Kamis, 08 November 2018

pola makan Rasulullah saw

Kamis, 27 Safar 1440 H / 8 November 2018

inilah Pola Makan Rasulullah SAW

Eramuslim – “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21).

Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memang sudah dirancang oleh Allah subhaanahu wa ta’ala sebagai contoh teladan yang baik (uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam hal pola makan yang bermuara pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kesehatan merupakan aset kekayaan yang tak ternilai harganya. Ketika nikmat kesehatan dicabut oleh Allah subhaanahu wa ta’ala, maka manusia rela mencari pengobatan dengan biaya yang mahal bahkan ke tempat yang jauh sekalipun. Sayangnya, hanya sedikit orang yang penduli dan memelihara nikmat kesehatan yang Allah subhaanahu wa ta’ala telah anugerahkan sebelum dicabut kembali oleh-Nya.

Karena Allah telah menegaskan kepada kita bahwa Beliau (Rasulullah) adalah teladan, inilah teladan yg bisa kita ikut bagaimana pola makan Rasulullah Sallallahu A’laihi Wasallam agar Sehat dan berberkah dan mendapatkan amal.

Asupan awal kedalam tubuh Rasulullah adalah udara segar pada waktu subuh. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Para pakar kesehatan menyatakan, udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Dua nikmat yang sering kali manusia tertipu oleh keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412).

Dalam hadist lain disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda,

“Nikmat yang pertama kali ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak adalah ketika dikatakan kepadanya, “Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu serta memberimu minum dengan air yang menyegarkan?”

(HR. Tirmidzi: 3358. dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani).

Menurut Indra Kusumah SKL, S.Psi dalam bukunya “Panduan Diet ala Rasulullah”, kesehatan sering dilupakan, padahal ia seakan-akan bisa diumpamakan sebagai mahkota indah di atas kepala orang-orang sehat yang tidak bisa dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit.

Sepintas masalah makan ini tampak sederhana, namun ternyata dengan pola makan yang dicontohkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat dan bugar.

Ketika Kaisar romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah, ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit. Dokter tersebut bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit.

Seumur hidupnya, Rasulullah hanya pernah mengalami sakit dua kali sakit. Pertama, ketika diracun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di Madinah. Kedua, ketika menjelang wafatnya.

Pola makan seringkali dikaitkan dengan pengobatan karena makanan merupakan penentu proses metabolisme pada tubuh kita. Pakar kesehatan selama ini mengenal dua bentuk pengobatan yaitu pengobatan sebelum terjangkit penyakit atau preventif (ath thib Al wiqo’i) dan pengobatan setelah terjangkit penyakit (at thib al’ilaji).

Dengan mencontoh pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza).

Hal itu jauh lebih baik dan murah daripada harus berhubungan dengan obat-obat kimia senyawa sintetik yang hakikatnya adalah racun, berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melalui makanan dengan senyawa kimia organik.

Beberapa gambaran pola hidup sehat Rasulullah berdasarkan berbagai riwayat yang bisa dipercaya, sebagai berikut:

1. Di pagi hari, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Organ tubuh tersebut merupakan organ yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.

2. Di pagi hari pula Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luar biasa. Dalam Al Qur’an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya, bisa menjadi obat berbagai penyakit. Ditinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan.

“Sesungguhnya Rasulullah saw minum air zamzam sambil berdiri. “(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, dari Husyaim, dari `Ashim al Ahwal dan sebagainya,dari Sya’bi, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah saw menarik nafas tiga kali pada bejana bila Beliau minum. Beliau bersabda : “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin Hammad,keduanya menerima dari `Abdul Warits bin Sa’id, dari Abi `Ashim, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

“Minuman yang paling disukai Rasulullah saw adalah minuman manis yang dingin.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi `Umar, dari Sufyan, dari Ma’mar, dari Zuhairi, dari `Urwah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

3. Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa mengonsumsi tujuh butih kurma ajwa’ (matang). Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”.

Hal itu terbuki ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang khaibar. Racun yang tertelan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kemudian dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Salah seorang sahabat, Bisyir ibu al Barra’ yang ikut makan tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selamat dari racun tersebut.

4. Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Selain itu, Rasulullah juga mengonsumi makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan. Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.

“Keluarga Nabi saw tidak pernah makan roti sya’ir sampai kenyang dua hari berturut-turut hingga Rasulullah saw wafat.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dan diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Basyar, keduanya menerima dari Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari al Aswad bin Yazid, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

Sya’ir,khintah dan bur, semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “gandum” sedangkan sya’ir merupakan gandum yang paling rendah mutunya. Kadang kala ia dijadikan makanan ternak, namun dapat pula dihaluskan untuk makanan manusia. Roti yang terbuat dari sya’ir kurang baik mutunya sya’ir lebih dekat kepada jelai daripada gandum.

Abdurrahman bin Yazid dan al Aswad bin Yazid bersaudara, keduanya rawi yang tsiqat.”Rasulullah saw. tidak pernah makan di atas meja dan tidak pernah makan roti gandum yang halus, hingga wafatnya.”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari’Abdullah bin `Amr –Abu Ma’mar-,dari `Abdul Warits, dari Sa’id bin Abi `Arubah, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas r.a.)

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Saus yang paling enak adalah cuka.”
Abdullah bin `Abdurrahman berkata : “Saus yang paling enak adalah cuka.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Shal bin `Askar dan `Abdullah bin`Abdurrahman,keduanya menerima dari Yahya bin Hasan,dari Sulaiman bin Hilal, Hisyam bin Urwah, dari bapaknya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

“Rasulullah saw bersabda : “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)

5. Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur-sayuran. Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam selalu mengonsumsi sana al makki dan sanut. Menurut Prof. Dr. Musthofa, di Mesir deudanya mirip dengan sabbath dan ba’dunis. Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang di luar Arab, tapi dia menjelaskan, intinya adalah sayur-sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindungi dari serangan penyakit.

6. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah dicerna. Caranya juga bisa dengan shalat.

7. Disamping menu wajib di atas, ada beberapa makanan yang disukai Rasulullah tetapi tidak rutin mengonsumsinya. Diantaranya, tsarid yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. Kemudian, beliau juga senang makan buah anggur dan hilbah (susu).

“Nabi saw memakan qitsa dengan kurma (yang baru masak).”(Diriwayatkan oleh Isma’il bin Musa al Farazi, dari Ibrahim bin Sa’id, dari ayahnya yang bersumber dari `Abdullah bin Ja’far r.a.)

Qitsa adalah sejenis buah-buahan yang mirip mentimun tetapi ukurannya lebih besar (Hirbis) “Sesungguhnya Nabi saw memakan semangka dengan kurma (yang baru masak)”(Diriwayatkan oleh Ubadah bin `Abdullah al Khaza’i al Bashri, dari Mu’awiyah bin Hisyam,dari Sufyan, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)

8. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering menyempatkan diri untuk berolahraga. Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Pernah pula Rasulullah lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah radiyallahu’anha.

9. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak menganjurkan umatnya untuk begadang. Hal itu yang melatari, beliau tidak menyukai berbincang-bincang dan makan sesudah waktu isya. Biasanya beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh karena tidur termasuk hak tubuh.

10. Pola makan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ternyata sangat cocok dengan irama biologi berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis).

Fakta-fakta di atas menunjukkan pola makan Rasulullah ternyata sangat cocok dengan irama biologi berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis). Inilah yang disebut dengan siklus alami tubuh yang menjadi dasar penerapan Food Combining (FC).

