Senin, 02 September 2013

Mengapa Rosulullah kerap menyendiri di Gua Hiro'?

⌣̊»̶·̵̭̌✽̤̥̈̊ Rendaman Menurut Perspektif Islam ✽̤̥̈̊·̵̭̌«̶⌣̊

Mengapa Rosulullah kerap menyendiri di Gua Hiro'?,dan jauh-jauh berjalan dan mendaki tingginya bukit dimalam hari?.

Disini saya mencoba mengupas antara i'tikaf dan mengheningkan diri seperti BERENDAM (kungkum) dimana kungkum itu dianggap suatu ritual peninggalan orang-orang hindu-budha yg notabene adalah ritual para raja-raja tanah jawa dahulu,yg jelas semua pandangan miring itu mesti ada,padahal Rosulullah telah bersabda:"Innama a'malu biniyah",bahwa segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.

Yg jelas dalam hal ini saya mencoba mengulas segala sesuatunya bahwa memang ada sebagian kalangan tertentu mengheningkan diri dengan bertujuan mencari kekuatan magicz ataupun kesaktian-kesaktian dengan membaca mantra-mantra dan ada pula memang bertujuan untuk membersihkan dirinya dari keburukan-keburukan dan melatih diri agar tidak hubbuddunya.

Sebetulnya apa yang dilakukan Rasulullah SAW. di goa Hiro’ itu secara bahasa bisa dikatakan sebagai mengheningkan diri (kholwat) atau I’tikaf. Karena beliau berdiam diri di suatu tempat dan menjauhi serta memutuskan hubungan denga hal yang sifatnya duniawi.

Rasulullah SAW. pergi ke goa Hiro’ itu untuk menyendiri, menjauhi hiruk-pikuk kejahiliyahan, lalu melakukan ibadah di sana dengan cara ibadah yang telah disyari’atkan kepada Nabi lbrahim. Dan itu pun beliau mulai sejak mendapatkan wahyu melalui mimpi-mimpi yang benar. Beliau tidaklah bermimpi pada malam hari, kecuali pagi harinya terbukti apa yang beliau mimpikan tersebut.

Keterangan seperti itu telah disampaikan Aisyah melalui beberapa hadits yang telah dibukukan para ulama’ hadits. Di antaranya, Aisyah berkata, “Pertama kali Rasulullah SAW. menerima wahyu adalah melalui mimpi-mimpi yang benar dalam tidurnya. Tidaklah beliau bermimpi kecuali paginya terbukti kebenarannya. Setelah itu beliau suka menyendiri. Beliauberkhalwat di goa Hiro’ seraya berbekal secukupnya, dan beribadah di dalamnya selama beberapa hari. Lalu kebbali ke keluarganya (rumah Khadijah), kemudian pergi ke goa Hiro’ lagi seraya membawa bekal secukupnya. Hal itu terus beliau lakukan sampai beliau didatangi Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepabnya …”. (HR. Bukhari, no. 2 dan 3).

lmam al-Baihaqi meriwayatkan bahwa beliau mengalami mimpi-mimpi kenabian itu selama 6 bulan lamanya, tepatnya dimulai pada bulan Rabi’ul awwal setelah umur beliau genap 40 tahun. Setelah itu, pada bulan Ramadhan dalam tahun tersebut, beliau baru mulai didatangi malaikat Jibril (di goa Hiro’) untuk menerima wahyu yang pertama dari Allah. (Kitab Fathul Bari: 1/27 dan Kitab ar-Rahiqul Makhtum: 66).

Dan pembahasan ini tentang topik ini adalah dalam prespektif agama lslam, bukan agama lainnya. Karena petunjuk kita adalah lslam, yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan ini adalah bahan introspeksi intern bagi kita. Karena masih banyaknya saudara-saudara kita yang mempunyai negatif thinking prihal Rendeman (kungkum) ini.

Adapun sisi-sisi kesamaan antara mengheningkan diri dan beri’tikaf, di antaranya adalah.

