Kamis, 09 Agustus 2018

Kisah Nabi Ayyub as, Tabah Menerima Cobaan

Kisah Nabi Ayyub as, Tabah Menerima Cobaan


TELADAN DARI NABI AYYUB AS

Sering kita beranggapan ketika kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat musibah atau cobaan dari Allah. Jarang sekali kita mengatakan bahwa nikmat yang diberikan Allah itu sebenarnya juga merupakan ujian dari Allah. Ada diantara kita yang sanggup menghadapi ujian itu dan ada pula yang tegar dan sabar menghadapinya.

Allah mencintai hamba-hambaNya dengan cara yang unik dan berbeda-beda. Semakin tinggi ketakwaan seorang hamba, semakin unik cara Dia mencintainya. Salah satunya adalah Nabi Ayub. Seorang nabi yang diuji oleh Allah dengan harta, keluarga serta badannya.

Ayyub adalah seorang Nabi yang sangat kaya raya.Istananya megah,rezekinya berlimpah,istri dan anaknya sehat wal'afiat.Yang lebih penting dalam kemakmurannya itu Ayyub tetap menjadi seorang hamba Allah yang saleh dan kuat ibadahnya.

Kekayaannya yang melimpah ruah dan rumah tangganya yang sakinah, tidak menjadikan Ayyub lalai atau mabuk.Dia bahkan semakin tekun dengan bersujud dan berbakti.Demikian juga istrinya yang bernama Rahmah.

Suatu saat ketika para malaikat membicarakan manusia dan sejauh mana mereka beribadah kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata: “Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik daripada Nabi Ayub. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah SWT dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya.” Para Malaikat sampai kagum melihat ketaatan Nabi Ayyub as. Namun sebalikya Iblis hatinya merasa sangat panas dan ingin mencoba menggoda Ayyaub dan keluarganya.

Syaitan mendengarkan pembicaraan para malaikat lalu mereka mencoba mendatangi nabi Ayyub untuk menggodanya. Tetapi karena keimanannya kepada Allah, Syaitan kesulitan mendapatkan jalan untuk mengganggunya.

Ketika Syaitan berputus asa dari mengganggu Nabi Ayyub, ia berkata kepada Allah SWT: “Ya Rabbi, hambaMu Ayyub sedang menyembah-Mu dan menyucikanMu. Namun, ia menyembahMu bukan karena cinta, tapi ia menyembahMu karena kepentingan-kepentingan tertentu. Ia menyembahMu sebagai balasan kepadaMu karena Engkau telah memberinya harta dan anak dan Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan. Sebenarnya ia ingin menjaga hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya. Seakan-akan berbagai nikmat yang Engkau karuniakan padanya adalah rahasia dalam ibadahnya. Ia takut kalau-kalau apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur. Oleh karena itu, ibadahnya dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di dalamnya bercampur antara rasa takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni karena cinta.”

Lalu Allah pun berkata kepada iblis “Sesungguhnya Ayyub adalah hamba yang mukmin dan sejati imannya. Ayyub menjadi teladan dalam keimanan dan kesabaran. Aku membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja yang engkau inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau lakukan.”

Lalu Iblis pun datang kepada nabi Ayyub lalu menghancurkan semua harta-hartanya. Keadaan nabi Ayyub sekarang menjadi fakir. Lalu nabi Ayyub pun berkata “Oh musibah dari Allah SWT. Aku harus mengembalikan kepada-Nya amanat yang ada di sisi kami di mana Dia saat ini mengambilnya. Allah SWT telah memberi kami nikmat selama beberapa masa. Maka segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat yang diberikannya, dan Dia mengambil dari kami pada hari ini nikmat-nikmat itu. Bagi-Nya pujian sebagai Pemberi dan Pengambil. Aku dalam keadaan ridha dengan keputusan Allah SWT. Dia-lah yang mendatangkan manfaat dan mudharat. Dia-lah yang ridha dan Dialah yang murka. Dia adalah Penguasa. Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang di kehendaki-Nya, dan mencabut kerajaan dari siapa yang dikehendaki-Nya; Dia memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya.”

Iblispun kemudian turun menghancurkan segala milik Ayyub.Semua kebun dan tanahnya yang dulu subur kini menjadi kering dan terbakar.Binatang ternaknya terserang wabah yang kemudian mati semua.

Setelah itu Iblis datang menemui Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua yang nampak bijaksana.

"Tuhan yang engkau sembah setiap hari ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku sangat kasihan padamu Ayyub. Cobalah kau mencari Tuhan lain yang mungkin dapat menolongmu." kata Iblis.