Selain itu, ada beberapa makanan yang dianjurkan untuk tidak dikombinasikan untuk dimakan secara bersama-sama. Makanan-makanan tersebut antara lain:

Jangan minum susu bersama makan daging.
Jangan makan ayam bersama minum susu.
Jangan makan ikan bersama telur.
Jangan makan ikan bersama daun salad.
Jangan minum susu bersama cuka.
Jangan makan buah bersama minum susu
Demikianlah Pola makan Rasulullah, semoga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalam —(dp/dais)/kh)

Copyright © 2018 All rights reserved.
Eramuslim.com - Media Islam Rujukan


Rabu, 07 November 2018

BERKAT RAHMAT ALLOH BATU GINJAL HANCUR DENGAN AIR KELAPA

HANCURKAN BATU GINJAL DENGAN AIR KELAPA

Tuhan Maha Adil.

Orang kaya mengatasi batu ginjal  sampai harus ke Amerika. Ini pengalaman Pak Dahlan Iskan yang ditulis hari ini dalam Disway.id.

Orang miskin, cukup dengan minum kelapa hijau. Tokcer. Segar, lezat, dan ampuh.

Batu ginjal luruh berkeping-keping seperti gamping disiram air. Lalu keluar deras bersama air kencing.

Ini pengalaman saya dan entah berapa banyak yang sudah membuktikan.

Sebetulnya sebagian tulisan ini adalah komentar saya atas tulisan Pak Dahlan yang dishare hari ini. Gara-gara ini ada beberapa teman yang inbox minta resepnya.

Baiklah. Sebelumnya ijinkan saya berkisah dulu.

Pada tahun 2001, sore maghrib itu, saya mengalami sakit yang luar biasa saat buang air kecil. Mampet. Panas dingin menahan sakitnya. Air kencing sampai berdarah.

Ternyata itu yang disebut batu ginjal.

Sebelumnya saya hanya melihat kakak saya sampai menangis menderita hal yang sama. Setelah mencoba berbagai obat dan tidak mempan, kakak saya itu akhirnya mendapat resep jitu. Resep para leluhur.

Dengan resep tersebut, saya sembuh. Tidak pakai lama. Minum abis maghrib, di pagi subuh saat buar air kecil mak byooor. Amazing tenan.

Beberapa tahun berikutnya, saat mudik lebaran, ada kerabat yang bercerita kalau mau operasi batu ginjal. Rasa sakit dia rasakan makin sakit saja. Itu karena ditambah dengan memikirkan biaya operasinya.

Saya katakan: "Tenang. Nggak usah cemas". Lalu saya berikan resep ampuh pemunah batu kristal itu.

Lebaran tahun berikutnya, ia bercerita dengan penuh suka cita. Resep yang saya berikan itu telah membebaskan dia dari meja operasi. Kisah itu pun viral di desa sana.

Begitulah. Setiap ada yang menderita batu ginjal, saya berikan resep ini. Entah sudah berapa banyak orang. Dan sejauh ini belum ada yang gagal.

Nah. Ini dia resep mujarab penghancur batu ginjal itu.

Silahkan petik, manjat pohonnya, atau beli kelapa hijau di pasar. Biar tidak repot mintalah penjual sekalian memangkas bagian atasnya agar nanti mudah membuat lubang.

Oh iya. Anda harus paham. Yang namanya kelapa hijau asli, sabutnya justru berwarna merah seperti di foto ini.

Caranya, masaklah air di panci hingga mendidih. Setelah mendidih matikan kompor. Kemudian masukkan kelapa hijau itu utuh ke dalam panci berisi air mendidih itu. Lalu tutup. Diamkan selama 10 menit.

Selama 10 menit itu, silahkan dibolak-balik posisinya agar merata. Setelah itu, angkat kelapa hijau dari panci. Segera lubangi ujung atas kelapa itu dan tuangkan airnya ke dalam gelas.

Sekarang minum airnya. Rasanya sungguh lezat dan segar. Setelah itu, silahkan tidur.

Saat terbangun di pagi subuh, Anda akan terasa ingin buang air. Kini warna air kencing itu bukan coklat atau kuning lagi.

Tetapi berwarna serperti air susu. Itu adalah batu ginjal yang sudah hancur.

Lakukan hal itu maksimal tiga kali saja. Pengalaman saya, dengan dua kali minum, batu itu sudah hilang.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155704160161864&id=593706863

Jumat, 26 Oktober 2018

Keutamaan Surat Al Kahfi

surat Al Kahfi atau Ashabul kahfi adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang ada dalam juz 15 dan di awal juz 16. Surat Al Kahfi termasuk dalam golongan surat Makiyyah atau surat yang diturunkan di kota Makkah (baca Ciri-ciri surat Makiyah dan surat Madaniyah). Dalam surat Al Kahfi terdapat 110 ayat dan merupak surat ke 18 dari keseluruhan 114 surat yang terdapat dalam Al qur’anul karim.

Pentingnya membaca surat al kahfi

Surat Al Kahfi adalah salah satu surat dalam Al quran yang memiliki banyak manfaat dan keutamaan jika umat islam mau mengamalkan maupun membaca bahkan jika mau menghafalnya. Rasullulah SWT menganjurkan umatnya untuk membacanya di hari jum’at atau malam jum’at. Amat disayangkan jika dewasa ini umat islam banyak yang meninggalkan Al qur’an dan enggan membacanya.

Hal ini dijelaskan pula oleh seorang ulama. Dr. Muhammad Bakar Isma’il dalam Al-Fiqh al Wadhih min al Kitab wa al Sunnah menjelaskan bhawa membaca surat al kahfi merupakan salah satu amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada malam dan hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. (Al-Fiqhul Wadhih minal Kitab was Sunnah).Sebenarnya membaca surat Al kahfi tidak hanya baik dibaca pada hari jumat saja melainkan setiap hari. Hal ini dikarenakan hari jumat adalah hari baik bagi umat islam di seluruh dunia. Memang dianjurkan bahwa sebaiknya surat Al Kahfi dibaca saat terbenamnya matahari di hari Kamis hingga terbenamnya matahari di hari selanjutnya yakni hari jum’at.

Mengapa membaca surat Al Kahfi di anjurkan pada umat muslim? Dan apa faedah yang kita dapatkan apabila membaca surat Al Kahfi? Simak penjelasan berikut ini mengenai keutamaan surat al kahfi :

1. Menghindarkan diri dari fitnah dajjal

Umat islam yang membaca surat Al-Kahfi pada Hari Jumat akan menghindarkan dari fitnah Dajjal. Nabi Muhammad SAW bahkan bersabda bahwa jika seorang manusia rajin membaca surat AL Kahfi tidak hanya di hari jum’at saja maka dia akan terhindar dari fitnah dajjal yang keji.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” (HR. Abu Bakr bin Mardawaih)

Dajjal sebagaimana yang sering kita dengar ceritnya adalah makhluk yang sangat buruk dan memiliki satu mata di dahinya. Dajjal memiliki kulit berwarna merah dan berbadan besar. Di ceritakan bahwa ia akan muncul di akhir jaman dan muncul dari segitiga bermuda. Di dahinya juga kan terukir tulisan “Kaf Fa Ro” yang artinya “Kafir”. Dajjal adalah salah satu tanda-tanda kiamat. Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa

“Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para Imam meninggalkan untuk mengingatnya di atas mimbar-mimbar.” (HR Ahmad).

