imam al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani (w 852 H). • ad-Durar al-Kâminah Fî A'yân al-Mi-ah ats-Tsâminah. • Lisân al-Mizân. • Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri. * al-Isyârah Bi Thuruq Hadîts az-Ziyârah. 37. Imam al-Hâfizh Waliyuddin al-Iraqi (w 826 H). • al-Ajwibah al-Mardliyyah Fî ar-Radd 'Alâ al-As-ilah al-Makkiyyah. 38. Al-Faqîh al-Mu-arrikh Imam Ibn Qadli Syubhah asy-Syafi'i (w 851 H). * Târîkh Ibn Qâdlî Syubhah. 39. Al-Faqîh al-Mutakallim Abu Bakar al-Hushni penulis kitab Kifâyah al-Akhyâr (829 H). • Daf'u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasaba Dzâlika Ilâ Imam Ahmad. 40. Salah seorang ulama terkemuka di daratan Afrika pada masanya; Syekh Abu Abdillah ibn Arafah at-Tunisi al-Maliki (w 803 H). 41. Al-'Allâmah Ala'uddin al-Bukhari al-Hanafi (w 841 H). Beliau mengatakn bahwa Ibn Taimiyah adalah seorang yang kafir. Beliau juga mengkafirkan orang yang menyebut Ibn Taimiyah dengan Syekh al-Islâm jika orang tersebut telah mengetahui kekufuran-kekufuran Ibn Taimiyah. Pernyataan al-'Allâmah Ala'uddin al-Bukhari ini dikutip oleh Imam al-Hâfizh as-Sakhawi dalam kitab adl-Dlau' al-Lâmi'. 42. Syekh Muhammad ibn Ahmad Hamiduddin al-Farghani ad-Damasyqi al-Hanafi (w 867 H). • ar-Radd 'Alâ Ibn Taimiyah Fi al-I'tiqâdât. 43. Syekh Ahamd Zauruq al-Fasi al-Maliki (w 899 H). * Syarh Hizb al-Bahr. 44. Imam al-Hâfizh as-Sakhawi (902 H). * al-I'lân Bi at-Taubikh Liman Dzamma at-Târîkh. 45. Syekh Ahmad ibn Muhammad yang dikenal dengan Ibn Abd as-Salam al-Mishri (w 931 H). • al-Qaul an-Nâshir Fî Radd Khabbath 'Ali Ibn Nâshir. 46. Al-'Allâmah Syekh Ahmad ibn Muhammad al-Khawarizmi ad-Damasyqi yang dikenal dengan Ibn Qira (w 968 H). 47. Imam al-Qâdlî al-Bayyadli al-Hanafi (1098 H). * Isyârât al-Marâm Min 'Ibârât Imam. 48. Syekh al-'Allâmah Ahmad ibn Muhammad al-Witri (w 980 H). • Raudlah an-Nâzhirîn Wa Khulâshah Manâqib ash-Shâlihîn. 49. Al-Faqîh al-'Allâmah Syekh Ibn Hajar al-Haitami (w 974 H). • al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah. • al-jawhar al-Munazh-zham Fî Ziyârah al-Qabr al-Mu'azham. • Hâsyihah al-Idlâh Fî Manâsik al-Hajj Wa al-'Umrah. 50. Syekh Jalaluddin ad-Dawani (w 928 H). * Syarh al-'Aqâ-id al-Adludiyyah. 51. Syekh Abd an-Nafi ibn Muhammad ibn Ali ibn Iraq ad-Damasyqi (w 962 H). Lihat kitab Dakhâ-ir al-Qashr Fî Tarâjum Nubalâ' al-Ashr karya Ibn Thulun pada halaman 32-33. 52. Syekh al-Qâdlî Abu Abdillah al-Maqarri. * Nazhm al-La-âlî Fî Sulûk al-Âmâlî. 53. Syekh Mulla Ali al-Qari al-Hanafi (w 1014 H). • Syarh asy-Syifâ Bi Ta'rif Huqûq al-Musthafâ Li al-Qâdlî 'Iyâdl. 54. Imam Syekh Abd ar-Ra'uf al-Munawi asy-Syafi'i (w 1031 H). • Syarh asy-Syamâ'il al-Muhammadiyyah Li at-Tirmidzi. 55. Syekh al-Muhaddits Muhammad ibn Ali ibn Allan ash-Shiddiqi al-Makki (w 1057 H). • aL-Mubrid al-Mubki Fî Radd ash-Shârim al-Manki. 56. Syekh Ahmad al-Khafaji al-Mishri al-Hanafi (w 1069 H). • Syarh asy-Syifâ Bi Ta'rîf Huqûq al-Musthafâ Li al-Qâdlî 'Iyâdl. 