Mendapat bujukan-bujukan Iblis itu, Ayyub tidak tergoda sama sekali,bahkan semakin tekun dia bersujud. Dia percaya segala kenikmatan yang telah direguknya adalah pemberian Tuhan dan Tuhan berhak mengambilnya sewaktu-waktu dan kapanpun. 

Melihat semua itu Iblis menjadi kecewa dan marah. Dia menghadap Tuhan dan berkata:

"Ayyub masih tetap taat kepada-Mu karena dia masih punya anak.Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Barulah nanti Kau tahu bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya."

Setelah usahanya gagal iblis datang kepada Allah lalu meminta ijin untuk membunuh anak-anak Nabi Ayub. Dengan izin Allah, iblis dibolehkan berbuat apapun kepada anak Ayub. Lalu iblispun menggoncangkan rumah Nabi Ayyub sehingga anak-anak Nabi Ayyub meninggal semua.

Maka Iblis itu segera menyebarkan wabah penyakit dan bencana. Semua anak Ayyub meninggal, istana tempat tinggal mereka hancur hingga menjadi puing-puing karena gempa.

Melihat keadaan itu nabi Ayyub pun berdoa kepada Allah dan menyeru: “Allah memberi dan Allah mengambil. Maka bagi-Nya pujian saat Dia memberi dan mengambil, saat Dia murka dan ridha, saat Dia mendatangkan manfaat dan mudharat. Kemudian Ayyub pun sujud dan iblis lagi-lagi tampak tercengang dan merasa malu karena kesabaran Nabi Ayyub.

Melihat kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, Ayyub hanya memandangnya dengan meneteskan air mata. Dari mulutnya hanya keluar ucapan tawakal dan pasrah diri. 

Datanglah kembali Iblis yang menyamar sebagai orang tua.

"Begitukah balasan Tuhan atas ketaatan dan kekhusyukan ibadahmu? Kau memuji-muji keagungan-Nya dengan tak henti-henti, tetapi apa yang kamu dapatkan? Hanya bencana dan kesengsaraan." Tanya Iblis.

"Dialah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil. Dia yang menghidupkan, Dia juga yang mematikan." jawab Ayyub.

Iblis menjadi berang, dia kembali menghadap Tuhan.

"Ayyub tetap taat kepada-Mu karena dia sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak lagi. Kalau dia sakit parah, sehingga lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dari-Mu."

Tidak cukup sampai disitu Iblis meminta izin lagi kepada Allah untuk mengganggu badan Nabi Ayyub sehingga sakit kulit di mana tubuhnya membusuk dan mengeluarkan nanah, bahkan keluarganya dan sahabat-sahabatnya mengucilkan kecuali isterinya. Namun lagi-lagi Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT. Beliau memuji-Nya pada hari-hari kesehatannya dan ia tetap memuji Allah SWT saat mendapatkan ujian sakit. Dalam dua keadaan itu, Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT.

Semua orang tak ada yang mau menjenguk atau mendekatinya karena bau tubuh Ayyub bisa membuat orang muntah-muntah, dan juga karena takut tertular penyakit yang menjijikkan itu.

Hanya Rahmah, istrinya, yang dengan sabar mendampingi Ayyub, merawatnya dengan baik. Kudis bernanah yang penuh dengan ulat dicucinya tiap hari. Padahal semua orang yang lewat harus mendekap hidungnya karena tak kuat mencium bau busuknya.

Akhirnya sampailah penderitaan Ayyub dan istrinya pada puncaknya. Orang kampung berduyun-duyun mendatangi rumah Ayyub. Dengan paksa dan disertai ancaman mereka mengusir Ayyub dan istrinya agar segera keluar dari kampung mereka. Dengan susah payah Rahmah menggendong suaminya dan tinggal di sebuah gubuk terpencil di tepi hutan.

Tiap hari Rahmah keluar menjual sisa-sisa barang miliknya untuk dibelikan makanan. Hingga akhirnya sisa barang yang dimilikinya ludes. Dalam keadaan kelaparan, Rahmah kemudian mencari pekerjaan, dia diterima disebuah pabrik roti. Tetapi, ketika diketahui bahwa dia adalah istri Ayyub, pemilik pabrik roti itu buru-buru memecatnya,takut kalau nanti rotinya gak laku.

Karena merasa putus asa Rahmah kemudian memotong rambutnya yang panjang dan ikal untuk dijual sekedar digunakan membeli roti. Ketika pulang ditengah jalan ia bertemu dengan seorang tabib.

"Hai Rahmah,engkau istri Ayyub bukan?" sapa tabib itu.

