Jumat, 09 Agustus 2019

Kurban Sapi Syirkah Masjid Nurul Abror 1440H

*Update Kurban Sapi Syirkah:*

*Kurban Sapi Syirkah 1*

1. *Ibu Hj. Retno RT 01*
2. *Ibu Yanuar RT 01*
3. *Kel Drs Bambang Sekti MM*
4. *kel. H. Amir Effendi, S.Ag an. Rusd Farabi, S.Kom.* 

5. *kel H.Sulistiono, S.Pd*
6. *Dra. Hj. Asih Susita, MM* (Kel H. Slamet, S.Pd. MM)
7. *Kel Bpk Abdul Jamil* Jl Pala Raya

*Kurban Sapi Syirkah 2*

1. *dr.Ganang Azhar* ( kel Bp Dwi  Setiawan, S.Pd. MM )
2. *Ibu Dra. Dian Marsiti, MM.* (kel Bpk Drs. Bambang Setyawan, MM)
3. *Danuroh* (kel Agus Sutiono bin Sugiman RT06)
4. *Kel. Ibu Istiqomah*
5. *Anggito bin wendy wirawan* ( kel Bpk Wendy Wirawan )
6. *Sukarti binti Daiman Citro Diharjo* (Kel Bp. H.Agus Sofi)
7. *Kel. Bpk H. Simiyadi* RT 01

*Kurban Sapi Syirkah 3*

1. *Hj. Sumiarti S.Pd*,   RT 02.
2. *Bpk Budi Mulyono* rt 2
3 *Ibu Budi Wurtiningsih binti Kasmui* (kel. Bp Slamet riyadi. RT07)
4. *Kel. Dylis Harsono bin H. Sismiyadi*, (Jln. Semanggi Raya no.57,  Rt.01/Rw. 05)
5. *Mas Kasan bin kosim*
6. *Kel Bpk. Kusnanto*
7. *Kel. Ir. Eko Setiawan, M.Hum*

*Kurban Sapi Syirkah 4*

l. Bp Iman Syaefudin* Pala Raya
2. *Kel Bp Suparno* RT06 RW05
3. *Kel Bp Syamsul Rizal* segarawana
4. *Kel. Bp Zaenal Asyiqin* jl Bung Tomo
5. *Sdri Numairi* RW 17
6. Mas Elang RT06
7. H. Suryono jl Pala Raya RW 05

kurban kambing
1. kel R. Herwanto 2 ekor
2. NN 2 ekor

KHUTBAH JUMAT SINGKAT TENTANG QURBAN DAN HAJI: MENYAMBUT IDUL ADHA


KHUTBAH PERTAMA – KHUTBAH JUMAT SINGKAT TENTANG QURBAN DAN HAJI: MENYAMBUT IDUL ADHA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Ummatal Islam,

Kita berada di hari yang sangat mulia. Ia adalah merupakan 10 awal dari bulan Dzulhijjah. Dan sebentar lagi kita akan mengadakan sebuah ibadah yang agung yaitu ibadah Idul Adha disertai dengan penyembelihan qurban. Ia adalah merupakan ibadah yang sangat agung dan besar. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya (Ismail). Ketika Ismail telah memberikan dan menyerahkan dirinya untuk disembelih oleh ayahnya (Ibrahim) sebagai simbol penyerahan diri dan ketundukan yang sempurna kepada Rabbul Izzati wal Jalalah. Ini merupakan sebuah bentuk bagaimana seorang hamba sesungguhnya terhadap Rabbul ‘Alamin.

Ummatal Islam,

Ketika Nabi Ismail berkata kepada ayahnya:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan mendapati aku insyaAllah termasuk orang-orang yang bersabar.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)

Subhanallah.. Ikhwatal Islam..

Akibat kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan anaknya, maka Allah gantikan dengan seekor kambing lalu Allah menyebutkan:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾

Dan Kami gantikan dengan sembelihan yang agung.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 107)

Itu menunjukkan bahwasanya sembelihan di Idul Adha adalah merupakan sembelihan yang agung, sembelihan yang besar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini memberikan kepada kita simbol bahwasanya seorang hamba hendaklah mengorbankan dirinya terhadap Rabbul ‘Alamin, Rabb yang telah menciptakan dirinya, yang telah memberikan kepada dia berbagai macam kenikmatan-kenikmatan yang sangat banyak kepadanya. Itulah iman, itulah ketaatan dan ketundukan.