Fitnah Dajjal sangatlah kejam serta dapat membawa kita kepada kesesatan dan siksa neraka Jahanam. Hal tersebut diperkuat oleh hadist- hadist berikut ini :

“Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya.” (HR Dailami).

“Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.” (HR Muslim)

“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal.” (HR Muslim)

“Barang siapa diantara kalian yang mendaoatinya (dajjal), hendaklah dia membacakan ayat-ayat pembuka surah Al-Kahfi kepadanya, karena bacaan itu melindungi kalian dari fitnahnya (dajjal tersebut).” (HR. Abu Daud).

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS Al kahfi ayat 102:

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku?…” Qs. Al-Kahfi: 102.

2. Mendapatkan Ridho dari Allah SWT

Umat islam di dunia ini mengharapkan berkah dan rahmat Allah SWT dalam hidupnya. Dengan mendapatkan berkat, ridho dan rahmat Allah maka hidup manusia akan semakin tentram dan damai. Membaca surat Al Kahfi dapat mendekatkan kita pada ridho Allah dan mendapatkan cahaya berkah serta menghilangkan penyebab hati gelisah.
Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa Rasullullah SAW bersabda :

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” (HR Ahmad).

3. Diampuni Dosanya oleh Allah SWT

Setiap manusia pasti memiliki dosa dan khilaf baik yang disadari maupun tidak disadari. Setan akan berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk menjebak dan memperdaya manusia dalam berbuat dosa sehingga manusia bisa menjadi teman mereka di neraka kelak. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang mau bertobat dan salah satunya adalah dengan membaca surat Al Kahfi. Diriwayatkan dalam sebuah hadist bahwa Rasullulah SAW bersabda bahwa

‘Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jum’at.’”.

4. Dijaga dari gangguan setan

Setan adalah musuh terbesar manusia dalam beramal soleh dan berbuat kebaikan. Setan membawa keburukan dalam hidup manusia dan kita sebagai manusia perlu mewaspadainya. Manusia yang jatuh dalam godaan setan akan terjerumus pada lubang kenistaan dan masuk dalam keburukan.Setan juga akan berusaha mengajak kita berbuat mungkat dan membisikkan hal-hal yang dapat menghapus amal ibadah manusia. Setan juga mengajak kita untuk menyekutukan Allah dan hal itu merupakan salah satu dosa yang tak terampuni oleh Allah SWT.

Mendekatkan diri pada Allah dan memohon perlindungannya dari setan. Salah satu usaha mendekatkan diri pada Allah SWT adalah dengan membaca dan mengamalkan Al Qur’an dan membaca surat Al Kahfi termasuk di dalamnya. Sebuah hadist yang oleh Ibnu Mardawaih dari Abdullah bin Mughaffal, bahwa sebuah rumah yang selalu dibacakan surat Al-Khafi dan surat Al-Baqarah maka rumah itu tidak akan dimasuki setan sepanjang malam tersebut.

5. Disinari Cahaya Kebaikan

Umat islam yang membaca surat Al Kahfi baik di hari jum’at atau hari yang lain akan diberikan pahala dan ganjaran serta disinari oleh cahaya kebaikan serta diberkahi dengan syafaat di hari pembalasan sama seperti keutamaan Ar Rahman . Cahaya tersebut akan diberikan Allah SWT di hari kiamat dan cahaya tersebut akan memancar dari kedua telapak kakinya hingga sampai ke langit. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat AL Hadid ayat 12 yang berbunyi

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (Qs. Al-Hadid: 12)

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri Juga menyebutkan bahwa dari Rasullulah SAW bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

Demikian manfaat dan keutamaan yang dapat kita peroleh dari surat Al Kahfi jika kita membaca dan mengamalkannya. Membaca Alqur’an setiap hari meimiliki banyak manfaat (baca Manfaat baca Al’qur’an setiap hari ) begitu pula dengan berzikir ( baca keutamaan zikir kepada Allah ). Ada baiknya apabila sebelum membaca Al Qur’an kita berwudhu dengan menggunakan cara berwudhu yang benar  serta membaca basmalah sebelumnya karena keutamaan membaca basmalah sebelum membaca Al Qur’an amatlah banyak (baca Fadhilah Bismillah). Semoga kita sebagai umat islam bisa mengamalkan dan menjalankan amal tersebut dan menambah bekal yang akan kita bawa ke akhirat kelak.

Categories:Al-quran

Tags: al-quranislamkeutamaansurat al-kahfi

MEMBACA SURAT AS-SAJDAH PADA SHALAT SHUBUH PADA HARI JUM’AT

MEMBACA SURAT AS-SAJDAH PADA SHALAT SHUBUH PADA HARI JUM’AT

Pertanyaan.

Ada beberapa masjid yang setiap shalat Shubuh pada hari Jum’at selalu membaca ha mim sajdah seakan-akan wajib. Apakah begitu dicontohkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Mohon penjelasannya

Jawaban.

Di antara kebiasaan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah  membaca Alif  Lâm Mîm (bukan: ha mim) Sajdah, yaitu surat ke-32, dan surat al-Insan, yaitu surat ke 76, di dalam shalat Shubuh pada hari jum’at, sebagaimana dikisahkan oleh sebagian sahabat. Antara lain sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الجُمُعَةِ فِي صَلاَةِ الفَجْرِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ، وَهَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ»

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at dalam shalat Fajar (Shubuh) biasa membaca Alif  Lâm Mîm Tanzîl as-Sajdah dan Hal ata ‘alal insâni hînum minad dahri”. [HR. Al-Bukhâri, no. 891 dan 1068]

Hadits di atas diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Demikian juga hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbâs.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ، يَوْمَ الْجُمُعَةِ: الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ، وَهَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ سُورَةَ الْجُمُعَةِ، وَالْمُنَافِقِينَ “.

Dari Ibnu Abbâs  Radhiyallahu anhu , “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat Fajar (Shubuh) di hari jum’at biasa membaca: Alîf  Lâm Mîm Tanzîl as-Sajdah dan Hal ata ‘alal insâni hînum minad dahri. Dan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca Dalam shalat Jum’at surat al-Jum’at dan al-Munâfiqûn”. [HR. Muslim, no. 879]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata mengomentari hadits ini, “Dalam hadits ini terdapat dalil disukainya (yang berisi anjuran) membaca dua surat ini dalam shalat (Shubuh) ini pada hari hari Jum’at. Karena bentuk kalimat menunjukkan dan mengisyaratkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya secara rutin atau Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukannya. Bahkan terdapat riwayat dari hadits Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu yang menyatakan secara terang benderang tentang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang rutin melakukannya. Hadits itu diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan lafazh, “Beliau terus-menerus melakukannya”. Riwayat ini asalnya ada dalam Sunan Ibnu Mâjah dengan tanpa tambahan ini. Para perawinya tsiqât (terpercaya), namun Abu Hâtim menyatakan bahwa yang benar haditsnya mursal (riwayat tabi’i langsung kepada Nabi-red)”. [Fathul Bâri, 2/378]

Dengan hadits-hadits di atas dan penjelasanya, kita mengetahui bahwa membaca surat as-Sajdah dan al-Insan dalam shalat Shubuh di hari Jum’at hukumnya mustahab (sunnah), oleh karena itu sebaiknya diamalkan. Namun terkadang perlu ditinggalkan, yaitu dengan membaca surat-surat yang lainnya, supaya orang-orang awam tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang diwajibkan.