"Suamimu akan bisa sembuh jika dia mau minum sebotol arak. Bawalah ini berikan kepada suamimu!"

Tanpa pikir panjang lagi Rahmah menerima arak yang disodorkan tabib itu.Dengan perasaan gembira ia pulang dengan mempercepat langkahnya. Sesampai dirumah Rahmah langsung menemui Ayyub. Betapa terkejutnya dan marah Ayyub ketika melihat kepala istrinya yang telah di potong rambutnya untuk dijual. Lebih marah lagi ketika Rahmah menceritakan pertemuannya dengan seorang tabib di tengah jalan tadi.

"Dia memberikan obat agar kau dapat sembuh dari penyakitmu." kata Rahmah.
"Obat apa itu?" tanya Ayyub tidak senang
"Arak." jawab Rahmah

"Haram!" teriak Ayyub dengan murka. "Apakah kau akan menyeretku ke neraka, hah! Keluar kamu dan pergi dari sini! Awas, bila nanti badanku sudah sembuh, akan kucambuk kau seratus kali!"

Sambil menangis Rahmah keluar. Hatinya sangat sedih bukan karena diusir, tetapi karena memikirkan suaminya. Seandainya dia pergi siapa yang akan merawatnya? Dengan bingung dan gelisah Rahmah berkeliaran kesana kemari seharian. Menjelang sore,ia tak tak tahan lagi. Karena sangat cintanya pada suami, ia cepat-cepat kembali ke gubuknya.

Begitu memasuki gubuk Rahmah menjadi terkejut, Ayyub tidak lagi berada diatas pembaringannya.Kemanakah dia? Siapakah yang membawanya? Sebab tidak mungkin suaminya itu bangun sendiri dari tempat tidurnya.

Rahmah menangis sedih sambil duduk bersedeku, dua telapak tangannya menutup wajahnya.Tiba-tiba sebuah tangan seorang lelaki mengelus pundaknya dengan mesra dari belakang. Rahmah menjadi terkejut,ia menoleh sambil menjerit. Di belakangnya telah berdiri seorang lelaki yang tidak dikenalnya, meskipun wajahnya mirip dengan suaminya ketika masih sehat dulu. Lelaki itu nampak cakep, bersih dan sehat. Bau tubuhnya pun sangat harum.

"Siapa engkau? Sungguh kurang ajar dirimu yang tak memiliki kesopanan!" Teriak Rahmah dengan marah.
" Aku Ayyub,suamimu." jawab lelaki itu sambil tersenyum
"Ayyub....?" tanya Rahmah seakan tidak percaya.

" Ya. Ketika engkau pergi, tiba-tiba terpancar air di depanku. Hawanya panas dan berbau belerang. Aku diperintahkan Allah untuk mandi dengan air itu dan membersihkan badanku. Selesai mandi beberapa saat,sedikit demi sedikit kudis yang menempel di kulitku rontok. Kulitku kembali bersih seperti dulu. Dan inilah aku sekarang, suamimu."

Betapa gembira dan bahagianya Rahmah melihat suaminya sembuh dari penyakitnya. Mereka kemudian berpelukan, merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang.

Setelah itu Ayyub mengambil dahan ranting kecil sebanyak seratus batang lalu diikat menjadi satu. Rahmah dipukulnya sekali untuk membayar ancamannya ketika marah kepada istrinya beberapa waktu lalu. Selanjutnya mereka hidup bahagia serta menurunkan Nabi-nabi di belakang hari.

Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia semulia Ayyub. Ia tak pernah membenci Allah dengan takdirnya, tak pula ia merasa bahwa Tuhan yang dicintainya itu tak adil terhadapnya. Semakin berat sakit yang dirasa, semakin cinta Ayyub kepada Allah. Dan mulianya Ayyub, semakin parah penyakitnya semakin ia tersenyum. Allah dan para malaikat pun kan tersenyum oleh kesabaran lelaki mengagumkan itu.

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)

Nabi Ayyub tetap ingat Allah dalam keadaan suka dan duka. Ketika dalam keadaan suka ia tetap mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan Allah. Ketika dalam duka iapun tetap sabar, ikhlas dan keimanan beliau malah semakin bertambah.

Berbeda dengan kita, ketika kita ingin mencapai suatu kenikmatan dariNya kita sering berdoa meminta kepada allah. Sholat, zakat, puasa dan amalan-amalan lain rela kita lakukan tetapi setelah Allah memberikan kenikmatan kepada kita, kita perlahan-lahan “melupakanNya”.