57. Al-Mu-arrikh Syekh Ahmad Abu al-Abbas al-Maqarri (w 1041 H). * Azhar ar-Riyâdl. 58. Syekh Muhammad az-Zarqani al-Maliki (w 1122 H). * Syarh al-Mawâhib al-Ladunniyyah. 59. Syekh Abd al-Ghani an-Nabulsi ad-Damasyqi (1143 H). Beliau banyak menyerang Ibn Taimiyah dalam berbagai karyanya. 60. Al-Faqîh ash-Shûfi Syekh Muhammad Mahdi ibn Ali ash-Shayyadi yang dikenal dengan nama ar-Rawwas (w 1287 H). 61. Syekh Idris ibn Ahmad al-Wizani al-Fasi al-Maliki. • an-Nasyr ath-Thayyib 'Alâ Syarh Syekh ath-Thayyib. 62. Syekh as-Sayyid Muhammad Abu al-Huda ash-Shayyadi (w 1328 H). * Qilâdah al-Jawâhir. 63. Syekh Musthafa ibn Syekh Ahmad ibn Hasan asy-Syathi ad-Damasyqi al-Hanbali, hakim Islam wilayah Duma, hidup sekitar tahun 1331 H. • Risâlah Fî ar-Radd 'Alâ al-Wahhâbiyyah. 64. Syekh Musthafa ibn Ahmad asy-Syathi al-Hanbali ad-Damasyqi (w 1348 H). • an-Nuqûl asy-Syar'iyyah. 65. Syekh Mahmud Khaththab as-Subki (w 1352 H). * ad-Dîn al-Khâlish Aw Irsyâd al-Khlaq Ilâ Dîn al-Haq. 66. Mufti kota Madinah Syekh al-Muhaddits Muhammad al-Khadlir asy-Syinqithi (w 1353 H). • Luzûm ath-Thalâq ats-Tsalâts Daf'ah Bimâ La Yastahî' al-Âlim Daf'ah. 67. Syekh Abd al-Qadir ibn Muhammad Salim al-Kailani al-Iskandarani (w 1362 H). • an-Naf-hah az-Zakiyyah Fî ar-Radd 'Alâ al-Wahhâbiyyah. • al-Hujjah al-Mardliyyah Fî Itsbât al-Wâsithah al-Latî Nafathâ al-Wahhâbiyyah. 68. Syekh Ahmad Hamdi ash-Shabuni al-Halabi (w 1374 H). * Risâlah Fî ar-Radd 'Alâ al-Wahhâbiyyah. 69. Syekh Salamah al-Azami asy-Syafi'i (w 1376 H) • al-Barâhîn as-Sâth'iah Fî Radd Ba'dl al-Bida' asy-Syâ-i'ah. * Berbagai makalah dalam surat kabar al-Muslim Mesir. 70. Mufti negara Mesir Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi'i (w 1354 H). • Tath-hîr al-Fu'âd Min Danas al-'I'tiqâd. 71. Wakil para Masyâyikh Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki Syekh al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari (1371 H). • Kitâb al-Maqâlât al-Kautsari. • at-Ta'aqqub al-Hatsîts Limâ Yanfîhi Ibn Taimiyah Min al-Hadîts. • al-Buhûts al-Wafiyyah Fî Mufradât Ibn Taimiyah. • al-Isyfâq 'Alâ Ahkâm ath-Thalâq. 72. Syekh Ibrahim ibn Utsman as-Samnudi al-Mishri, salah seorang ulama yang hidup di masa sekarang. * Nushrah Imam as-Subki Bi Radd ash-Shârim al-Manki. 73. Ulama terkemuka di kota Mekah Syekh Muhammad al-Arabi at-Tabban (w 1390 H). • Barâ-ah al-Asy'ariyyîn Min 'Aqâ-id al-Mukhâlifîn. 74. Syekh Muhammad Yusuf al-Banuri al-Bakistani. * Ma'ârif as-Sunan Syarh Sunan at-Tirmidzi. 75. Syekh Manshur Muhammad Uwais, salah seorang ulama yang masih hidup di masa sekarang. • Ibn Taimiyah Laysa Salafiyyan. 76. Al-Hâfizh Syekh Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Maghribi (w 1380 H). • Hidâyah ash-Shughrâ'. * al-Qaul al-Jaliyy. 77. Syekh al-Musnid al-Habîb Abu al-Asybal Salim ibn Husain ibn Jindan, salah seorang ulama terkemuka di Indonesia (w 1389 H) • al-Khulâshah al-Kâfiyah Fî al-Asânid al-'Âliyah. 