1. Menempati tempat tertentu

Orang yang beri’tikaf sama dengan orang yang mengheningkan diri, yaitu menempati tempat-tempat tertentu alias bukan sembarang tempat. Meskipun obyek tempat yang dituju oleh orang yang ber’itikaf dan yang mengheningkan diri berbeda. Orang yang beri’tikaf tempat yang dituju adalah masjid-masjid. Sedangkan orang yang mengheningkan diri, biasanya adalah tempat-tempat yang sunyi, jauh dari keramaian atau terpencil ataupun puncak dan sungai-sungai semuanya tergantung selera dan penempatan srek atau tidaknya keadaan bathin masing-masing.

2. Memutuskan hubungan duniawi

Orang yang beri’tikaf dan yang mengheningkan diri dianjurkan untuk memutuskan hubungan yang sifatnya duniawi untuk sementara waktu.
Melatih diri untuk tidak begitu mencintai dunia,menggembleng diri untuk menjadi jiwa-jiwa yg kembali kepada Robb yg Maha Tinggi,'ILAIHI TURJA'UN.

3. Disibukkan dengan ibadah tertentu

Orang yang beri’tikaf dan mengheningkan diri sama-sama menyibukkan diri dengan ibadah tertentu. Mereka konsentrasi penuh untuk mendekatkan diri kepada yang selama ini diyakini mampu untuk melindungi dirinya atau memberi kekuatan lebih baginya. Dan tidak semua jenis ibadah boleh dilakukan orang yang sedang beri’tikaf, sebagaimana hal itu juga berlaku bagi orang yang sedang mengheningkan diri.

4. Mendekatkan diri kepada yang di Sang Kholik.

Adapun beri'tikaf atau mengheningkan diri pada tempat tertentu itu mempunyai privasi tersendiri dalam mengolah dhohir dan bathin kita.Bertadzabur dalam keheningan semesta,Betafakkur dalam lingkup alam raya,bertadzakkur bersama dzikrul 'alamin,dan dapat bertasyakkur menikmati kholwat,serta melatih keikhlasan yg seutuhnya.
Kesemuanya itu tidak lain hanya untuk meningkatkan kwalitas kedekatan diri kita kepada Sang Kholik dengan dzikir dalam dzikir.

5. Mencari ketenangan batin

Termasuk sasaran yang dibidik orang yang beri’tikaf dan yang mengheningkan diri adalah mencari ketenangan batin. Mereka berusaha untuk mengistirahatkan pikiran dan jiwa mereka dari beban-beban dunia dan tugas-tugas harian yang melelahkan. Mereka berusaha untuk rehat dan relakasi ruhani serta mengevaluasi diri. Menguatkan ruhani dan batin serta menjauhkan diri dari dunia untuk sementara waktu dengan berdzikir.

6. Mengevaluasi diri.

Banyak orang yang bersemedi atau mengheningkan diri di tempat yang sunyi dan sepi dan menjadikannya sebagai sarana evaluasi diri. Entah karena sering mengalami kegagalan dalam hidupnya, sering menjumpai kesialan dalam kesehariannya, atau sering menderita berbagai macam penyakit dan malapetaka lainnya. Dengan mengheningkan diri, mereka berusaha mengevaluasi perialanan hidupnya selama ini.
Allah berfirman:
"Yaa ayyuhannafsummutmainnah irji'i ilaa robbika rodhiyatam mardhiyah."
(Hai jiwa-jiwa yg tenang,kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi)

7. Membersihkan kesalahan dan dosa.

Di antara tujuan orang yang beri'tikaf adalah membersihkan kotoran diri yang selama ini mereka lakukan. Mereka ingin mensucikan diri dan meningkatkan kualitas ruhani, agar keinginan yang diharapkan bisa terkabul dan mengharap dileburnya dosa dan kesalahan yang ada. Allah berfirman:
“… Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk …”. (QS. Hud: 114)