Musibah yang menimpa kita menandakan cinta Allah kepada kita. Musibah merupakan pertanda Allah kepada kita untuk kembali “mengingatNya”. Allah takut kalau kita menjadi orang lalai karena kenikmatan; kenikmatan yang diberikanNya. Maka dari itu sabar dan ikhlaslah dalam menghadapi cobaan dari Allah. Jangan sedih ketika ada musibah dan jangan lalai ketika ada nikmat.

Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: (Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

Sambutlah saat duka cita Sebagai karunia,
Karena suka maupun duka Datang daripadaNya.
Bila itu datang dari Dia, Mengapa menolaknya?
Tuhan selalu menyertai kita Dan mengawasi kita.
Bila duka cita membawa manfaat, Ia memberi duka cita;
Bila suka cita membawa manfaat, Ia memberi suka cita.
Kedua-duanya kita peroleh Sesuai kehendakNya
Jangan bersedih karena duka
Dan jangan lalai ketika suka

Ambillah hikmah walau darimana asalnya dan darimana datangnya, Lihatlah apa yg disampaikan dan jangan lihat siapa yg menyampaikan. Jika ada kebaikan maka Ambillah akan tetapi jika tidak ada atau bahkan hanya keburukan maka jauhilah. Kebenaran itu murni haq datangnya hanya dari Allah swt semata, jika ada kekurangan maka sudah jelas hamba inilah yg masih jauh dhoif dalam segala bidang. saya bukannya bermaksud mengajari ataupun sok pandai karena saya sendiri masih dalam taraf belajar. Ilmu itu adalah amanah yg harus disampaikan dan saya hanya berusaha menyampaikan apa yang saya miliki. Sampaikanlah walau cuma satu ayat.

"Wallahu A'lam Bish Showab"

SimpanSimpan


Posting Lama

i

Kisah Nabi Ayyub Imam Orang-orang Sabar

Jendela Hati

MENGGAPAI KEDAMAIAN JIWA

BERANDAABOUT MEDOWNLOADGALLERYKHAZANAHMY ARTICLESMY SCHOOLSTUDY

RSS

Kisah Nabi Ayyub Imam Orang-orang Sabar

Nabiyullah Ayyub, Imam Orang-Orang Sabar

Ayyub adalah hamba shalih dan teladan kesabaran. Kisahnya diceritakan untuk menghibur orang-orang yang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga, dan harta. Dia dulu sehat lalu sakit, dulu kaya lalu miskin, pemilik keluarga dan anak, lalu Allah mengambil keluarga dan anaknya. Dia menjalani semua itu dengan kesabaran yang baik, tidak mengaduh, dan tidak meratap. Ujiannya berlangsung lama. Semangatnya tidak berkurang karena ujian yang panjang itu. Kemudahan datang dari Allah ketika Ayyub memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. Allah mengembalikan kesehatannya, mengembalikan harta dan anaknya dua kali lipat dari yang sebelumnya. Kisahnya menjadi cerita yang menghiasi bibir orang-orang yang sesudahnya. Kisah seorang imam orang-orang yang sabar, Ayyub Nabiyullah.

Teks Hadis

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang laki-laki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, ‘Ketahuilah, demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.’ Temannya menanggapi, ‘Apa itu?’ Dia menjawab, ‘Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak mengangkat ujian yang menimpanya.’

Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan tidak mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, ‘Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakana. Hanya saja, Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya karena aku khawatir nama Allah disebut tidak dalam kebenaran.’

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, ‘Ayyub pergi buang hajat. Jika dia buang hajat, istrinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari Ayyub terlambat dari istrinya dan Allah mewahyukan kepada Ayyub, ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ (Shad: 42). Istrinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia lebih tampan dari sebelumnya. Ketika istrinya melihatnya dia berkata, ‘Semoga Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat nabiyullah, orang yang sedang diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya saat dia dalam keadaan sehat.’ Ayyub berkata, ‘Sesungguhnya akulah Ayyub.’

Ayyub memiliki dua tempat untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jemawut, lalu Allah mengirim dua gumpalan awan. Ketika awan yang pertama tiba di atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai melimpah, dan awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan jewawut sampai melimpah pula.”

Takhrij Hadis

Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata tentang takhrij hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (1/24), “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (1 176-177), Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (3/374-375) dari dua jalan dari Said bin Abu Maryam. Nafi’ bin Yazid menyampaikan kepada kami, Aqil memberitakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik secara marfu’.” Dan dia berkata, “Gharib dari hadis Az-Zuhri, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Aqil. Rawi-rawinya disepakati keadilan mereka. Naïf meriwayatkan secara sendiri.”