Wallâhu A’lam.

l : more https://almanhaj.or.id/5691-membaca-surat-assajdah-pada-shalat-shubuh-pada-hari-jumat.html

ciri mudah mengenali ahli sunnah wal jamaah :

ciri mudah mengenali ahli sunnah wal jamaah :

1. *Konsisten* pada *_kitabulloh_ Al-Quran* dan *_sunnah nabi_ Al-Hadits*
2. *Konsisten Ikut Ijma’*
3. *Tidak  Takfiri*/qs:49:11 (Tidak saling mengkafirkan)
4 *Tidak mencela sahabat nabi* tabiin, tabiit, dan ualiya rasyidin
5. *Tidak Saling Membid'ahkan*
6.  *Menghindari kemusyrikan* (QS. Ar-Rum 30: Ayat 31)  sebagaimana kaum syiah mengugungkan para imamnnya melebihi para wali dan nabi
7. *Menghindari bangga golongan* (QS. 30:  32) dengan menjaga *toleransi antar madhab* yg msh dalam satu furu' dan akidah
............................

1. *Disebut Sebagai Aliran Jama’ah*

Merujuk penelitian Imam Abu al-Muzzhaffar al-Isfirayini (w. 471 H), sejak dulu seluruh orang awam dan tokoh aliran-aliran menyebut *Asya’irah dan Maturidiyah* dengan *nama Ahlussunnah wal Jama’ah*. Nama ini juga *_tidak bisa_* mencakup *_KHAWARIJ dan SYI’AH_* karena mereka tidak memegang konsep jamaah dan *_tidak mencakup MU’TAZILAH_* karena mereka *_menafikan Ijma’_*.

Sementara di sisi lain, banyak *ulama lintas mazhab* yang justru menilai *Wahabi dan ‘Salafi*, sebagai *Neo Khawarij*, karena akidah *takfirinya*. Sekedar sebagi contoh berikut pernyataan para ulama:

*Mazhab Hanbali*

Syaikh Abdullah bin Shafwan al-Qadumi (1241-1330 H), menyatakan bahwa hadits-hadits tentang Khawarij seperti:

اَلْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ. (رواه أحمد. صحيح)

“Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”(HR. Ahmad. Shahih)

Diberlakukan oleh ulama terhadap *mereka yang melawan Khalifah Ali dan kelompoknya*, begitu pula Khawarij masa sekarang (Wahabi), sama dengan Khawarij masa lalu dalam sifat-sifat-nya.

*Mazhab Hanafi*

Ibn ‘Abidin (1238-1307 H/1823-1889 M) menyatakan, *WAHABI* termasuk *KHAWARIJ* karena, meyakini orang "selain mereka* adalah *kafir/musyrik*.

*Mazhab Maliki*

Syaikh Ahmad as-Shawi (1175-1241 H/1761-1825 M), menyatakan *Kaum Khawarij* adalah  mereka yang *_mendistori penafsiran al-Qur’an dan as-Sunnah_*. Karenanya *_mereka halalkan darah dan harta kaum Muslimin_*, mereka adalah satu golongan di tanah *Hijaz* yang bernama *Wahabi*.

*Mazhab Syafi’i*

Al-Habib Alawi bin Ahmad al-Haddad, menyatakan bahwa sekian hadits yang menjelaskan Khawarij menegaskan, sesungguhnya *Ibn Abdil Wahhab dan pengikutnya termasuk Khawarij*. Ciri-ciri mereka dari Najd, dari arah Timur Kota Madinah dan mencukur rambut.

2. *Konsisten Mengikuti Ijma’*

*Asya’irah dan Maturidiyah* menggunakan *Al-Qur’an, Hadits, Ijma, Qiyas* sebagai *dalil-dalil  hukum*. Selain mereka pasti menolak salah satunya. Ini menunjukkkan keselamatan mereka sebab menggunakan seluruh dasar syariat tanpa menafikan salah satunya.

Sementara *Ibn Taimiyah* yang menjadi *rujukan* utama *Wahabi ‘Salafi’*, menurut penelitian Al-Hafizh Waliyuddin al-’Iraqi (762-826 H), *_melanggar ijma’ dalam sekitar 60 masalah, mayoritas di bidang akidah dan sebagian dalam bidang furu’_*. Bahkan merujuk Ibn Hajar al-Haitami (909-974 H) yang mengutip dari as-Subki dan ulama lainnya menyampaikan secara rinci, di antara pendapat Ibn Taimiyah di bidang akidah yang *menentang ijma’* adalah:

Allah menjadi tempat bagi sifat-sifat yang baru/hadits.Zat Allah tersusun.Alam bersifat qadim dengan macamnya.Para Nabi tidak ma’shum.

3. *Menjaga Kekompakan, Tidak Saling Mengafirkan dan Membid’ahkan*

Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat dalam ajarannya, dan tidak mengafirkan terhadap sesamanya. Kelompok-kelompok penentangnya pasti saling mengafirkan terhadap sesamanya.
..........................👇
baca lebih lengkap

https://aswajamuda.com/ahlussunnah-wal-jamaah-di-indonesia/

Kamis, 25 Oktober 2018

Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia

Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia

 Ahmad Muntaha AM


Pengertian Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dalam ranah bahasa Ahlussunnah wal Jama’ah terdiri dari tiga (3) kata yaitu: Ahlun, as-Sunnah dan al-Jama’ah. Sedangkan kata ahlun berarti keluarga, segolongan orang yang disatukan sebab kesamaan nasab, agama, pekerjaan dan penganut suatu mazhab;  kata as-Sunnah berarti jejak; dan 3) Jama’ah, yang berarti segolongan orang yang berkumpul.

Sedangkan dalam perspektif istilah perbandingan aliran-aliran adalah istilah bagi Umat Islam yang mengikuti ajaran salaf, yaitu berpedoman pada al-Qur’an, hadits dan atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, yang berbeda dengan sekte-sekte bid’ah.

Urgensi mengikuti Ahlussunnah wal Jama’ah berangkat dari petunjuk hadits perpecahan umat yang menegaskan, bahwa kelompok yang selamat dari neraka hanya Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana hadits-hadits berikut:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : اِفْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ؛ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ؛ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَاثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: اَلْجَمَاعَةُ. (رواه ابن ماجه)

“Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik  ia berkata:  “Rasulullah bersabda:“Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka; umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu golongan di surga; dan demi Zat yang diri Muhammad ada dalam kekuasaan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka.” (HR. Ibn Majah)

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى كَذَلِكَ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً. قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي. (رواه أبو داود والترمذي والحاكم وابن حبان  وصححوه)

“Umat Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, begitu pula umat Nasrani; dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan.” Para Sahabat bertanya: “Siapa golongan itu, wahai Rasululllah?” Beliau menjawab: “Yaitu golongan yang memedomani ajaran yang Aku dan para sahabatku pedomani.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Hibban dan dishahihkan oleh mereka)

Hadits di atas dan hadits-hadits semisalnya mengantarkan pada pemahaman, bahwa di tengah perpecahan umat Islam yang selamat hanya satu golongan, yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah yang konsisten memedomani ajaran yang dipedomani Rasulullah SAW dan para Sahabat.