Rosulullah Sholallahu 'alaihi wassalam menaiki bukit menuju goa hiro' dimalam hari,dimana bahwa perlu kita ketahui tanah arab masih berupa tanah yg tandus dan belum adanya pembangunan gedung-gedung ataupun aliran-aliran air yg terpancar seperti sekarang ini.
Suhu goa yg berbalik dengan suhu diluar mengisyaratkan bahwa begitu dingin benar keadaan didalam goa hiro' tersebut,dan kelembaban didalam goa tersebut benar-benar akan menghasilkan titik beku untuk embun-embun menetes di dinding-dinding goanya.Dan jazirah arab tidak di aliri sungai-sungai kecil seperti ditanah jawa ini.
Dalam hal ini saya tidak mencari sebuah pembenaran semata yg sengaja disama-samakan dengan suatu keadaan dizaman Rosul,tapi yg jelas intinya bahwa Rendeman ini adalah suatu Gemblengan tersendiri yg tidak SESAT dan tidak SESAAT,dibutuhkan mental yg besar dan nyali yg kuat dalam hal ini.

Adapun rendeman itu juga diambil dari peninggalan-peninggalan para wali,dimana setiap wali itu berkholwat disitu selalu terpancar mata air yg mengalir,entah dari sebuah pukulan tongkatnya ataupun kekaromahannya.Dan yg begitu sangat menyolok yaitu ajaran sunan bonang yg diajarkan pada Raden Sahid atau Sunan Kalijogo,dimana Raden Sahid waktu itu masih berjuluk "Brandal Lokajaya" yg kemudian hendak mencari ilmu sejati,lalu kemudian Raden Sahidpun disuruh oleh Sunan Bonang untuk Melebur atau Meluruhkan Sifat-sifat buruknya dengan "Sesucen" dimana didalam islam disebut dengan "THOHARO",dan kemudian R.Sahidpun disuruhnya berendam dalam bibir sungai kecil.
Prihal inilah yg mendasari Rendeman agar dapat menggembleng diri kita sendiri dan melawan rasa "WAS-WAS" yg ada,seperti yg termaktub dalam "yuwas wisu fii sudhurinnas",berendam mendidik kita untuk tegar dan ikhlas dalam menjalani hidup ini.

Tingkat dingin air dimalam hari juga mengalami tingkat titik beku untuk embun,sama dengan keadaan goa dimalam hari seperti yg saya jelaskan diatas,hal ini selain Sesucen juga menyamakan suhu dingin didalam goa.

Tak lupa pula mengambil kisah Nabi Yusuf yg diceburkan didalam sumur oleh saudaranya,dan menjadikan ia tabah didalam sumur itu.
Dari Kitab Fadhail Al-Khamsah dituturkan bahwa Nabi Yusuf alaihi sallam bisa berhasil selamat dari
lubang sumur setelah Malaikat mengajarinya dengan bacaan yang mengagungkan.
Jibril: Wahai anak, siapakah yang melemparkanmu ke
dalam sumur ini?
Yusuf: Saudara-saudara
seayahku.
Jibri: Mengapa?
Yusuf: Mereka dengki kepadaku karena kedudukanku di depan ayahku.
Jibril: Maukah engkau keluar dari sini?
Yusuf: Tentu mau.
Jibril: Ucapkanlah:
Wahai Pencipta segala yang tercipta
Wahai Penyembuh segala yang terluka
Wahai Yang Menyertai segala kumpulan
Wahai Yang Menyaksikan segala bisikan
Wahai Yang Dekat dan tidak berjauhan
Wahai Penakluk yang tak
tertaklukkan
Wahai Yang Mengetahui segala yang ghaib
Wahai Yang Hidup dan Tak Pernah Mati
Wahai Yang Menghidupkan yang mati
Tiada Tuhan kecuali Engkau,
Maha Suci Engkau
Aku bermohon kepada-Mu
Yang Empunya Pujian
Wahai Pencipta langit dan bumi
Wahai Pemilik Kerajaan
Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
Aku bermohon agar Engkau sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
Berilah jalan keluar dan
penyelesaian dalam segala urusan dan dari segala kesempitan
Berilah rezeki dari tempat yang aku duga dan dari tempat yang tidak aku duga.
Kemudian Nabi Yusuf as
mengucapkan doa tersebut, hingga beliau dapat keluar dari dalam sumur melalui perantaraan seorang musafir yang kebetulan lewat daerah itu dan mencari air.
Nabi Yusuf as akhirnya dapat selamat dari tipu daya saudara-saudaranya. Kerajaan Mesir pun didatangkan dari tempat yang tidak ia duganya.