Ketika seorang hamba menyembelih kambingnya tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa itu adalah sembelihan yang agung dan besar. Ia adalah ibadah. Sebagaimana Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Tidak ada sekutu bagi Dia.” (QS. Al-An’am[6]: 163)

Penyembelihan ini merupakan simbol tauhid (pengesahan hanya kepada Allah). Bahwasanya ibadah hanya milik Allah Rabbul ‘Izzah. Bahwasanya ibadah murni untuk Allah semata.

Oleh karena itu, saudaraku..

Hendaklah seorang berusaha semampu mungkin untuk melaksanakan ibadah yang besar dan agung ini. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ وَجَدَ مِنْكُمْ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Siapa yang mendapatkan kelebihan harta tapi dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati mushola kami.”

Ancaman dari Rasulullah bagi orang yang diberikan kemampuan untuk berqurban, tapi dia tidak melaksanakan ibadah yang agung ini.

Bagaimana tidak, saudaraku? Ini adalah sebuah ibadah yang besar sekali di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaan. Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّـهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah qurban. Akan tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan diantara kalian” (QS. Al-Hajj[23]: 37)

Na’am.. Ketakwaan, keikhlasan, ketundukan, kesabaran dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah Rabbul ‘Alamin.

Sesungguhnya dalam kejadian ini terdapat pelajaran buat orang yang mau berpikir. Sesungguhnya dalam penyembelihan hewan qurban ini terdapat pelajaran yang sangat agung yang bisa kita petik darinya. Ia adalah merupakan pentauhidan Allah yang merupakan inti dakwah seluruh Nabi dan Rasul.

menyembelih termasuk ibadah. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Semoga Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Ummatal Islam,

Ia adalah merupakan simbol ketundukan kepada Allah yang ditunjukkan oleh sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihish Shalatu was Salam kepada perintah-perintah Allah. Sungguh ketundukan yang luar biasa. Ketika seorang hamba siap dirinya berkorban bahkan sampai mengorbankan nyawanya sekalipun dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh ketundukan yang luar biasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia adalah merupakan simbol ittiba’. Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu seorang mukmin berusaha untuk mencari sesuatu amalan dari qurban ini yang paling sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang yang hatinya masih sehat, orang yang hatinya masih selamat, dia akan lebih memperhatikan lurusnya amal ibadah daripada ibadah itu sendiri. Hal sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan.

Ummatal Islam,

Ia adalah merupakan simbol kesabaran. Ketika seorang hamba berusaha sabar untuk mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal itu menunjukkan keimanan kepada Allah. Karena memang mentaati Allah butuh kesabaran, saudaraku. Sebagaimana menjauhi kemaksiatan Allah pun butuh kesabaran, saudaraku.

Bayangkan apabila kita tidak diberikan kesabaran. Barangkali kita tidak akan mampu mentaati Allah. Karena syahwat begitu besarnya, hawa nafsu begitu kuatnya, sementara iblis dan bala tentaranya tak pernah diam menggoda dan menyesatkan manusia. Oleh karena itu Ali bin Abi Thalib berkata bahwa  sesungguhnya kesabaran bagi iman bagaikan kepala bagi tubuh. Mungkinkah tubuh akan hidup tanpa kepala? Demikian pula iman tidak akan pernah hidup tanpa kesabaran.

Ikhwatal Islam A’azzaniyallahu waiyyakum..

Sungguh ibadah yang agung ini memberikan kepada kita banyak sekali hikmah-hikmah. Maka dari itulah seorang muslim berusaha bukan hanya berqurban dan menyembelih. Akan tetapi ia mengambil dan memetik hikmah-hikmah yang agung dibalik daripada ibadah itu sendiri.

أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

KHUTBAH KEDUA – KHUTBAH JUMAT SINGKAT TENTANG QURBAN DAN HAJI: MENYAMBUT IDUL ADHA

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,

Sementara di negeri sana, di negeri Rasulullah diutus, di Masy’aril Haram, di Mina, di Arafah, di Muzdalifah, saudara-saudara kita melaksanakan ibadah yang begitu agung. Ibadah itu adalah haji, ibadah yang sangat-sangat banyak sekali hikmah yang bisa dipetik darinya. Ketika seseorang yang pergi haji melepaskan seluruh pakaian-pakaiannya dan digantikan dengan kain ihram yang putih mengingatkan akan pertemuan dengan Allah ketika ia dibungkus dengan kain kafannya lalu ia dikuburkan. Dia tidak berbekal kecuali amalan dia dan kain kafan yang menempel pada tubuhnya.

Disaat kaum muslimin berkumpul di Mina di Arafah, tidak lagi ada di bedakan kedudukan ataupun hasta, tidak dibedakan apakah dia kaya raya, apakah dia seorang pejabat atau pemimpin? Semua sama dihadapan Allah karena memang tidak ada yang kebal hukum dihadapan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah. Semuanya sama!

