Jumat, 21 November 2014

Sebuah renungan sebelum membangun Masjid Kita


Sebuah renungan sebelum mebangun Masjid Kita
Kalau kita mau bertafakur dan merenung akan kekuasaan Allah SWT yang Maha Besar, Maka bagi Allah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Innama amruhui idza arada syaiaan nayakulahu kun fayakun. Dari tidak ada menjadi ada, dari  mati menjadi hidup kemudian mati kemudian dihidupkan kembali, Termasuk masjid ini , dulu tidak ada sertifikat sekarang Al Hamdulillah sudah ada serifikat, dulu orang menganggap tidak mungkin dibangun dengan biaya 1,2 M? Nyatanya Alhamdulillah perluasan yang ke arah Barat seluas 150m2 telah Allah kabulkan.
Dulu jamaah taraweh tidak tertampung diluar masjid, Al hamdulillah sekarang telah tertampung  hampir 2 kali ramadhan ini bisa salat jamaah di dalam masjid semua. Itulah kekuasaan Allah dan Rahmat yang diturunkan kepada kita. Semoga kita menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur atas nikmatnya. Amien
Dalam contoh nyata kekuasaan Allah SWT “masjid bisa dibangun oleh biaya seorang diri  seperti wakaf Masjid Zaenudin di Pantura”  atau “masjid lain di daerah Muarareja hanya dibangun oelh 10 orang saja bisa itupun bisa terjadi” ada juga ”Masjid di Jl Poso juga dibangun murni dari sumbangan warga setempat tanpa meminta sumbangan dari luar lingkungan warga, itu semua kekuasaan Allah”.
Hal itu bisa terjadi atas kehendak Allah SWT sebagai ibrah, pelajaran, akan kekuasaan Allah SWT. Jamaah bisa berharap seperti itu, cuma jangan bertanya siapa orangnya? Lebih bertanyalah kepada diri kita masing masing, apakah kita sendiri sebagai orangnya? Apakah Allah menurunkan orang lain? Terus kapankah Allah akan segera menentukan waktunya? Sebenarnya kalau Allah berkehendak “kun fayakun” semua bisa terjadi, karena hanya Allah SWT yang menggerakan hati manusia?
Kalau itu benar benar terjadi di masjid kita ini Fa Insya Allah jamaah tanpa susah meminta sumbangan, membuat proposal, tanpa merepotkan jamaah, tidak perlu pusing memikirkan kapan selesainya? Tidak perlu nyediakan makanan dan minuman untuk tukang ? Kita bisa berpikir kemungkinannya berapa persen terjadi? Masing-masing punya jawaban yang berbeda sesuai kondisi masing masing. Ada yang menjawab :
1.     sangat mungkin sekali,
2.     mungkin sekali,
3.     Mungkin,
4.     kurang memungkinkan,
5.     Tidak Mungkin,
6.     sangat tidak mungkin.
Kalau dalam kehidupan sekarang ada seorang bisa bangun rumah seharga 250-600 Jt , mungkin tidak? (jawabnya mungkin) Contoh di RW kita RW5 rumah di Pala Raya bisa laku terjual seharga 600 Jt. Sekarang masjid dibangun oleh kita, dibangun orang banyak, senilai 750 jt, mungkin tidak? Jawabnya insya Allah sangat mungkin sekali, Apalagi begitu banyak fadhilah dalam membangun masjid, karena masjid adalah Rumah Allah siapa yang membangun akan dibangunkan sebuah istana di surga.
Kita ingin hidup layak di dunia maka kita akan berusaha sekuat tenaga memiliki rumah, dengan cara mengontrak, membangun, atau membeli, baik dengan fasilitas KPR maupun kontan atau cash, semua dicoba dilakukan untuk mencapai tujuan hidupnya yang layak.
Ketika kita ingin mencapai bahagia di akhirat, maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala LaranganNya, dengan menegakkan salat 5 waktu dijaga dengan baik, termasuk bekal jariyah membangun masjid. Masing masing kita bisa mengukur untuk dunia kita,
1.     Sekarang kita bisa membangun investasi rumah senilai 200 juta, sedang investasi untuk akhirat hanya 5000 rupiah setiap jumatan? Maka Rp5000 jika dalam sebulan ada 5 jumatan , maka Rp5000x5 kita hanya berinfaq Rp25.000. Jika dalam satu tahun ada12bulan, maka Rp25000x12 kita berinfaq Rp 300.000 setahun.  Padahal infaq 300.000/200jtx100%=0,15%, infaq kita hanya 0.15% dari kewajiban minimal. Mestinya investasi akhirat kita minimal 2,5% dari 200 juta adalah 5juta
2.     Kita beli rumah dengan fasilitas KPR dulu seharga 7juta, sedang harga rumah sekarang 150 juta, Apakah kita sudah pantas dihadapan Allah hanya nyumbang 5000 setiap jumatan?
3.     Apalagi kita punya rumah 2 atau 3 apa pantas juga investasi akhirat hanya Rp5000?
4.     Ada jamaah yang protes saya beli rumah kan utang ustadz? mobil juga utang, motor juga utang gimana? Terus bayarane kan habis buat makan dan setoran?
5.     Kita berarti tidak bisa membagi amanah dari Allah berupa harta, disibukkan dengan setoran utang. Mestinya kita berhati-hati dalam syariat ini, misalkan kita dinilai bank mampu banyar cicilan 3jt perbulan ya mestinya sebelum mengiyakan dan tanda tangan bank, secara akhirat mestinya siap minimal 2,5% dari setoran setiap bulan diwakafkan ke masjid untuk pembangunan masjid, atau fakir miskin, dan atau mustahik yang berhak disekeliling kita sehingga hartanya berkah, dan selamat di akhirat
6.     Kalau Wakaf Fisabilillah Para sahabat mencontohkan Abu Bakar seluruh hartanya , umar ibnu khotob Ra separuh hartanya, ustman bin affan, abdurahman bi auf,dll nyumbang
7.     Hati kita diuji katanya cinta Allah nyatanya masih Cinta Harta?
8.     Cinta Allah nyatanya masih Cinta dunia ?
9.     Cinta Rasulullah nyatanya masih abot wakaf
Orang ingin surga tapi tidak ada amal untuk akhirat,
Orang ingin bahagia akhirat tapi yang diperbanyak hanya harta dunia,
Ingin bahagia di akhirat tapi yang dikejar fasilitas kemewahan,
hanya memperbanyak investasi tanah,
investasi properti,
investasi deposito,
investasi emas,
tapi investasi untuk akhiratnya ga imbang
Apakah cinta kita kepada Allah untuk membangun  masjid  infaq Rp5000 tiap jumatan sudah seimbang?
Sahabat Umar Ibnu Khotab berpesan Hasibu qobla an tuhasabu, hitunglah sebelum kita dihitung Allah di akhirat
1.            حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab,
2.            وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا timbanglah diri kalian sebelum (amal) kalian ditimbang,
3.            ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ karena lebih ringan bagi kalian tatkala kalian dihisab kelak, jika kalian menghisab diri kalian sekarang.”
4.            Utsman bin Affan membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham yang kira-kira sama dengan dua setengah kg emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.
5.            Utsman bin Affan Memperluas Masjid Madinah dan membeli tanah disekitarnya.
6.            Utsman bin Affan mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi tersebut.
7.            Pada masa pemerintahan Abu Bakar,Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.