Aku berkata, “Dia adalah rawi tsiqah(terpecaya) sebagaimana yang dikatakannya. Muslim meriwayatkan hadisnya, rawi-rawi lainnya adalah rawi-rawi Syaikhain. Jadi, hadis ini shahih. Ia dishahihkan oleh Adam-Dhiya’ Al-Maqdisi. Dia meriwayatkannay dalam Al-Mukhtarah (2/220-221) dari jalan ini. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2091) dari Ibnu Wuhaib. Nafi’ bin Yazid memberitakan kepada kami.”

Penjelasan Hadis

Ayyub adalah salah seorang Nabi Allah yang mulia. Allah mewahyukan kepada Ayyub, “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (An-Nisa: 163).

Ayyub termasuk keturunan Ibrahim. Firman Allah, “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-An’am: 84).

Allah telah menceritakan kisahnya di dua tempat dalam kitab-Nya, pertama dalam surat Al-Anbiya. Firman Allah, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.’ Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya: 83-84).

Kedua dalam surat Shad. Firmannya, “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya, ‘Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Shad: 41-44).

Dalam sunah Rasulullah terdapat keterangan tentang kisah Ayyub yang lebih jelas dan terperinci. Dari seluruh keterangan dalam Al-Qur’an dan hadis dapat diambil kesimpulan bahwa hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan sebelum memperoleh ujian, kehidupannya makmur. Allah menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya, kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka dia mengambil harta dan anaknya, badannya pun berpenyakit. Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya. Yang masih baik kepadanya hanyalah istrinya dan dua orang dari sahabatnya yang mulia. Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur karenanya.

Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayyub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung ujian itu selama delapab belas tahun dan Allah belum mengangkat apa yang menimpanya. Terbesit di pikiran orang ini bahwa cobaan Ayyub itu mungkin dikarenakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya. Dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut. Pada waktu Ayyub sehat dan bugar, dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayyub pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, karena dia khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.

Di sanalah Ayyub menghadap kepada Tuhannya denagn doa memohon dari-Nya agar ujiannya diangkat, “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (Al-Anbiya: 83). “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Shad: 41).

Allah menjawab doanya dan mengangkat ujian yang menimpanya. Allah Maha Berkuasa atas segala hal. Jika Dia menghendaki sesuatu, pastilah terjadi. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu menghalangi-Nya.

Sudah menjadi kebiasaan Ayyub jika dia pergi buang hajat, dia diantar dan dituntut oleh istrinya karena badannya yang lemah. Jika Ayyub telah tiba di tempat yang dituju, istrinya membiarkannya menunaikan hajatnya. Setelah itu dia kembali menuntun suaminya pulang ke tempat tinggalnya. Pada hari ketika Ayyub berdoa kepada Allah, dia terlambat kembali kepada istrinya yang sedang menunggunya. Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah, maka dari tempat yang dijejakkannya itu memancarlah air. Allah meminta Ayyub agar minum air itu dan mandi darinya. Air itu menghilangkan penyakit di tubuhnya, lahir dan batin. Ayyub kembali sehat dan bersemangat pada saat itu juga. Kesehatannya dan kekuatannya pulih seperti ia tidak pernah sakit.

Ayyub menemui istrinya dengan penuh semangat dan gairah seperti sebelum dia diserang penyakit. Ketika istrinya melihatnya, dia tidak mengenalinya walaupun dia melihatnya seperti suaminya yang dahulu sehat wal afiat. Dia bertanya kepadanya tentang suaminya, seorang nabi yang sakit-sakitan. Dia menyebutkan apa yang pernah dilihatnya dari suaminya pada saat suaminya masih sehat dan kuat. Dia sama sekali tidak menduga bahwa suaminya bisa sehat dan sembuh dari penyakitnya dalam waktu yang sesingkat itu, yaitu sewaktu dia terlambat untuk kembali kepadanya. Kebahagiannay begitu besar manakala dia melihat nikmat Allah kepada suaminya dalam bentuk kembalinya kesehatan dan kekuatan kepadanya.

Sebagaimana Allah mengembalikan kesehatan dan kekuatannya, Allah juga mengembalikan hartanya yang hilang sebanyak dua kali lipat, serta menganugerahkan anak-anak kepadanya dua kali lipat pula. Alalh mengirimkan dua awan yang tidak membawa hujan, tetapi membawa emas dan perak. Ayyub memiliki dua tempat penyimpanan hasil bumi. Yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jemawut. Awan pertama menumpahkan emas di tempat penyimpanan gandum dan awan kedua menumpahkan perak di tempat penyimpanan jemawut.