Berikut juga doa dari Nabi Yusuf as agar mendapat khusnul khotimah :
"Robbii qod aatainii minalmulki wa'allam tanii min ta'wiilil ahaadiits, faathiros samaa waati wal ardh, anta waliyyi fiddunya wal aakhiroh, tawaffanii muslimaw wa alhiqnii bishshoolihiin."

Dan tak lupa pula diikuti dari jejak Sang Nabi Khidir yg berada dalam telaga pertemuan antara dua air yg berbeda,dimana Nabi Musa disuruh Allah untuk menemuinya.

Rendeman disamping penggemblengan diri juga adalah suatu amalaiah yg turut merasakan keadaan orang-orang terdahulu diantara Nabi-nabi-Nya dan para wali-wali-Nya.

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu;” (QS.Hud 120)

Jadi sangatlah berbeda sekali orang-orang yg berniat Berendam dengan Ritual Sakral dengan yg Niat berendam bertujuan untuk mengheningkan diri mendekat kepada Allah semata.Karna Allah berfirman:
“Yang demikian adalah karena Sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan Sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.” (QS.Muhammad 3)

“Dan ikutilah Sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”, (QS.Az-Zumar 55)

WEJANGAN NABI HIDIR KEPADA KANJENG SUNAN KALIJAGA

Arsip untuk ‘WEJANGAN NABI HIDIR KEPADA KANJENG SUNAN KALIJAGA’ Kategori

WEJANGAN NABI HIDIR KEPADA KANJENG SUNAN KALIJAGA

4 September 2011
Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaka berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi, niatnya itu akhirnya dihadang Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya Kanjeng Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yakni kembali ke pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau Jawa akan kembali kafir.
Bagaimana wejangan dari Nabi Khidir pada Kanjeng Sunan Kalijaga? Hal itu tercetus lewat Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Inilah kutipan wejangannya:
Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki
Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.
Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.
Ada pun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya
Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami
Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku
Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya Allah ana nireki.
Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu
Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi
Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.
Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.
Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup
Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (S.Kalijaga) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.
mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

 

Harta Anak itu Milik Orang Tua

Jika orang tua mengambil harta anak maka tidak boleh bagi anak untuk menuntut orang tuanya agar mengembalikannya. Jika ternyata orang tua mengembalikannya maka alhamdulillah. Namun jika tidak mengembalikan harta tersebut, maka itulah hak orang tua.
عن عائشة عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال " ولد الرجل من كسبه من أطيب كسبه فكلوا من أموالهم "

Dari Aisyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Anak seseorang itu termasuk jerih payah orang tersebut bahkan termasuk jerih payahnya yang paling bernilai, maka makanlah sebagian harta anak.” (HR. Abu Daud, no.3529 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)
إن من أطيب ما أكل الرجل من كسبه وولده من كسبه

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seenak-enak makanan yang dimakan oleh seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri dan anak seseorang adalah termasuk jerih payahnya.” (HR. Abu Daud, no. 3528 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)
عن جابر بن عبد الله أن رجلا قال يا رسول الله إن لي مالا وولدا. وإن أبي يريد أن يجتاح مالي. فقال: ( أنت ومالك لأبيك )

Dari Jabir bin Abdillah, ada seorang berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 2291, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan bahwa sang anak dalam hal ini sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak meski demikian Nabi tetap mengatakan “Semua hartamu adalah milik ayahmu.”
عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال إن أبي اجتاح مالي. فقال:( أنت ومالك لأبيك ) وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( إن أولادكم من أطيب كسبكم . فكلوا من أموالهم )