Dalil (Argumentasi) Ahlussunnah wal Jama’ah

Lalu siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebenarnya? Kelompok manakah di antara berbagai kelompok umat Islam yang konsisten pada prinsip ma ana ‘alaihi wa ashabi, memedomani ajaran yang dipedomani Rasulullah  dan para Sahabatnya ? Apa argumentasinya? Karena setiap orang dan setiap kelompok dapat mengklaim sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam perjalanan sejarah umat Islam hanya dua golongan yang mengaku 
sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah:

Golongan mayoritas kaum Muslimin (jumhur al-muslimin) yang mengikuti mazhab al-Asy’ari (260-324 H/874-936 M) dan al-Maturidi (248-852 H/333 H/944 M).Kelompok minoritas yang mengikuti Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M) dan Muhammad bin Abdul Wahhab (1115-1206 H/1703-1792 M), yang sekarang dikenal dengan nama Wahabi dan “Salafi”.

Pertanyaannya, siapakah yang paling absah dianggap sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebenarnya? Siapakah yang paling konsisten memegang prinsip-prinsip Jama’ah? Atau secara lebih detail dapat diturunkan dalam beberapa pertanyaan berikut ini:

Siapa yang disebut sebagai aliran Jama’ah?Siapa yang konsisten memedonani atau mengikuti Ijma’?Siapa yang selalu menjaga kekompakan, tidak saling mengafirkan dan membid’ahkan?Siapa yang menjadi mayoritas umat Islam?

1. Disebut Sebagai Aliran Jama’ah

Merujuk penelitian Imam Abu al-Muzzhaffar al-Isfirayini (w. 471 H), sejak dulu seluruh orang awam dan tokoh aliran-aliran menyebut Asya’irah dan Maturidiyah dengan nama Ahlussunnah wal Jama’ah. Nama ini juga tidak bisa mencakup KHAWARIJ dan SYI’AH karena mereka tidak memegang konsep jamaah dan tidak mencakup MU’TAZILAH karena mereka menafikan Ijma’.

Sementara di sisi lain, banyak ulama lintas mazhab yang justru menilai Wahabi dan ‘Salafi’, sebagai Neo Khawarij, karena akidah takfirinya. Sekedar sebagi contoh berikut pernyataan para ulama:

Mazhab Hanbali

Syaikh Abdullah bin Shafwan al-Qadumi (1241-1330 H), menyatakan bahwa hadits-hadits tentang Khawarij seperti:

اَلْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ. (رواه أحمد. صحيح)

“Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”(HR. Ahmad. Shahih)

Diberlakukan oleh ulama terhadap mereka yang melawan Khalifah Ali dan kelompoknya, begitu pula Khawarij masa sekarang (Wahabi), sama dengan Khawarij masa lalu dalam sifat-sifat-nya.

Mazhab Hanafi

Ibn ‘Abidin (1238-1307 H/1823-1889 M) menyatakan, WAHABI termasuk KHAWARIJ karena, meyakini orang selain mereka adalah kafir/musyrik.

Mazhab Maliki

Syaikh Ahmad as-Shawi (1175-1241 H/1761-1825 M), menyatakan Kaum Khawarij adalah  mereka yang mendistori penafsiran al-Qur’an dan as-Sunnah. Karenanya mereka halalkan darah dan harta kaum Muslimin, mereka adalah satu golongan di tanah Hijaz yang bernama Wahabi.

Mazhab Syafi’i

Al-Habib Alawi bin Ahmad al-Haddad, menyatakan bahwa sekian hadits yang menjelaskan Khawarij menegaskan, sesungguhnya Ibn Abdil Wahhab dan pengikutnya termasuk Khawarij. Ciri-ciri mereka dari Najd, dari arah Timur Kota Madinah dan mencukur rambut.

2. Konsisten Mengikuti Ijma’

Asya’irah dan Maturidiyah menggunakan Al-Qur’an, Hadits, Ijma, Qiyas sebagai dalil-dalil  hukum. Selain mereka pasti menolak salah satunya. Ini menunjukkkan keselamatan mereka sebab menggunakan seluruh dasar syariat tanpa menafikan salah satunya.

Sementara Ibn Taimiyah yang menjadi rujukan utama Wahabi ‘Salafi’, menurut penelitian Al-Hafizh Waliyuddin al-’Iraqi (762-826 H), melanggar ijma’ dalam sekitar 60 masalah, mayoritas di bidang akidah dan sebagian dalam bidang furu’. Bahkan merujuk Ibn Hajar al-Haitami (909-974 H) yang mengutip dari as-Subki dan ulama lainnya menyampaikan secara rinci, di antara pendapat Ibn Taimiyah di bidang akidah yang menentang ijma’ adalah:

Allah menjadi tempat bagi sifat-sifat yang baru/hadits.Zat Allah tersusun.Alam bersifat qadim dengan macamnya.Para Nabi tidak ma’shum.

3. Menjaga Kekompakan, Tidak Saling Mengafirkan dan Membid’ahkan

Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat dalam ajarannya, dan tidak mengafirkan terhadap sesamanya. Kelompok-kelompok penentangnya pasti saling mengafirkan terhadap sesamanya.

Sedangkan di kalangan Wahabi telah terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan mengafirkan. Sebagaimana Dr. Abdul Muhsin al-Abbad al-Badar, ulama Wahabi Madinah sampai menulis buku berjudul Rifqan Ahl as-Sunnah bi Ahl as-Sunnah (Rekonsiliasi Ahlussunnah dengan Ahlussunnah), karena sesama Wahhabi telah terjadi tafarruq (perpecahan), ikhtilaf (perselisihan), tabdi’ (saling membid’ahkan), tahajur (saling tidak bertegur sapa), taqathu’ (saling memutus hubungan) dan semisalnya.

4. Menjadi Mayoritas Umat Islam

Mazhab Asy’ari dan yang menyamainya merupakan mazhab yang dipedomani mayoritas umat Islam dan mayoritas ulama karena merupakan keberlangsungan alamiah dari ajaran Nabi , para Sahabat , Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, sebagaimana dijelaskan ulama. Ulamanya menjadi tokoh dalam berbagai ilmu syariat.

Sementara Wahabi ‘Salafi’ selain menjadi minoritas sejak lahirnya hingga sekarang, juga mendapatkan pertentangan dari ulama Islam di berbagai penjuru dunia.

">Komparasi Konsistensi Asy’ariyah-Maturidiyah Vs. Wahabi/Salafi dalam Memedomani Prinsip-Prinsip Ahlussunah wal Jama’ah

Kelahiran Ahlussunnah wal Jama’ah

Kapan Ahlussunnah wal Jama’ah lahir? Pertanyaan ini tidak akan terjawab kecuali dengan jawaban bahwa secara substansial Ahlussunnah wal Jama’ah bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri. Sebagaimana telah diterangkan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan keberlangsungan alamiah dari ajaran Nabi , para Sahabat , Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, sebagaimana dijelaskan ulama. Seperti  penjelasan Tajuddin bin Ali as-Subki (727-771 H/1327-1370 M) dan Muhammad Zahid al-Kautsari (1296-1371 H/1879-1952 M) secara berurutan berikut ini:

اِعْلَمْ أَنَّ أَبَا الْحَسَنِ لَمْ يُبْدِعْ رَأْيًا وَلَمْ يُنْشِ مَذْهَبًا. وَإِنَّمَا هُوَ مُقَرِّرٌ لِمَذَاهِبِ السَّلَفِ مُنَاضِلٌ عَمَّا كَانَتْ عَلَيْهِ صَحَابَةُ رَسُولِ اللهِ . فَالْاِنْتِسَابُ إِلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُ عَقَدَ عَلَى طَرِيقِ السَّلَفِ نِطَاقًا وَتَمَسَّكَ بِهِ وَأَقَامَ الْحُجَّجَ وَالْبَرَاهِينِ عَلَيْهِ، فَصَارَ الْمُقْتَدِى بِهِ فِي ذَلِكَ السَّالِكُ سَبِيلَهُ فِي الدَّلَائِلِ يُسَمَّى أَشْعَرِيًّا.