Pada waktu sakit Ayyub pernah marah kepada istrinya. Dia bernadzar, jika dia sembuh, dia akan memukulnya seratus kali. Setelah sembuh Ayyub merasa berat memukul istrinya yang selama dia sakit begitu sabar merawatnya, tetapi dia juga merasa berat karena tidak menunaikan nadzar kepada Tuhannya. Maka Allah memberikan jalan keluar dan kemudahan. Dia memerintahkan Ayyub agar mengambil seikat batang gandum atau jemawut dan memukul istrinya dengan itu satu kali pukulan, dengan itu Ayyub telah menunaikan nadzarnya dan tetap tidak menyakiti istrinya. Allah berfirman untuk Ayyub, “Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.” (Shad:44).

Imam Ahmad berpendapat bahwa dibolehkan memukul orang yang melakukan dosa yang terancam hukuman had, seperti orang yang berzina yang belum menikah dan orang yang melakukan dosa qadzaf (menuduh) dengan pukulan seperti pukulan pukulan Ayyub, jika yang bersangkutan sakit sehingga ditakutkan akan celaka setelah dia dipukul. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memerintahkan para sahabat untuk memukul seorang laki-laki yang sakit yang telah berzina dengan seorang wanita dengan sebuah janjang kurma yang terdiri dari seratus cabang sebanyak satu kali pukulan. (Lihat Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim (2/98). Hadis yang disinggung di atas dinisbatkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani di Silsilah Al-Ahadis As-Shahihah (6/1215) dengan no. 2968 kepada Nasai di Sunan Kubra, Ibnu Majah, Baihaqi, Ahmad dan lain-lainnya).

Ayyub adalah soerang yang gesit, dermawan dan humoris dalam kejujuran. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah memberitakan kepada kita di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpannya di bajunya. Maka Tuhan memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar, ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahanMu’.” (Jami’ul Ushul, 8/521).

Mungkin anda membayangkan keadaan Ayyub ketika dia melompat dalam keadaan telanjang, mengumpulkan dan memunguti belalang emas, lalu meletakkan di bajunya. Maka Tuhannya memanggilnya, “Bukankah Aku telah membuatmu kaya sebagaimana kamu lihat?” (Yakni, melalui dua awan yang menuangkan emas dan perak di tempat penyimpanan hasil buminya). Ayyub menjawab, “Siapa yang tidak memerlukan keberkahan-Mu, ya Rabbi?”

Versi Taurat

Barang siapa membaca kisah Ayyub di dalam Al-Qur’an dan hadis yang shahih lalu membaca kisah ini dalam Taurat, maka dia akan meyakini bahwa salah satu sasaran pemaparan versi dalam Al-Qur’an dan penjelasan detail-detailnya di dalam hadis adalah untuk membongkar penyelewengan kisah ini menurut versi Bani Israil dan membebaskan Nabiyullah Ayyub dari tuduhan palsu dan dusta oleh orang-orang yang menyeleweng lagi zhalim.

Klaim pertama yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah klaim para penulis kisahnya dalam Taurat bahwa Ayyub hanyalah seorang laki-laki shalih lagi lurus. Dia bukan seorang nabi. Klaim kedua yang harus diluruskan dan dikoreksi adalah apa yang dikatakan oleh Taurat bahwa Ayyub marah kepada Tuhan-nya ketika menjalani cobaan. Kemarahan Ayyub kepada Tuhannya ini dipaparkan dipaparkan lewat perbicangan panjang antara Ayyub dan ketiga orang temannya. Walau Ayyub dengan imannya dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia tetap berbicara panjang kepada teman-temannya untuk menampakkan penderitaannya karena cobaan dari Allah, walaupun dia tetap baik, lurus dan melakukan kebaikan.

Dialog yang terjadi adalah dialog yang panjang. Melalui dialog ini para pengarangnya bermaksud untuk mengatasi masalah akidah, yaitu sebab-sebab Allah menurunkan ujian-Nya kepada orang shalih dan hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya dan teguh di atas perintah-Nya. Dialog itu mengangkat masalah ini dengan bahasa filsafat dan bahasa syair. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi menganggap bahwa Safar Ayyub adalah salah satu Safar hikmah.

Aneh jika Ayyub dalam Taurat adalah seorang pemarah dan pengeluh yang jauh dari pemahaman yang lurus, menolak berserah diri kepada qadha dan qadar, dan bahwasanya teman-temannya adalah orang-orang yang mengerti dan mengetahui sehingga berusaha sepenuh daya guna untuk memberi pengertian, pelajaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar.