78. Syekh al-Muhaddits Abdullah al-Ghumari al-Maghribi (w 1413 H). • Itqân ash-Shun'ah Fî Tahqîq Ma'nâ al-Bid'ah. • ash-Shubh as-Sâfir Fî Tahqîq Shalât al-Musâfir. • ar-Rasâ'il al-Ghumâriyyah. * Dan berbagai tulisan beliau lainnya. 79. Syekh Hamdullah al-Barajuri, salah seorang ulama terkemuka di Saharnafur India. • al-Bashâ-ir Li Munkirî at-Tawassul Bi Ahl al-Qubûr. 80. Syekh Abu Saif al-Hamami secara terang telah mengkafirkan Ibn Taimiyah dalam karyanya berjudul Ghauts al-'Ibâd Bi Bayân ar-Rasyâd. Beliau adalah salah seorang ulama besar dan terkemuka di wilayah Mesir. Kitab karyanya ini telah direkomendasikan oleh para masyayikh Azhar dan ulama besar lainnya, yaitu oleh Syekh Muhammad Sa'id al-Arfi, Syekh Yusuf ad-Dajwi, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, Syekh Muhammad al-Bujairi, Syekh Muhammad Abd al-Fattah Itani, Syekh Habibullah al-Jakni asy-Syinqithi, Syekh Dasuqi Abdullah al-Arabi, dan Syekh Muhammad Hafni Bilal. 81. Syekh Muhammad ibn Isa ibn Badran as-Sa'di al-Mishri. 82. As-Sayyid Syekh al-Faqîh Alawi ibn Thahir al-Haddad al-Hadlrami. 83. Syekh Mukhtar ibn Ahmad al-Mu'ayyad al-Azhami (w 1340 H). • Jalâ' al-Awhâm 'An Madzhab al-A-immah al-'Izhâm Wa at-Tawassul Bi Jâh Khayr al-Anâm -'Alaih ash-Shalât Wa as-Salâm-. Kitab ini berisi bantahan atas kitab karya Ibn Taimiyah berjudul Raf'u al-Malâm. 84. Syekh Isma'il al-Azhari. • Mir'âh an-Najdiyyah. 85. KH. Ihsan ibn Muhammad Dahlan Jampes Kediri, salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga. • Sirâj ath-Thâlibîn 'Alâ Minhâj al-'Âbidîn Ilâ Jannah Rabb al-'Âlamîn. 86. KH. Hasyim Asy'ari Tebu Ireng Jombang. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia, perintis ormas Islam Jam'iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Beliau merintis ormas ini tidak lain hanya untuk membentengi kaum Ahlussunnah Indonesia dari faham-faham Ibn Taimiyah yang telah diusung oleh kaum Wahhabiyyah. • 'Aqîdah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ'ah. 87. KH. Sirajuddin Abbas, salah seorang ulama terkemuka Indonesia. • I'tiqad Ahl as-sunnah Wa al-Jama'ah. * Empat Puluh Masalah Agama 88. KH. Ali Ma'shum Yogyakarta (w 1410 H), salah seorang ulama terkemuka Indonesia. • Hujjah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ'ah. 89. KH. Ahmad Abd al-Halim Kendal, salah seorang ulama besar Indonesia. • Aqâ-id Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ'ah. Ditulis tahun 1311 H 90. KH. Bafadlal ibn Syekh Abd asy-Syakur as-Sinauri Tuban. Salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang cukup produktif menulis berbagai karya yang sangat berharga. • Risâlah al-Kawâkib al-Lammâ'ah Fî Tahqîq al-Musammâ Bi Ahl as-Sunnah. • Syarh Risâlah al-Kawâkib al-Lammâ'ah Fî Tahqîq al-Musammâ Bi Ahl as-Sunnah. • Al-'Iqd al-Farîd Bi Syarh Jawharah at-Tauhîd 91. Tuan Guru Zainuddin ibn Abd al-Majîd Pancor Lombok Nusa Tenggara Barat. • Hizb Nahdlah al-Wathan 92. KH. Muhammad Syafi'i Hadzami ibn Muhammad Saleh Ra'idi, salah seorang ulama betawi, pernah menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta (1990-)