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakek ayahnya yaitu Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, ada seorang yang menemui Nabi lalu mengatakan, “Sesungguhnya ayahku itu mengambil semua hartaku.” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk jerih payah kalian yang paling berharga. Makanlah sebagian harta mereka.” (HR. Ibnu Majah, no. 2292, dinilai sahih oleh Al-Albani).
Perlu diketahui bahwa kebolehan orang tua untuk mengambil harta milik anak baik dalam jumlah sedikit ataupun banyak itu memiliki beberapa syarat, yaitu:
  1. Tidak memberikan mudharat bagi sang anak dan tidak mengambil harta yang berkaitan dengan kebutuhan sang anak.
  2. Tidak mengambil harta anaknya kemudian diberikan kepada anaknya yang lain.
  3. Orang tua tidak menghambur-hamburkan harta tersebut dan tidak berbuat mubadzir (mubadzir adalah membelanjakan harta dalam hal yang tidak jelas manfaatnya dari sisi dunia atau pun dari sisi agama).
  4. Orang tua membutuhkan atau berhajat dengan harta anaknya yang dia ambil.
عن عائشة-رضي الله عنها- قالت :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
إنّ أولادكم هبة الله لكم "يهب لمن يشاء إناثا ويهب لمن يشاء الذكور"فهم وأموالهم لكم إذا احتجتم إليها

Dari Aisyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya anak-anak kalian adalah pemberian Allah kepada kalian sebagaimana firman Allah yang artinya, 'Dia memberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki anak perempuan dan Dia memberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki anak laki-laki.” (QS. Asy-Syura: 49). Oleh karena itu, maka mereka dan harta mereka adalah hak kalian jika kalian membutuhkannya." (Shahih, Silsilah Shahihah, no.2564).
Ketika menjelaskan hadis di atas Al-Albani mengatakan, "Hadis di atas memuat hukum fikih yang penting yang boleh jadi tidak Anda jumpai dalam hadis yang lain. Hadis ini adalah penjelasan untuk hadis yang terkenal, 'Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu' –sebuah hadis yang terdapat dalam Irwaul Ghalil, no.838- tidaklah berlaku mutlak sehingga orang tua boleh mengambil harta anaknya semaunya. Ini tidak benar. Orang tua hanya boleh mengambil harta anaknya yang memang dia butuhkan."
Perlu juga diketahui bahwa bahwa orang tua diperkenankan untuk meralat alias tidak jadi memberikan apa yang dia janjikan untuk dia berikan kepada anaknya sebagaimana dalam hadis berikut ini,

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي طَاوُسٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ يَرْفَعَانِ الْحَدِيثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ يُعْطِي عَطِيَّةً ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا إِلَّا الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَهُ وَمَثَلُ الَّذِي يُعْطِي عَطِيَّةً ثُمَّ يَرْجِعُ فِيهَا كَمَثَلِ الْكَلْبِ أَكَلَ حَتَّى إِذَا شَبِعَ قَاءَ ثُمَّ عَادَ فِي قَيْئِهِ

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari Thawus dari Ibnu Abbas, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah halal bagi seseorang yang memberikan pemberian kepada orang lain untuk menarik kembali pemberiannya kecuali pemberian orang tua kepada anaknya. Permisalan orang yang memberi pemberian kemudian menarik kembali pemberiannya adalah bagaikan seekor anjing yang makan sampai kenyang lalu muntah kemudian menjilat kembali muntahannya.” (HR. Nasai, no. 3690 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)
Hadis di atas menunjukkan bahwa “Pemberian yang haram untuk ditarik kembali adalah pemberian kepada selain anak.” (Bahjah an Nazhirin, karya Salim al Hilali jilid:3 Hal.123, terbitan Dar Ibnul Jauzi cet kedelapan 1425 H).
Jika pemberian yang sudah diserahkan orang tua kepada anaknya boleh diralat alias ditarik kembali, maka terlebih lagi jika pemberian tersebut baru sekedar janji. Tentu lebih boleh lagi untuk diralat.
*wallohu a'alam*

Referensi: www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=7033
http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/durhaka-kepada-orang-tua

Artikel 
https://pengusahamuslim.com/2656-harta-anak-itu-1414.html