Kedustaan semua itu ditunjukkan oleh hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tentang kesabaran Ayyub dalam keteguhannya untuk menerima apa yang menimpanya tanpa berkeluh kesah, sampai-sampai seorang temannya menduga sesuatu pada diri Ayyub. Dia melihat lamanya ujian yang menimpa Ayyub sebagai bukti bahwa Ayyub telah melakukan dosa besar sehingga dia berhak menerima hukuman panjang ini. Ayyub membantah hal itu dengan menyebutkan kepada mereka tentang ketaqwaan dan kebersihan hatinya semasa dia sehat wal afiat.

Apa yang ditetapkan oleh hadis menunjukkan bahwa Ayyub lebih memahami, lebih bertaqwa, dan lebih mengetahui. Dia tidak bimbang. Bimbang ini tidak datang darinya, tetapi dari salah seorang temannya.

Adalah benar ketika Taurat menyebutkan bahwa Ayyub mengerti, bertaubat, dan kembali kepada Allah. Akan tetapi, apa yang disebutkan oleh Taurat bahwa Ayyub mengeluh, merasa sempit dan marah, ini tidaklah benar sama sekali. Taurat sesuai dengan Al-Qur’an dalam memberitakan bahwa Ayyub dulunya adalah orang yang kaya sebelum ditimpa musibah. Dia memiliki keluarga dan anak, dan bahwa Allah mengambil harta dan anaknya sebagaimana ujian menimpa jasadnya, lalu Allah mengembalikan keluarga, anak, serta hartanya kepadanya setelah Ayyub sembuh.

Akan tetapi, Taurat menyembunyikan hakikat manakala mengklaim bahwa Allah memberi ganti harta kepada Ayyub melalui hadiah dari saudara-saudara dan kawan-kawannya. Padahal, dari hadis Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kita mengetahui bagaimana Allah melimpahkan harta kepada Ayyub dalam bentuk emas dan perak melalui awan. Kembalinya harta kepada Ayyub bukan melalui hadiah dari kerabat dan teman-temannya.

Taurat sesuai dengan Al-Qur’an dalam urusan penyakit yang menimpa tubuh Ayyub, yaitu dari setan. Namun perincian-perincian yang disebutkan oleh Taurat dalam perbincangan antara Allah dengan setan tidaklah benar. Hal ini menyelisihi kaidah-kaidah syariat yang pokok lagi baku. Allah tidak berbincang dengan setan setelah Dia mengusirnya dari rahmat-Nya, walaupun terkadang Dia mengizinkan untuk menimpakan penyakit kepada hamba-hamba-Nya karena sesuatu perkara yang diinginkan oleh-Nya.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
Keutamaan Nabiyullah Ayyub dalam kesabarannya atas ujian dari Allah; lenyapnya harta, keluarga, dan anak, ditambah penyakit dan menjauhnya teman-teman darinya.
Akibat dari kesabaran adalah kebaikan dunia dan akhirat. Allah menyembuhkan Ayyub setelah penyakit yang berkepanjangan. Dia mengembalikan kekuatan dan kesehatannya, memberinya harta yang melimpah dan anak-anak shalih.
Tingginya ta’dzim (pengagungan) Ayyub kepada Tuhan-nya. Dia menebus dengan bersedekah atas nama dua orang yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, karena takut nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
Besarnya kesetiaan istri Ayyub kepada suaminya dan pengabdiannya kepada Tuhannya. Begitu pula kedua temannya. Kesulitan hidup membuka kualitas orang, walaupun orang-orang dengan kualitas bersih semakin sedikit, akan tetapi di setiap masa dan kota akan selalu ada, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.
Kemampuan Allah untuk menghapus ujian dan menyembuhkan orang sakit hanya dalam sekejap, sebagaimana Allah mengembalikan kekuatan dan kesehatan kepada Ayyub.
Kodrat Allah memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya dengan cara yang tidak umum. Ayyub mendapatkan harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak yang dibawa oleh dua awan dan belalang emas yang jatuh kepadanya.
Allah memberi kemudahan dan jalan keluar bagi Ayyub dalam nadzarnya. DIa bisa memenuhi nadzarnya tanpa merugikan istrinya. Ibnul Qayyim menyatakan bahwa dalam syariat mereka tidak ada kaffarat(denda). Jika dalam syariat mereka terdapat kaffarat, niscaya Ayyub akan melakukannya tanpa memukul istrinya. Sumpah bagi mereka adalah sesuatu yang wajib, seperti hukuman had. Dan yang pasti adalah bahwa jika pelaku kesalahan yang mengakibatkan hukuman mempunyai alasan, maka hukumannya diringankan darinya dan istri Ayyub memiliki alasan. Dia tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah syetan. Dia hanya bermaksud untuk berbuat baik, maka dia tidak berhak untuk dihukum. Allah memberikan fatwa kepada Ayyub agar memperlakukannya sebagai orang yang berudzur, ditambah kasih saying dan kebaikannya kepada Ayyub. Maka Allah mengumpulkan untuknya antara memenuhi sumpah dan berlamah-lembut kepada istrinya yang baik yang mempunyai alasan dan tidak berhak untuk dihukum. (Ighatsatul Lahfan min Maqashidisy Syaithan, 2/97).
Hadis ini membebaskan Ayyub dari kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan oleh orang-orang Yahudi kepada Ayyub. Hadis ini meluruskan dan mengoreksi sejarah Ayyub yang mereka ubah dan selewengkan.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 189-199.
Terakhir kali diperbaharui.