“Ketahuilah, sungguh Abu al-Hasan al-Asy’ari tidak menyampaikan pendapat baru dan membuat mazhab. Beliau hanya menetapkan pendapat-pendapat ulama Salaf dan membela akidah yang dipedomani para Sahabat Rasulullah , maka penisbatan kepadanya hanyalah karena mempertimbangkan beliau berperan mengokohkan kajiannya, memedomaninya, dan menetapkan hujjah dan argumentasinya, sehingga orang yang mengikutinya dan menempuh metodenya dalam dalil-dalil akidah disebut Asy’ari (orang yang bermazhab Asya’ri).”

وَإِمَامُ الْهُدَى أَبُو مَنْصُورِ الْمَاتُرِيدِيُّ  وَعَنْ سَائِرِ الْأَئِمَّةِ بَنَى تَوْضِيحَ الدَّلَائِلِ عَلَى تِلْكَ الرَّسَائِلِ كَمَا جَرَى عَلَى ذَلِكَ الْإِمَامُ الْمُجْتَهِدِ أَبُو جَعْفَرِ الطَّحَاوِيُّ فِي كِتَابِ  بَيَانِ الاعْتِقَادِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ  عَلَى مَذْهَبِ فُقَهَاءِ الْمِلَّةِ: أَبِي حَنِيفَةَ وَ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ  الْمَعْرُوفُ بِعَقِيدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ.

“Imam al-Huda Abu Manshur al-Maturidi—radhiyallahu ‘anhu wa ‘an sairil aimmah—membangun penjelasan dalil-dalil akidah berdasarkan risalah-risalah karya Abu Hanifah tersebut, seperti halnya yang dilakukan Imam Abu Ja’far at-Thahawi dalam kitabnya Bayan al-I’tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah ‘ala Mazhab Fuqaha al-Millah, Abi Hanifah wa Abi Yusuf wa Muhammad bin al-Hasan  yang terkenal dengan judul ‘Aqidah at-Thahawiyyah.”

Dari keterangan ini menjadi jelas, akidah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan akidah Islam sendiri yang diwarisi dari Rasulullah , para Sahabat , dan ulama penerusnya.

">Struktur Geneologi (Sanad Keilmuan) Asy’ariyah-Maturidiyah

Perkembangan Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia dan Peran Ulama dalam Menyebarkannya

Jauh sebelum Indonesia merdeka Ahlussunnah wal Jama’ah sudah mengakar kuat di bumi Nusantara, sebagaimana direkam oleh Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU):

قَدْ كَانَ مُسْلِمُو الْأَقْطَارِ الْجَاوِيَّةِ فِي الزَّمَانِ الْخَالِيَةِ مُتَّفِقِي الْآرَاءِ وَالْمَذْهَبِ، وَمُتَّحِدِ الْمَأْخَذِ وَالْمَشْرَبِ. فَكُلُّهُمْ فِي الْفِقْهِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ النَّفِيسِ مَذْهَبِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيسَ، وَفِي أُصُولِ الدِّينِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ الْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيِّ، وَفِي التَّصَوُّفِ عَلىٰ الْمَذْهَبِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ وَالْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الشِاذِلِيِّ .

“Kaum muslimin di pulau Jawa (Nusantara) pada zaman dahulu sepakat pendapat dan mazhabnya, tunggal sumber ajaran agamanya. Semuanya dalam fikih mengikuti mazhab yang sangat indah yaitu mazhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafi, dalam ushul ad-din (akidah) mengikuti mazhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Abu al-Hasan as-Syadzili .”

Namun seiring perjalanan waktu muncul berbagai sekte seperti Wahabi, Syi’ah dan semisalnya. Dari sini para ulama semakin giat mendakwahkan, mensyiarkan dan melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dengan berbagai cara. Di antaranya dengan mengcounter pemahaman-pemahaman yang menyimpang dengan berbagai karya tulis, seperti Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya KH. M. Hasyim al-Asy’ari,Syarh Kawakib al-Lama’ah karya KH. Abu Fadhal  Senori Tuban dan semisalnya hingga sekarang. Selain itu, yang juga tidak kalah manfaatnya adalah kekompakan para ulama Nusantara untuk bersatu padu merapatkan barisan perjuangan dengan mengistitusionalisasikan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam organisasi modern, NU.

Melalui NU inilah medan perjuangan para ulama Nusantara semakin luas tidak hanya di bidang agama, akan tetapi dalam semua aspek kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara. Bahkan tidak hanya dalam skala nasional, namun dalam skala lebih luas di dunia internasional, seperti keberhasilan komite Hijaz NU dalam mempertahankan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di Masjidil Haram merespon berbagai kebijakan Arab Saudi yang hendak menghapusnya, dimana jasa besar ini diakui dunia Islam hingga kini.

Prinsip Fundamental Ahlussunnah wal Jama’ah

Moderasi Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai keberlangsungan alamiah agama Islam tercermin dalam prinsip-prinsip fundamentalnya, yaitu: tawassuth (moderat) dan i’tidal (adil), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan amar ma’ruf nahi munkar.

Prinsip fundamental moderasi Ahlusunnah wal Jama’ah inilah yang kemudian oleh para Kiai NU diterjemahkan secara lugas dalam Sikap Kemasyarakatan NU yang menjadi bagian keputusan Muktamar NU ke-27 di Situbondo, No. 02/MNU-27/1984 tentang Khitthah NU sebagaimana berikut:

Sikap Tawassuth dan I’tidal

Sikap tengah yang berintikan pada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrim).

Sikap Tasamuh

Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.

Sikap Tawazun

Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik, berguna, dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Prinsip fundamental Ahlussunnah wal Jama’ah dan Sikap Kemasyarakatan NU ini selaras dengan ayat dan hadits:

 وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا. (البقرة : 143)

 “Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (Umat Islam), umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu.” (QS. al-Baqarah: 143)

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا. (الإسراء: 29)

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. al-Isra’: 29)

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (الإسراء: 110)

 “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. al-Isra’: 110)

خَيْرُ اْلأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا. (رواه البيهقي)

“Sebaik-baik persoalan adalah sikap-sikap moderat.”  (HR. al-Baihaqi)

 وَخَيْرُ اْلأَعْمَالِ أَوْسَطُهَا وَدِيْنُ اللهِ بَيْنَ الْقَاسِي وَالْغَالِي. (رواه البيهقي)

“Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah berada di antara yang beku dan yang mendidih.”(HR. al-Baihaqi)

Judul Asli: Mengenal Ahlussunnah Wal Jama’ah di Indonesia

Referensi:

Kitab al-Maqallat, 210.Risalah Ahlussunnah, 5.Mausu’ah Kasyf Ishtilahat, 570.Hammad Sinan dan Fauzi al-‘Anjari, Ahlussnnah al-Asya’irah, 80.Hadits-hadits seperti inilah yang semestinya dijadikan pedoman, yang dishahihkan oleh banyak ulama dan di riwayatkan dari banyak sahabat, yaitu dari Ali bin Abi Thalib, Sa’d bin Abi Waqqash, Ibn Umar, Abu ad-Darda’, Mu’awiyah, Ibn ‘Abbas, Jabir, Abu Umamah, Watsilah, ‘Auf bin Malik dan ‘Umar bin ‘Auf al-Muzani, bukan hadits yang bertentangan dengannnya. Baca, Muhammad Ja’far al-Kattani, Nazhm al-Mutanatsir, 47:

وَفِي شَرْحِ عَقِيْدَةِ السَفَارِيْنِي مَا نَصَّهُ: وَأَمَّا الحَدِيْثُ الَّذِي أَخْبَرَ النَّبِي : أَنَّ أُمَّتَهُ سَتَفْتَرِقُ إِلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فُرْقَةً وَاحِدَةُ فِي الجَنَّةِ وَاثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، فَرُوِيَ مِنْ حَدِيْثِ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طاَلِبِ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَاصٍ وَاِبْنِ عُمَرَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ وَمُعَاوِيَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرِ وَأَبِي أُمَامَةَ وَوَاثِلَةَ وَعَوْفِ بْنِ مَالِكِ وَعَمْرِو بْنِ عَوْفِ المُزَنِيِّ. فَكُلُّ هَؤُلاَءِ قَالُوا: وَاحِدَةٌ فِي الجَنَّةِ وَهِيَ الجَمَاعَةُ. وَلَفْظُ حَدِيْثِ مُعَاوِيَةَ مَا تَقَدَّمَ. فَهُوَ الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يَعُولَ عَلَيهِ دُونَ الحَدِيْثِ المَكْذُوبِ عَلَى النَّبِي  اهـ.

“Dalam Syarh ‘Aqidah as-Safarini ada penjelasan: “Adapun hadits yang beritakan Nabi  bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka, maka diriwayatkan dari hadits Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibn Umar, Abu al-Darda’, Mu’awiyah, Ibn Abbas, Jabir, Abu Umamah, Watsilah, ‘Auf bin Malik, Amar bin Auf al-Muzai”.  Mereka seluruhnya mengatakan: “Satu golongan berada di surga, yaitu al-Jama’ah.” Lafal hadits riwayat Mu’awiyah adalah redaksi yang telah disebutkan. Hadits itulah yang semestinya dijadikan pegangan, bukan hadits yang didustakan atas Nabi .”

Abu al-Muzzhaffar al-Isfirayini, at-Tabshir fi ad-Din, 185-186.Abdullah bin Shafwan al-Qadumi, ar-Rihlah al-Hijaziyah, 117Ibn ‘Abidin, Radd al-Muhtar, VI/413.Ahmad as-Shawi, Hasyiyyah as-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, III/307.Alawi bin Ahmad al-Haddad, Misbah al-Anam wa Jala’ az-Zhalam, 5.Al-Isfirayini, at-Tabshir fi ad-Din, 185-186.Waliyuddin al-’Iraqi, al-Ajwibah al-Mardhiyyah, 91-95.Ibn Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, 116.Al-Isfirayini, at-Tabshir fi ad-Din, 186.Sinan dan al-‘Anjari, Ahlussnnah al-Asya’irah, 248.As-Subki, Thabaqat as-Syafi’iyyah al-Kubra, III/365.Muhammad Zahid al-Kautsari, al-‘Aqidah wa ‘Ilm al-Kalam (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1425 H/2004 M), 564.Risalah karya Abu Hanifah yang dimaksud yaitu: (a) Al-Alim wa al-Muta’allim riwayat Abu Hafsh bin Salim as-Samarqandi, (b) ar-Risalah Ila ‘Alim al-Bashrah ‘Utsman bin Muslim al-Batti riwayat Abu Yusuf, (c) al-Fiqh al-Akbar yang terkenal dengan al-Fiqh al-Ausath riwayat Abu Muti’, (d) al-Fiqh al-Akbar riwayat Hammad bin Abi Hanifah, dan (e) al-Washiyyah riwayat Abu Yusuf. Hal ini juga dijelaskan oleh al-Qadhi Kamaluddin Ahmad al-Bayadhi al-Hanafi yang menyebut Abu Manshur al-Maturidi sebagai Mufasshil li Madzhab al-Imam (yang menjelaskan secara terperinci pendapat Imam Abu Hanifah). Baca, Ahmad al-Bayadhi, Isyarat al-Maram min ‘Ibarat al-Imam, (Karachi: Zamzam Publisher, 1425 H/2004 M), h. 23.Abdul Muchith Muzadi, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran; Refleksi 65 Th. Ikut NU (Surabaya: Khalista, 2007), cet. IV, 25-26.Khashaish Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah dalam Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama Ke-XXXIII di Jombang 7-11 Rabi’ul Akhir 1431 H/ 1-6 Agustus 2015 M tentang: Masail al-Diniyyah al-Madhu’iyyah.

Ilustrasi: santrial-luqmaniyyah

Categories: AkidahFiqihKebangsaan

Tags: AswajaIndonesia

Aswaja Muda

Powered by WordPress

Back to top

Siapakah Ahlussunnah wal Jama'ah?


Siapakah Ahlussunnah wal Jama'ah?

Mahbib, NU Online | Sabtu, 03 September 2016 09:08

Oleh Maulana Syekh Ali Jum'ah

Ahlussunnah Wal Jamā'ah (Aswaja) membedakan antara teks wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah), penafsiran dan penerapannya, dalam upaya melakukan tahqīq manāth (memastikan kecocokan sebab hukum pada kejadian) dan takhrīj manāth (memahami sebab hukum). Metodologi inilah yang melahirkan Aswaja. 

Aswaja adalah mayoritas umat Islam sepanjang masa dan zaman, sehingga golongan lain menyebut mereka dengan sebutan: "Al-'Āmmah (orang-orang umum) atau Al-Jumhūr", karena lebih dari 90 persen umat Islam adalah Aswaja.

Mereka mentransmisikan teks wahyu dengan sangat baik, mereka menafsirkannya, menjabarkan yang mujmal (global), kemudian memanifestasikannya dalam kehidupan dunia ini, sehingga mereka memakmurkan bumi dan semua yang berada di atasnya. 

Aswaja adalah golongan yang menjadikan hadis Jibrīl yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahīh-nya, sebagai dalil pembagian pilar agama menjadi tiga: Iman, Islam dan Ihsān, untuk kemudian membagikan ilmu kepada tiga ilmu utama, yaitu: akidah, fiqih dan suluk. Setiap imam dari para imam Aswaja telah melaksanakan tugas sesuai bakat yang Allah berikan.

Mereka bukan hanya memahami teks wahyu saja, tapi mereka juga menekankan pentingnya memahami realitas kehidupan. Al-Qarāfī dalam kitab Tamyīz Al-Ahkām menjelaskan: Kita harus memahami realitas kehidupan kita. Karena jika kita mengambil hukum yang ada di dalam kitab-kitab dan serta-merta menerapkannya kepada realitas apapun, tanpa kita pastikan kesesuaian antara sebab hukum dan realitas kejadian, maka kita telah menyesatkan manusia. 

Disamping memahami teks wahyu dan memahami realitas, Aswaja juga menambahkan unsur penting ketiga, yaitu tata cara memanifestasikan atau menerapkan teks wahyu yang absolut kepada realitas kejadian yang bersifat relatif. Semua ini ditulis dengan jelas oleh mereka, dan ini juga yang dijalankan hingga saat ini. Segala puji hanya bagi Allah yang karena anugerah-Nya semua hal baik menjadi sempurna. 