Kewajiban seorang hamba untuk melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah Islam!

Kemudian mereka bertalbiyah yang merupakan kalimat yang agung. Mereka berucapan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak (Ya Allah, aku menyahut panggilanmu Ya Allah. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagiMu. Tidak ada sekutu bagi Engkau ya Allah)”

Subhanallah..

Sebuah kalimat yang agung, yang menunjukkan pengesaan dan bahwasannya tidak ada sekutu bagi Allah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu pengakuan bahwasanya kenikmatan semua milik Allah. Karunia semua milik Allah. Itulah hakikat sebagai seorang hamba. Dia mengakui bahwa semua yang ia miliki bahkan tubuhnya, semua hartanya, anaknya, istrinya, semuanya milik Allah, karunia dari Allah. Dia mengakui semua itu milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ummatal Islam, sungguh banyak hikmah-hikmah lain yang mungkin bisa kita petik. Namun tentunya semua ini butuh kepada kebeningan jiwa untuk senantiasa mengambil dan mempraktekkan apa hikmah-hikmah yang bisa kita petik dari ibadah itu sendiri.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَاإِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

https://www.radiorodja.com/47479-khutbah-jumat-singkat-tentang-qurban-dan-haji-menyambut-idul-adha/

Derajat Hadits Puasa Hari Tarwiyah

Derajat Hadits Puasa Hari Tarwiyah

DERAJAT HADITS PUASA HARI TARWIYAH

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Sudah terlalu sering saya ditanya tentang puasa pada hari tarwiyah (tanggal delapan Dzulhijjah) yang biasa diamalkan oleh umumnya kaum muslimin. Mereka berpuasa selama dua hari yaitu pada tanggal delapan dan sembilan Dzulhijjah (hari Arafah). Dan selalu pertanyaan itu saya jawab : Saya tidak tahu! Karena memang saya belum mendapatkan haditsnya yang mereka jadikan sandaran untuk berpuasa pada hari tarwiyah tersebut.

Alhamdulillah, pada hari ini (3 Agustus 1987) saya telah menemukan haditsnya yang lafadznya sebagai berikut.

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

“Artinya : Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248) dari jalan :

1. Abu Syaikh dari :
2. Ali bin Ali Al-Himyari dari :
3. Kalbiy dari :
4. Abi Shaalih dari :
5. Ibnu Abbas marfu’ (yaitu sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Saya berkata : Hadits ini derajatnya maudlu’.

Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama.
Kalbiy (no. 3) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalbiy. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalbiy meriwayatkan dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu Abbas).

Imam Hakim berkata : “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang maudlu’ (palsu)” Tentang Kalbiy ini dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh Wat Ta’dil.

1. At-Taqrib 2/163 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar
2. Adl-Dlu’afaa 2/253, 254, 255, 256 oleh Imam Ibnu Hibban
3. Adl-Dlu’afaa wal Matruukin no. 467 oleh Imam Daruquthni
4. Al-Jarh Wat Ta’dil 7/721 oleh Imam Ibnu Abi Hatim
]. Tahdzibut Tahdzib 9/5178 oleh Al-Hafizd Ibnu Hajar

Kedua : Ali bin Ali Al-Himyari (no. 2) adalah seorang rawi yang majhul (tidak dikenal).

Kesimpulan
1. Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) adalah hukumnya bid’ah. Karena hadits yang mereka jadikan sandaran adalah hadits palsu/maudlu’ yang sama sekali tidak boleh dibuat sebagai dalil. Jangankan dijadikan dalil, bahkan membawakan hadits maudlu’ bukan dengan maksud menerangkan kepalsuannya kepada umat, adalah hukumnya haram dengan kesepakatan para ulama.

2. Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) adalah hukumnya sunat sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah ini.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ اَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ اَحتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ

“Artinya : … Dan puasa pada hari Arafah –aku mengharap dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu”.

[Shahih riwayat Imam Muslim (3/168), Abu Dawud (no. 2425), Ahmad (5/297, 308, 311), Baihaqi (4/286) dan lain-lain]

Kata ulama : Dosa-dosa yang dihapuskan di sini adalah dosa-dosa yang kecil. Wallahu a’lam!

[Disalin dari buku Al-Masaa’il (Masalah-Masalah Agama) Jilid 2, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qalam – Jakarta, Cetakan I, Th. 1423H/2002M]

 Dalil Bunuh TikusMasa Iddah Talak Satu Berapa LamaMaksud Dari Orang T