Iklan

Report this ad

Report this ad

 

2 responses to “Kisah Nabi Ayyub Imam Orang-orang Sabar

imah

2 Juli 2012 at 11:22 am

Subhanallah

Balas

 

salwintt

6 Juli 2012 at 11:42 pm

semoga bisa jadi teladan

Balas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nama * 

Surel * 

Situs Web 

 Beri tahu saya komentar baru melalui email.

Salwinsah

Cari

Almanak

Agustus 2018SSRKJSM« Jun   12345678910111213141516171819202122232425262728293031 

Stat

2,263,898 hits

Top

Perceraian, Halal Tapi Sangat Dibenci AllahApakah Ilmu Hakekat Itu?Sejarah Turunya al-Qur'anPeranan Orangtua, Sekolah dan Guru dalam Mensukseskan PendidikanDakwah Nabi Muhammad SAW di MadinahFilsafat HidupKerajaan Turki UsmaniBagaimana Allah mencintai Hamba-NyaBerprilaku Terpuji (Adil, Ridho dan Amal Shaleh)Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan)

Terkini

Tips Maaf dan Memaafkan (Khutbah Jum’at Bersamaan Idul Fitri 1439 H)Ibadah Pasca Ramadhan (Khutbah Idul Fitri 1439 H)Pengumuman Kelulusan PPDB SMAN Titian Teras Jambi TP 2018/2019Sebuah Ekpedisi Ke Jangkat MeranginPengumuman Hasil Seleksi Administrasi PPDB SMAN Titian Teras 2018

Blogroll

dapodik kemendikbuddisdik kab. muaro jambidisdik provinsi jambigebyar tik jambi 2015kemenag provinsi jambikemendikbud rilog in blogpadamu negeripembelajaran islamprovinsi jambirumah belajarsbmptnsman titian teras has jambisnmptn

Comments

mahamuddin di Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan)salwintt di Menghargai Karya Orang LainAnton Yusufi di Menghargai Karya Orang LainPastikan Anda Sudah Terdaftar Pada PPDB SMAN Titian Teras Jambi | Jendela Hati di SMA Negeri Titian Teras Jambi Penerimaan Peserta Didik Baru TP 2018/2019MichaelNob di Aliran MaturidiyyahDesy syah fitriani di Menikah tanpa Ridha Orang Tuaafifah di Menikah tanpa Ridha Orang Tuaindri di Pengertian FilsafatRara di Menikah tanpa Ridha Orang TuaDhiya Hanis di About Me

Motivasi

Kesederhanaan tidak pernah menghalangi untuk seseorang berkreativitas dalam segi apapun. Setiap ada kemauan pasti akan terpampang jalan yang lurus dan luas, sebagai mana terlihat jelas di mata kita, tinggal kemauan pribadi untuk memikirkan, merenungkan lalu mengolahnya. Siapa yang gesit, giat, aktif dan tekun maka ia akan mampu berada di paling depan.
Jika tidak, akan menjadi sebaliknya, selalu terpuruk, di belakang dan tertinggal. Manusia rambut sama hitamnya, hati berbeda-beda. Optimalkan untuk menjadi hati yang bening, jernih, putih dan suci, itulah yang menjadikan diri seseorang akan tampil beda di antara orang-orang yang berambut hitam lainnya. Biar rambut sehitam arang, tapi hati tetap sebening salju. SEMOGA!

Iklan

Report this ad

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. Tema: Choco oleh .css{mayo}.

Entri (RSS) dan Komentar (RSS)

Privasi & Cookie: Situs ini menggunakan cookie. Dengan melanjutkan menggunakan situs web ini, Anda setuju dengan penggunaan mereka. 
Untuk mengetahui lebih lanjut, termasuk cara mengontrol cookie, lihat di sini: Kebijakan Cookie

Ikuti