Inilah yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompak radikal. Mereka tidak memahami teks wahyu. Mereka meyakini bahwa semua yang terlintas di benak mereka adalah kebenaran yang wajib mereka ikuti dengan patuh. Mereka tidak memahami realitas kehidupan. Mereka juga tidak memiliki metode dalam menerapkan teks wahyu pada tataran realitas. Karena itu mereka sesat dan menyesatkan, seperti yang imam Al-Qarāfī jelaskan. 

Aswaja tidak mengafirkan siapapun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam. Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram). 

Aswaja menerima perbedaan dan menjelaskan dalil-dalil setiap permasalahan, serta menerima kemajemukan dan keragaman dalam akidah, atau fiqih, atau tasawuf: 
(mengutip 3 bait dari Al-Burdah):

"Para nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para nabi sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah Pencipta manusia."

Aswaja berada di jalan cahaya terang yang malamnya seterang siangnya, orang yang keluar dari jalan itu pasti celaka.
 
Aswaja menyerukan pada kebajikan, dan melarang kemungkaran. Mereka juga waspada dalam menjalankan agama, mereka tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan. 

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy'arī, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "...hingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, pamannya dan sepupunya.", Para sahabat tercengang: "Subhānallah, apakah saat itu mereka punya akal yang waras?" Rasulullah menjawab: "Tidak. Allah telah mencabut akal orang-orang yang hidup pada masa itu, sehingga mereka merasa benar, padahal mereka tidaklah dalam kebenaran."

Rasulullah juga bersabda: "Barangsiapa yang keluar dari barisan umatku, menikam (membunuh) orang saleh dan orang jahatnya, ia tidak peduli pada orang mukmin juga tidak menghormati orang yang melakukan perjanjian damai (ahlu dzimmah), sungguh dia bukanlah bagian dari saya, dan saya bukanlah bagian dari dia."

Aswaja memahami syariat dari awalnya. Mereka memahami "Bismillāhirrahmānirrahīm" (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah Menyebutkan dua nama-Nya, yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah tidak mengatakan: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Membalas dan Maha Kuat". Justru Allah menyampaikan pesan keindahan dalam keindahan (melalui Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm). Allah tidak mengenalkan diri-Nya dengan keagungan-Nya SWT.

Kami belajar "Bismillāhirrahmānirrahīm" di Al-Azhar. Para ulama Al-Azhar saat menafsirkannya menjelaskan dengan banyak ilmu. Mereka menjelaskan "Bismillāhirrahmānirrahīm" dari banyak perspektif ilmu: fiqih, mantiq (logika), akidah, suluk dan balaghah. Mereka sabar duduk menjelaskannya dengan begitu lama dan panjang, hingga kita menyangka bahwa penjelasan mereka tidak ada ujungnya. 

Kemudian, setelah musibah (teror golongan radikal) ini menimpa, kita baru memahami bahwa metode mengajar ulama Al-Azhar itu merupakan kebenaran. Mereka membangun piramida (ilmu kita) sesuai cara yang benar: membangun pondasi piramida dari bawah, hingga sampai pada ujung lancipnya yang berada di atas. Sementara kelompok radikal membalik cara membangun piramida (ilmu mereka, ujungnya di bawah, dan pondasinya di atas) hingga piramida itu runtuh mengenai kepala mereka sendiri. 

Aswaja tidak memungkiri peran akal, bahkan mereka mampu mensinergikan akal dan teks wahyu, serta mampu hidup damai bersama golongan lain. Aswaja tidak pernah membuat opini umum palsu (memprovokasi). Mereka tidak pernah bertabrakan (melakukan kekerasan) dengan siapapun di jagad raya. Aswaja justru membuka hati dan jiwa mereka untuk semua orang, hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. 

Para ulama Aswaja telah melaksanakan apa yang harus mereka lakukan pada zaman mereka. Karena itu kita juga harus melaksanakan kewajiban kita di zaman ini dengan baik. Kita wajib memahami teks wahyu, memahami realitas dan mempelajari metode penerapan teks wahyu pada realitas. 

Aswaja memperhatikan dengan cermat 4 faktor perubahan, yaitu: waktu, tempat, individu dan keadaan. Al-Qarāfī menulis kitab luar biasa yang bernama Al-Furūq untuk membangun naluri ilmiah (malakah) hingga kita mampu melihat perbedaan detail. 
Awal yang benar akan mengantar pada akhir yang benar juga. Karena itu, barangsiapa yang mempelajari alfabet ilmu (pondasi awal ilmu) dengan salah, maka ia akan membaca dengan salah juga, lalu memahami dengan salah, kemudian menerapkan dengan salah, hingga ia menghalangi manusia dari jalan Allah tanpa ia sadari. Inilah yang terjadi (dan yang membedakan) antara orang yang belajar ilmu bermanfaat, terutama Al-Azhar sebagai pemimpin lembaga-lembaga keilmuan, dan antara orang yang mengikuti hawa nafsunya, merusak dunia dan menjelekkan citra Islam serta kaum muslimin. 

Pesan saya kepada umat Islam dan dunia luar: Ketahuilah bahwa Al-Azhar adalah pembina Aswaja. Sungguh oknum-oknum (yang membencinya) telah menyebar kabar keji, dusta dan palsu bahwa Al-Azhar telah mengalami penetrasi (dan lumpuh). Mereka ingin membuat umat manusia meragukan Al-Azhar sebagai otoritas yang terpercaya, hingga mereka tidak mau kembali lagi kepada Al-Azhar sebagai tempat rujukan dan perlindungan.

Al-Azhar tetap berdiri dengan pertolongan Allah SWT, dibawah pimpinan grand syaikhnya. Setiap hari Al-Azhar berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan mulianya, juga membuka mata seluruh dunia, menyelamatkan mereka dari musibah (radikalisme) yang menimpa. 
Al-Azhar tidak disusupi dan tak akan lumpuh selamanya hingga hari akhir, karena Allah Yang membangunnya dan melindunginya. Allah juga Yang mentakdirkan orang-orang pilihan-Nya untuk mejalankan manhaj Aswaja di Al-Azhar, meski orang fasik tidak menyukainya. 

Doakanlah untuk kami, semoga Allah memberi kami tuntunan taufīq agar kami bisa melakukan hal yang dicintai dan diridhoi-Nya.
 
Doakan agar kami mampu menyebar luaskan agama yang benar ini, dengan pemahaman dan praktek yang benar juga, dan semoga kami mampu menjelaskan jalan yang penuh cahaya ini kepada umat manusia, sesuai ajaran Rasulullah. 

Doakan kami semoga Allah membimbing kita semua -di muktamar ini, dan pasca muktamar- semoga muktamar ini bisa menjadi awal perbaikan citra Islam di kalangan korban Islamophobia, baik muslim maupun non-muslim.

*) Tulisan ini disampaikan pada sambutan pembukaan Muktamar Ahlussunnah wal-Jama'ah di Chechnya, 25 Agustus 2016. Dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU

Baca Juga

Ini Pesan Ulama Yaman di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Tidak Semua Aliran Islam Mengaku Ahlussunnah Wal Jamaah

Tradisi Aswaja Wajib Dipertahankan Sampai Kapanpun

Bentengi Wahabi, Santri Astanajapura Bangkitkan Forum Al-Musyawirin

Buku "Meluruskan Dakwah MTA" Dicetak Ulang

  

KONTAK

Nahdlatul Ulama
Jl. Kramat Raya 164, Jakarta 46133 - Indonesia, redaksi[at]nu.or.id

© 2016 NU Online. All rights reserved. Nahdlatul Ulama